
Tengah hari yang terik adalah waktu yang cocok untung istirahat siang, dengan segelas es limun segar Zahira menempatkan diri di atas kursi sambil menonton acara televisi.
Begitu damai hingga membuatnya mengantuk, namun sebuah klakson membuatnya terjaga seketika.
Segera ia pergi ke depan untuk melihat kendaraan siapa yang baru masuk pekarangannya, begitu melihat Pras dengan cepat ia membuka pintu.
"Mas.. kamu udah pulang kerja? tumben... ini kan masih siang" tanyanya heran.
Pras tak menjawab, wajahnya yang di tekuk menandakan ada sesuatu yang tak beres.
"Mas ada apa?" tanyanya lagi begitu mereka telah masuk ke dalam rumah.
"Aku di PHK" ketus Pras.
"Apa? ko bisa mas?" tanya Zahira seakan ia mendengar bencana alam.
"Tiba-tiba ada berita tentang pengurangan karyawan, beberapa di panggil ke kantor termasuk aku dan di suruh tanda tangan. Aku cuma dapat beberapa juta doang dan gaji terakhir"
"Lalu... lalu sekarang gimana mas?"
Jelas ini menyangkut masa depan mereka, terlebih saat ini Zahira sedang mengandung besar. Dengan segala kebutuhan yang ada akan gawat jika Pras tidak segera mendapatkan pekerjaan baru.
"Mau bagaimana lagi? tapi kamu tenang aja, untuk biaya selama sebulan masih cukup"
"Hanya sebulan mas! gimana dengan bulan depan? usia kandungan ku udah nginjak delapan bulan"
"Ya kami tenang aja... mas pasti cari kerjaan baru ko!" ujar Pras dengan nada tinggi.
Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai rencana, beberapa minggu pengeluaran membengkak karena habis oleh biaya pencarian kerja.
__ADS_1
Setiap hari Pras pergi pagi dan pulang sore tanpa hasil, sementara persediaan mereka mulai menipis dan harus segera di isi mengingat satu minggu lagi juga telah berganti bulan.
"Mas.. bagaimana kalau kamu ambil tabungan yang ada di kak Nisa? setidaknya untuk bulan depan kebutuhan kita pasti terpenuhi, aku rasa uangnya cukup kan?" ujar Zahira pada satu malam.
Dengan kesal Pras mendengus, wajahnya nampak tidak senang akan saran itu.
"Kita gak bisa ngambil uang itu"
"Kenapa mas?" tanya Zahira heran.
"Uangnya udah di pake sama kak Nisa, mas udah minta berapa pun yang ada tapi uang itu benar-benar abis dan dia belum bisa ngembaliin"
"Apa?" gumam Zahira.
Ia tak menyangka di saat genting seperti ini tak ada satupun tali yang bisa mereka raih untuk pegangan, tentu ini membuat Zahira stres.
"Ini salah kamu mas! kenapa kamu malah taruh uang kamu di kak Nisa? sekarang lihat! harusnya uang itu bisa kita gunakan buat keperluan kita tapi malah gak ada" teriaknya dalam murka.
"Gak salah mas, tapi harusnya kamu pikirin nasib anak kita sendiri! kamu terus berbuat baik sama keluarga kamu tapi lupa sama keluarga sendiri, sekarang gimana? dari mana kamu mau dapat uang?"
"Aku pasti dapetin dek... kamu yang sabar kenapa sih?" pinta Pras mencoba untuk lembut.
"Sabar? berapa lama aku harus sabar? berapa kali aku harus sabar? kamu bilang kamu bakal tanggungjawab sama aku, bahagiain aku... tapi lihat? kita bahkan tinggal di rumah sewa yang sempit dengan motor butut kamu yang berisik!"
"Cukup....."
Waktu berhenti seketika, Pras tak bisa bergerak dengan tangannya yang melayang di udara. Sementara Zahira berdiri menantang dengan wajah merah dan pipi yang basah kuyup, mata mereka saling beradu dengan tajam hingga akhirnya Pras menarik kembali tangannya.
Zahira sudah tak mampu untuk menahannya lagi, ia memilih pergi ke kamar dan menangis sepuasnya hingga lelah dan terlelap.
__ADS_1
Tapi tidurnya tidaklah lelap, sakit di bagian perutnya terasa menyiksa hingga memaksamu untuk bangkit. Saat ia bangun kasurnya telah basah dengan darah, sontak hal itu membuatnya kaget.
"Mas..... mas.... " teriaknya panik.
Pras yang juga tertidur di sofa terbangun mendengar teriakan itu, dalam keadaan masih mengantuk ia bangun untuk memenuhi panggilan.
"Zahira!" serunya ketika melihat darah itu.
"Mas.... perut aku... " ujarnya dengan suara parau.
Tanpa menunda lagi Pras segera menghubungi ambulans, membawanya ke rumah sakit untuk memberikan pertolongan.
Sementara Zahira tak bisa berhenti menangis Pras hanya bisa mengantarnya sampai depan pintu sebab perawat melarangnya masuk, ini membuatnya tak bisa tenang apalagi melihat dokter yang baru di panggil untuk menangani istrinya.
Setelah penantian yang cukup panjang akhirnya dokter itu keluar, dengan cepat Pras pun menghampiri.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya? apa dia baik-baik saja?" tanyanya gusar.
"Alhamdulillah pak, ibu dan anaknya lahir dengan selamat. Bapak tidak perlu khawatir, sebentar lagi bapak bisa menemuinya"
"Anak? anak saya... sudah lahir?" tanya Pras memastikan.
"Iya Pak"
"Tapi... bagaimana bisa? usia kandungannya belum genap sembilan bulan"
"Ini bisa terjadi karena berbagai faktor, untuk kasus istri bapa saya baru bisa menyimpulkan karena pengaruh pikir yang stres. Terlalu banyak beban pikiran dan lelah secara fisik juga, tapi seperti yang saya bilang keduanya selamat" jelas sang Dokter.
Pras hanya bisa termangu, ia tak percaya dalam sebuah proses kehamilan dan kelahiran bisa terjadi sesuatu yang tak terduga.
__ADS_1
Bahkan hanya karena sebuah masalah kecil saja ia hampir kehilangan istri dan anaknya secara bersamaan.
Langkahnya yang gontai berjalan ke arah pintu, menatap dari balik kaca tubuh Zahira yang masih terkulai lemas namun dengan wajah yang cerah. Sementara seorang perawat yang baru selesai mengurus bayinya menyikap gorden dan membaringkan bayi itu tepat di samping Zahira, dari sana Pras bisa melihat wajah haru penuh kebahagiaan dari seorang ibu yang menyambut buah hatinya.