
Kesepakatan telah diambil sesuai dengan rencana, Pras mengambil kontrak tempat itu untuk satu tahun terlebih dahulu. Tempatnya cukup strategis dimana dekat dengan tol juga perkantoran, meski harga sewanya mahal tapi ia yakin dapat menjalankan bisnis itu dengan sukses.
Setelah semuanya selesai ia pun mengirim pesan kepada Zahira bahwa beberapa minggu lagi restoran mereka akan siap buka, maka Zahira tidak perlu merisaukan kepulangannya nanti.
Pekerjaannya terlalu cepat selesai, masih ada waktu untuk bersantai maka Pras memutuskan untuk makan siang di restoran terdekat.
Yang tak pernah ia sangka Ayu pun berada disana, tengah duduk sendirian. Pras berinisiatif menghampirinya hanya untuk sekedar menyapa, "Hai!."
Tentu Ayu kaget, ia tak menyangka akan bertemu dengan Pras di tempat itu.
"Kau? apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
"Kebetulan ada kerjaan didekat sini, bagaimana dengan mu?" balas Pras.
"Oh, tempat kerja ku juga kebetulan didekat sini," sahut Ayu.
"Apa kau sendirian? boleh aku bergabung?" tanya Pras.
"Tentu saja," sahut Ayu dengan senang hati.
Mereka pun terlibat obrolan santai, saling mengetahui pekerjaan masing-masing sampai merasa nyaman dalam satu waktu.
Pertemuan kedua itu akhirnya berlanjut pada masa yang lain, itu adalah saat Pras resmi membuka restorannya. Ayu menjadi pelanggan pertama disana yang diistimewakan, ia mendapat pelayanan yang terbaik juga diskon selama sebulan penuh.
Hatinya yang senang membawa berkah untuk restoran Pras, Ayu banyak mempromosikan restoran itu kepada teman-temannya juga atasannya.
Berkatnya kini Pras memiliki pengunjung hampir tetap, untuk membalas kebaikan Ayu itu Pras memberi sebuah hubungan pertemanan.
Pras berjanji akan ada disaat Ayu membutuhkannya, memberinya segala bantuan yang di perlukan.
__ADS_1
Dan bantuan itu benar-benar Ayu manfaatkan saat mantan kekasihnya kembali mengusik hidupnya, beberapa teror telah menyulitkannya hingga butuh Pras sebagai penjaga.
Setiap pagi Pras akan menjemput Ayu dan mengantarnya ke kantor, itu cukup mudah dilakukan sebab Restoran Pras berada satu arah dengannya.
"Terimakasih sudah mau menjemput ku," ujar Ayu setiap pagi saat Pras datang menjemputnya.
"Tidak masalah, sudah menjadi kewajibanku untuk membalas budimu!" sahut Pras.
"Sudah ku katakan jangan mengungkit hal itu! kau terlalu berlebihan!" sergah Ayu yang merasa tak nyaman.
Pras hanya tersenyum mendengar keluhan itu, sudah menjadi rutinitas baginya untuk menjemput dan mengantar Ayu pulang. Namun suatu hari rutinitas itu harus berhenti saat Ayu mengabari bahwa ia pulang kampung.
"Siapa yang nelpon Pras?" tanya Dian penasaran.
"Oh itu Ayu," sahutnya.
"Ayu? Ayu siapa?" tanya Dian lagi yang merasa asing pada nama itu.
"Oh.. ko ibu baru tahu ya kamu punya teman namanya Ayu? apa ibu lupa?" gumam Dian sebab ia sangat mengenal baik putranya hingga mengenal semua temannya.
"Kami baru beberapa kali bertemu, kebetulan kantor tempat dia kerja dekat dengan restoran ku jadi kami sering bertemu," sahutnya.
"Begitu rupanya, terus ada dia menelpon mu? sepertinya itu sangat penting!" tanya Dian lagi masih penasaran.
"Enggak ko bu, Ayu cuma ngasih tahu kalau dia mau pulang kampung jadi gak bisa berangkat kerja bareng," jawaban Pras itu semakin menarik perhatian Dian pada gadis itu.
Ia pun semakin bertanya lebih banyak yang membuat Pras akhirnya menceritakan semuanya, bagaimana awal mereka bisa bertemu hingga akhirnya bisa menjalin pertemenan.
"Astaga... kasian banget gadis itu! apalagi hidup sendiri jauh dari orangtua, kapan-kapan kamu ajaklah dia ketemu ibu biar bisa ngobrol. Toh ibu juga berhutang jasa padanya yang sudah membantu anak ibu," ujar Dian diakhir cerita itu.
__ADS_1
Pras hanya mengangguk mengiyakan, tapi tidak berjanji juga ia dapat mengabulkan permintaan itu sebab belum tentu Ayu mau.
* * *
Kesibukan Zahira sebagai ART sedikit berkurang saat ibu dari majikannya masuk rumah sakit, karena penyakit yang ia derita mengharuskannya untuk dirawat selama beberapa hari.
Biasanya selain harus mengerjakan tugas rumah ia juga harus melayani ibu dari majikannya itu, meski ia mendapat bonus dari pekerjaan itu tapi rasa lelahnya cukup menyiksa dimana ia akan bangun tidur dengan kondisi badan yang serba sakit.
Bisa sedikit lebih lama bersantai Zahira memutuskan untuk menelpon Pras, sekedar melepas rindu dengan menanyakan kabar keluarga kecilnya itu.
Saat Pras memberitahu bagaimana aktifnya Anisa rasa haru bercampur rindu menggejolak seperti air mendidih, menumpahkan air matanya dengan begitu cepat.
"Oh ya dek, restoran yang mas jalankan sekarang sudah berkembang pesat! setiap hari banyak pengunjung yang datang!" ujar Pras berpiandah topik.
"Alhamdulillah... semoga usaha kamu terus berjalan dengan lancar mas," sahut Zahira dengan begitu senangnya.
"Mas akan buka cabang baru, karena itu bisa kamu kirim uang lebih dek?" tanya Pras.
"Apa gak terlalu cepat mas? bisnis itu meski lancar diawal tetap harus dikembangkan dulu baru buka cabang baru," ucap Zahira kurang yakin.
Tapi Pras dengan tegas menjawab, "Kamu percaya aja sama mas! toh mas udah buktikan kalau mas mampu menjalankan bisnis ini."
"Iya mas.. tapi tetap aja ini terlalu cepat!" balas Zahira.
"Kamu kenapa sih? selalu aja gak percaya sama mas! sebagai istri harusnya kamu dukung pekerjaan suami mu dong!" ujar Pras mulai emosi.
"Aku pasti dukung mas, malah aku modalin kan usaha kamu! aku cuma kasih saran aja biar semuanya lancar," sahut Zahira yang terpancing emosi.
"Kamu ngerti apa soal bisnis? udah deh gak usah dibahas lagi! pokoknya mulai sekarang kamu kirim uang tujuh juta perbulan, gaji kamu kan delapan juga perbulan jadi masih ada sisa buat bekal mu disana! lagi pula sebagai pembantu semua kebutuhan kan sudah dipenuhi majikanmu," ucap Pras mengakhiri perbincangan itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu Zahira menjawab Pras menutup telponnya, meninggalkan rasa kesal bagi Zahira.