Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 24 Kembali Membaik


__ADS_3

Rindu kepada Anisa akhirnya meluluhkan hati Pras, lama menenangkan diri di rumah orangtuanya memberi sedikit kebesaran hati hingga mau pulang ke rumah.


Sebagai istri yang baik Zahira menyambut kepulangan suaminya dengan senang, "Kamu sudah pulang mas, mau aku bikinin kopi?" tawarnya.


Pras mengangguk, sementara Zahira menyeduhkan kopi ia melepaskan kerinduannya dengan mengajak main Anisa.


Gelak tawa khas bayi itu memeriahkan suasana yang sempat hening seperti kuburan, bahkan wajah suntuk mereka seketika berubah menjadi ceria.


Dordordordordor


"Pras! keluar kau!" teriakan seseorang di luar.


Zahira yang kaget sekaligus takut hanya bisa saling pandang dengan Pras, keheranan akan ketukan pintu yang sangat kasar itu.


"Dek, cepat bawa Anisa ke kamar! jangan keluar sampai aku menyuruhmu untuk keluar!" ujar Pras sambil menyerahkan Anisa.


"Ta-tapi mas..." sahutnya hendak memprotes.


"Udah cepat! bawa Anisa masuk!" teriak Pras.


Mau tak mau Zahira menurut, membawa Anisa yang mulai menangis ke kamar dan mengunci pintu. Sambil mencoba menenangkan sang buah hati yang terus menangis ia mencoba mendengarkan suara-suara dari balik pintu itu, berharap tahu apa yang sedang terjadi.


Tapi yang ia dengar hanya sebuah teriakan tak jelas, lalu di susul dengan suara pukulan dan makian. Hal itu berlangsung beberapa menit yang terasa lama, setelah hening dan merasa aman ia baru keluar.


"Astaga.. mas Pras!" teriaknya melihat Pras terbujur kaku di depan pintu.


Dengan cepat ia menghampiri, melihat wajah Pras yang dipenuhi lebam dan luka di sana sini seketika hatinya hancur.


"Uh... dek..." rintihnya mencoba bangkit.

__ADS_1


"Ya ampun mas... tega sekali mereka melakukan ini padamu," ujar Zahira dengan pipi yang mulai basah.


Inilah resiko yang harus mereka terima saat berurusan dengan lintah darat, ini hanya sebuah peringatan kecil yang menyadarkan Zahira untuk segera mengambil tindakan.


Pada akhirnya ia menerima tawaran Kiki, di pinjamnya beberapa jumlah uang yang cukup besar untuk menutupi bunga. Awalnya Pras enggan menerima uang itu, bahkan ia marah saat mengetahui asal usul uang itu.


Ia merasa Zahira telah mempermalukan martabatnya sebagai seorang pria dan suami, tapi Zahira lebih keras darinya. Dalam situasi seperti ini tidak ada gunanya untuk merasa malu, keselamatan keluarganya jauh lebih penting.


Pras akhirnya mengalah, ia menerima uang itu untuk membayar bunga kecilnya. Tentu saja itu tidaklah cukup, mereka butuh uang lebih untuk keperluan sehari-hari selain membayar hutang.


Setelah banyak berdiskusi akhirnya di putuskan bahwa Zahira akan mencari pekerjaan juga, berkat Kiki ia menerima sebuah tawaran pekerjaan sebagai babysitter.


Meski bayarannya tak sebesar yang diharapkan tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali, setiap hari dia akan pergi pagi sekali sementara Anisa akan di asuh oleh Pras.


Petang hari saat majikannya pulang bekerja barulah ia di perbolehkan untuk pulang, beruntung Pras tipe suami yang belajar sehingga ia hanya perlu menyiapkan semua kebutuhan Anisa sementara Pras yang melakukannya.


Untuk ASI setiap pagi Zahira perlu memompanya sebelum berangkat kerja, itu dilakukan karena harga susu untuk bayi sangatlah mahal lagipula ASI yang dia miliki terhitung melimpah.


"Mas udah bikin nasi goreng buat kamu sarapan, jangan lupa untuk makan dulu sebelum kamu pergi," ujarnya.


Zahira cukup kaget mendengarnya, ia tak menyangka perhatian Pras akan begitu membuatnya terharu. Setidaknya ditengah musibah yang sedang melanda Pras tetap menjadi sosok pria yang ia cintai, segala kebaikannya tidak berubah sehingga langkahnya untuk mencari uang semakin giat.


Beruntung anak yang ia asuh termasuk anak yang baik, tidak rewel dan penurut untuk ukuran anak usia empat tahun. Yang cukup melelahkan hanyalah saat menemaninya bermain, atau saat sulit mengajaknya tidur siang.


Semua kesulitan itu membuatnya lupa waktu hingga tanpa terasa hari sudah sore, mbak Rara seorang asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama dirumah itu memberitahunya.


"Kamu sudah boleh pulang, nyonya dalam perjalanan pulang kerumah."


"Oh iya mbak, saya boleh ijin ke toilet sebentar?" tanyanya.

__ADS_1


Mbak Rara mengangguk, menunjukkan kamar mandi khusus untuk bawahan yang tempatnya berada disamping dapur. Sebab sudah tak tahan Zahira segera menuntaskan hajatnya, tak betah dengan badan yang lengket ia juga berniat segera pulang.


Tapi langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat mbak Rara tengah menyortir makanan, melihatnya begitu sibuk dengan iseng ia bertanya, "Ngapain mbak?"


"Eh ini! makanan tadi pagi gak abis jadi mau saya buang,"


"Lho ko dibuang? kan itu masih baru mbak!"


"Nyonya gak suka, dia maunya makanan yang baru di masak terus,"


"Tapi kan sayang mbak..semuanya masih enak dan gak basi juga," ujarnya.


"Yah mau gimana lagi? gak ada yang makan, nanti juga basi dan harus di buang!"


"Um... gimana kalau kasih ke saya aja?" tanya Zahira sedikit ragu sebab takut tak akan di ijinkan.


"Kamu mau?" tanya mbak Rara.


"Kalau tidak jadi masalah saya sih mau!"


"Ya sudah kamu tunggu sebentar ya! biar mbak bungkusin dulu."


Zahira mengangguk dengan antusias, meluangkan beberapa menit demi membawa pulang makanan yang cukup mewah baginya.


Selesai dibungkus tak lupa ia mengucapkan terimakasih sebelum membawa pulang semua makanan itu, dirumah Pras yang sudah menunggu sejak tadi begitu senang melihat Zahira membawa banyak sekali makanan.


Ia bercerita itu adalah makanan pemberian majikannya, sebab jika tahu bahwa itu adalah makanan sisa maka Pras akan mengoceh tentang harga dirinya.


Mulai sejak itu Zahira selalu membawa pulang makanan, bahkan terkadang mbak Rere memberinya pakaian bekas majikannya yang sudah tak terpakai tapi masih bagus.

__ADS_1


Zahira memanfaatkan pakaian itu untuk ia jual ke pasar tradisional, dimana harganya cukup mahal sehingga menguntungkannya.


Hari demi hari akhirnya ada perubahan signifikansi dalam perekonomian keluarganya, meski kini dirinyalah yang harus bekerja keras diluar sementara Pras mengurus anak di rumah.


__ADS_2