
Memiliki anak yang sudah sekolah merupakan ujian tersendiri, banyak kebutuhan dan waktu yang harus dipenuhi si kecil. Nisa yang dalam fase ini terkadang dibuat stres dengan berbagai kebutuhan anaknya, beruntung ia memiliki adik yang selalu siap diandalkan.
Pekan nanti ia harus siap uang untuk biaya les anaknya yang belum dibayar, sementara gaji suaminya sudah habis untuk kebutuhan lainnya.
Satu-satunya harapan hanyalah Pras, kebetulan menjemput anaknya pulang sekolah ia memutuskan akan sekalian pergi ke kantor Pras.
Tapi setelah sampai disana rupanya Pras tidak masuk, itu cukup aneh sebab ia tahu Anisa telah dititipkan kepada Dian yang artinya harusnya Pras pergi bekerja.
Saat ia mencoba menghubungi pun ponsel Pras tidak aktif, meski heran tapi ia memutuskan untuk pulang saja. Sebagai ibu rumah tangga banyak pekerjaan yang sudah menantinya di rumah, tapi dalam perjalanan pulang tiba-tiba anaknya berseru.
"Bu! bukannya itu om Pras?."
"Mana sayang?" tanyanya sambil melongo dari dalam mobil.
Rupanya itu memang Pras, sedang berjalan menyebrang sambil menggandeng tangan Ayu. Itu adalah pemandangan yang cukup janggal, tentu karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih.
Tiiiiiitttt
Klakson dari belakang menyadarkannya bahwa lampu hijau telah menyala, terjebak dalam kondisi ditengah jalan ia tak memiliki pilihan selain melanjutkan perjalanan.
Setibanya dirumah ia mencoba menghubungi Pras kembali, tapi ponselnya masih tak aktif sehingga ia pun memutuskan untuk pergi kerumahnya.
Dian yang sejak pagi sudah ada disana sebab Anisa tidak mau dibawa pergi menyambut kedatangannya, bersikap layaknya tuan rumah ia menyuguhkan minuman untuk Nisa.
"Pras belum pulang mah?" tanyanya.
"Belum, kan biasa juga pulang nanti sore. Emang kenapa?" sahutnya.
"Ah enggak, aku cuma ada urusan sama dia."
"Oh.. kamu tunggu aja, paling sebentar lagi juga pulang."
Tapi ternyata Pras baru pulang malam hari tak seperti yang Dian katakan, dengan kondisi lelah layaknya orang yang pulang bekerja.
"Kak, kau disini?" tanya Pras.
__ADS_1
"Ya, aku menunggu mu dari tadi. Ada yang ingin ku bicarakan tapi lain waktu saja, kau terlihat sangat lelah."
"Tidak apa-apa, katakan saja!" ujar Pras penuh perhatian seperti biasa.
"Kakak lagi butuh uang buat bayar les, mungkin kamu bisa bantu. Tapi kalau sekiranya gak ada juga gak apa-apa."
"Aku kira apa, kalau uang sih ada. Nanti aku transfer ya!" sahut Pras.
"Makasih dek, ngomong-ngomong kamu dari mana?" tanya Nisa.
"Ya dari tempat kerja, emang kenapa ka?"
"Oh enggak, soalnya tadi kakk telpon nomor kamu gak aktif"
"Oh itu! tadi aku kehabisan batre, sampe sekarang lupa belum aku cas" sahutnya.
Nisa hanya mengangguk, tapi diam-diam memperhatikan gelagat Pras. Bahkan saat Pras melepas dan menaruh kemejanya di atas kursi ia menemukan sehelai rambut panjang juga mencium sedikit aroma parfume wanita.
Mungkin ini hanya firasatnya saja, tapi firasat wanita selalu benar dan ia merasa telah terjadi sesuatu antara Pras dan Ayu.
Pihak kantor telah menyetujui mutasi yang ia ajukan, mulai saat ini Dimas akan tinggal dirumahnya dan bekerja di kota kelahirannya. Butuh keberanian rupanya untuk tinggal dirumah yang telah sepi itu, tanpa kehadiran ibunya kini ia benar-benar sebatang kara.
Untunglah setidaknya ia masih memiliki Fariz, pulang bekerja dengan sengaja ia membeli banyak makanan dan mainan untuk dibagikan ke anak-anak panti.
Ibu pengurus dan Fariz menyambut kedatangannya dengan penuh gembira, apalagi anak-anak yang dibawakan banyak mainan dan makanan.
"Makasih lho Dimas, kamu sudah bikin anak-anak senang hari ini!" ujar ibu pengurus panti.
"Sama-sama Bu, lagian ini bukan seberapa ko. Dimas juga kan pernah jadi pengurus, jika diijinkan Dimas masih mau bantu-bantu di sini."
"Dengan senang semua menerima kamu, anak-anak pun pasti senang jika ada kamu lagi."
"Iya bu," sahut Dimas sambil tersenyum.
Menapaki setiap jalan dirumah itu tiba-tiba mengingatkannya pada kenangan romantis dimana saat itu hatinya hanya milik Kiki, betapa meskipun dikantongnya hanya berjumlah tidak lebih dari ratusan ribu tapi hidupnya terasa sempurna tanpa kurang satu apa pun.
__ADS_1
Kini saat bahkan ia mengantongi kartu berisi puluhan juta tapi hidupnya tidak lebih dari keberuntungan, dalam hembusan angin pertanyaan timbul tentang mengapa wanita sebaik Kiki dapat berkhianat dengan mudah.
"Jangan melamun! nanti kesambet lho!" ujar Fariz menghampiri.
Dimas menoleh dan menemukan sahabatnya itu tersenyum sambil menyerahkan sekaleng soda, ia membalas dengan senyum pahit yang segera hilang diganti wajah datar.
"Menurut mu apa yang membuat wanita bisa berpaling dengan mudah? apakah itu jarak atau harta?" tanyanya tiba-tiba.
Sejenak Fariz terdiam, ia tahu mereka sedang membicarakan Kiki.
"Kurasa tidak keduanya."
Dimas menatap heran, sudah banyak wanita yang singgah dalam hidupnya dan sejauh ini yang ia tahu wanita mudah tergoda pada harta dan keindahan.
"Lantas?" tanyanya.
"Cinta, sekeras apa pun kau berfikir bahkan jika kau membuat penelitian tentang wanita maka seumur hidupmu tidak akan pernah cukup. Tidak ada yang bisa mengerti wanita bahkan wanita itu itu sendiri pun tak mampu, mereka hanya bertindak sesuai kata hati mereka. Dan satu-satunya alasan yang paling masuk akal atas pertanyaan mu hanya cinta."
"Tapi mengapa? jika cinta harusnya dia bertahan kan?" tanya Dimas semakin tak mengerti.
"Kenapa tidak kau tanya langsung?" balas Fariz.
Itu benar, seharusnya Dimas bertanya langsung alasan dibalik pengkhianatan itu. Tapi ia terlalu sakit hati hingga tak ada kata yang sanggup keluar selain luapan kepedihan.
"Hhhhhhh, bahkan wanita yang kucintai pun tidak mau meninggalkan pria yang membuatnya menderita. Bukankah itu tidak masuk akal? kenapa dia harus bertahan dalam kesengsaraan dan rela berkorban segalanya? memang tidak ada yang bisa mengerti jalan pikiran wanita," keluh Fariz sambil menghembuskan nafas.
Sebagai sahabat Dimas sedikit banyak tahu tentang wanita pujaan Fariz, dia adalah Zahira teman masa sekolahnya dahulu. Meski banyak waktu yang terbuang sampai sekarang hati Fariz masih kosong, sengaja hanya untuk di isi Zahira.
Ia tak tahu bagaimana perkembangan kisah cintanya, tapi melihat bagaimana Fariz saat ini semua orang pun akan segera tahu bahwa tak ada yang berubah.
"Menyedihkan! bukankah kita kumpulan pria yang menyedihkan?" tanya Dimas mengingat kisah cinta mereka yang tragis.
"Hahahaha kau benar!" sahut Fariz.
Untuk beberapa saat mereka menikmati masa itu dan tertawa dengan puas, sampai mata Dimas menangkap sosok pengkhianat cintanya. Tengah mengobrol dengan ibu pengasuh, Fariz yang juga melihat kemudian berkata "Kau memiliki banyak waktu untuk bertanya, tapi jika tidak pernah kau lakukan maka sampai kapanpun kau tidak akan pernah memiliki kesempatan."
__ADS_1