
Tiga tahun kemudian, kini Anisa telah menjadi malaikat kecil yang tidak bisa diam. Ia memiliki sifat cerewet dan cukup keras kepala seperti ibunya, bahkan wajah cantik itu begitu mirip dengan Zahira yang membuat Pras semakin rindu.
Sebagai pria yang masih muda tentu ia butuh seseorang untuk memenuhi hidupnya, namun karena jarak akhirnya yang bisa ia lakukan hanya bersabar.
Ia akan selalu mengalihkan pada pekerjaan merawat Anisa, kadang juga dengan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Seperti yang ia lakukan pada saat ini, meski sekedar ngopi dan mengobrol tapi setidaknya ada yang mengalihkan pikirannya dari Zahira yang jauh.
"Eh ini sudah terlalu sore, gue balik duluan ya?" ujar salah satu teman Pras berpamitan.
"Cepet amat sih lu balik? ada apaan emangnya dirumah?" tanya Pras yang masih betah mengobrol.
"Istrilah....kalau gue gak balik cepet nanti gue disuruh tidur diluar lagi," sahutnya.
Pras hanya tertawa kosong, ia mengerti bahwa teman-temannya tak bisa terus menemaninya sebab memiliki keluarga sendiri. Akhirnya perkumpulan ayah muda itu bubar, pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan Pras.
Ia keluar paling belakangan, sambil menyulut sebatang rokok untuk menetralkan rasa asam pada hidupnya.
Meski hari menjelang malam tapi langit masih begitu cerah, sangat disayangkan jika ia harus pulang dan melihat putrinya anteng main sendiri.
Pras mulai melirik kiri-kanan, mencari sesuatu yang menarik namun semuanya begitu membosankan. Sampai ia mulai melangkahkan kaki menuju parkiran, barulah sesuatu menarik perhatiannya.
Seorang gadis muda yang nampak modis terlihat berjalan dengan tergesa-gesa menuju sebuah mobil, dibelakangnya seorang pemuda memanggil-manggil tanpa dihiraukan.
Dari raut wajahnya juga melihat situasi Pras menduga mereka adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar, hal lumrah yang bisa ia temukan dimana saja.
Tapi kemudian sesuatu terjadi dengan tak terduga, pria itu menarik tangan gadisnya dengan sangat kasar. Mendorongnya ke mobil yang membuatnya berteriak kesakitan, tak tahan Pras mengambil keputusan untuk menghentikan pertengkaran itu.
"Hei bro! apa yang kau lakukan? kau menyakitinya!" teriak Pras.
"Apa pedulimu? pergi sana!" balas pria itu dengan mata melotot.
Sungguh tindakan yang telah membuatnya naik pitam, perkelahian pun akhirnya tak dapat terelakkan.
Pukulan demi pukulan melayang begitu saja, sementara gadis itu menyingkir untuk menyelamatkan diri.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu dengan kemenangan dipihak Pras, meski ia mendapat beberapa luka lecet diwajah tapi itu tidaklah masalah.
"Mas! kamu gak apa-apa?" tanya gadis itu sedikit khawatir.
"Oh tidak apa-apa, ini hanya luka kecil saja. Bagaimana denganmu? aku lihat dia mendorong mu cukup keras," tanya balik Pras.
Gadis itu menggeleng pelan, ia mengucapkan terimakasih atas bantuan yang Pras berikan dan sebagai imbalannya ia menawarkan pengobatan dirumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh. Awalnya Pras menolak, tapi karena ia dipaksa terus akhirnya ia pun setuju.
"Silahkan masuk," ujarnya saat mereka tiba.
Sementara Pras dipersilahkan menunggu di ruang tamu gadis itu pergi mengambil obat, dengan telaten ia juga mengobati luka di wajah Pras itu.
"Terimakasih, ini sudah cukup. Luka kecil seperti ini pasti akan cepat sembuh," ujar Pras.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih. Jika kamu tidak menolong ku mungkin dia akan berbuat lebih jauh lagi," sahut gadis itu.
"Bagaimana bisa kau berpacaran dengan pria seperti itu? bukannya aku mau ikut campur pada kehidupan pribadimu tapi sebaiknya kau cari pria lain saja."
"Tenang saja, aku menyadarinya dan sudah memutuskan hubungan kami. Tapi dia tidak mau terima dan terus menggangguku," jawabnya.
"Oh sungguh? benar-benar pria gila, sebaiknya kau hati-hati."
"Kau bisa memanggilku Pras," sahutnya menjawab uluran tangan itu.
Karena hari yang semakin larut Pras akhirnya berpamitan pulang, ia tak bisa membiarkan Anisa tinggal lebih lama di rumah Dian untuk merepotkan neneknya itu.
* * *
Bucket bunga itu begitu indah dan nampak mahal, harumnya yang semerbak terlalu memabukkan baginya yang sedang dilanda asmara.
Tiga tahun lamanya ia pergi tanpa kata perpisahan yang pantas, kini ia akan datang dengan sebuah janji yang telah terpenuhi.
Memang dia belum sukses seperti yang dikatakan orang-orang, tapi setidaknya ia telah berhasil membeli sebuah rumah yang layak untuk ibunya.
Kini dengan pekerjaan yang ia miliki masa depannya akan cerah, karena itu kini ia telah memiliki kepantasan dan kesiapan untuk meminang bunganya.
__ADS_1
Degup jantungnya semakin keras terasa tatkala mobil yang ia tumpangi semakin dekat pada rumah tujuannya, lalu setelah persimpangan itu akhirnya ia sampai.
Dengan senyum gugup bibirnya mengucapkan "Bismillahirrahmanirrahim" sebelum tangannya membuka pintu mobil dan turun, disetiap langkahnya pun ada dzikir demi menekan kegugupan yang menggetarkan kakinya.
Hanya butuh beberapa langkah saja dan kini ia sudah sampai didepan pintu, kembali mengucapkan basmalah sebelum mengetuk pintu.
Butuh setidaknya tiga kali ketukan sampai seseorang membukanya, dan saat pintu itu tersingkap seorang wanita dengan kerudung putih menyambutnya tepat di balik pintu.
"Dimas.... " panggil Kiki setelah beberapa detik termenung karena kaget.
"MasyaAllah... begitu cantik bidadari yang telah lama ku tinggalkan," sahutnya terpana.
Tiba-tiba sebuah buliran air mata mengalir begitu saja di pipi Kiki, sementara kerinduan yang menusuk hatinya telah dicabut seketika.
"Kapan kau kembali?" tanya Kiki tersadar dari lamunannya.
"Baru saja, aku segera kemari karena ingin bertemu denganmu."
"Kenapa kau tidak mengabariku dulu?" tanya Kiki lagi.
"Aku ingin membuat kejutan untuk mu, tapi rupanya aku yang telah diberi kejutan," sahutnya masih kagum akan penampilan baru Kiki yang lebih menawan.
Kiki tersenyum tersipu malu, matanya tertunduk tanpa mampu berkata-kata. Itu membuat Dimas semakin senang rupanya, tanganya yang sejak tadi memegang bucket bunga akhirnya terulur untuk memberikan hadiah kecil itu.
Tapi tiba-tiba terdengar suara tangis seseorang, dengan cepat Kiki mengangkat kepalanya. Saat tangisan itu semakin keras terdengar Dimas sadar bahwa itu tangisan anak kecil, dengan penasaran Dimas hendak bertanya tapi wajah Kiki tiba-tiba terlihat pucat pasi.
"Kau tidak apa-apa? kenapa kau tiba-tiba terlihat gugup?" tanyanya.
Tapi Kiki tidak menjawab, ia semakin terlihat aneh yang membuat Dimas lebih penasaran akan apa yang terjadi pada Kiki. Ketika mata Dimas melirik jari manis Kiki yang telah tersemat sebuah cincin maka sebuah jawaban pahit muncul dalam benaknya.
"Ki....anak siapa yang sedang menangis itu?" tanyanya berharap apa yang ia pikirkan itu salah.
Air mata dipipi Kiki semakin deras mengalir, ribuan kata yang ia untai dalam benak tak mampu keluar sebab takut itu akan menyakiti Dimas.
Tapi tak ada gunanya juga untuk membisu, maka dengan penuh penyesalan ia menjawab, "Maafkan aku... aku harus menikahi orang lain dan itu adalah putraku."
__ADS_1
Sruk
Bucket bunga telah jatuh dari genggaman tangannya, begitu juga dengan harapan yang menjadi pondasi semangatnya.