Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 17 Kisah Masalalu


__ADS_3

Sebuah pesan ia terima siang itu, bertanya tentang kesediaanya untuk hadir dalam acara makan malam yang sederhana. Dengan cepat Kiki menjawab Yes, dan dengan cepat pula ia menyiapkan pakaian yang layak walaupun matahari masih meninggi di atas langit.


Ia tak bisa berhenti tersenyum bahkan merasa gugup seolah akan di sidang, semua pakaian telah ia coba satu persatu hingga sampai di titik dimana ia merasa tidak memiliki pakaian.


Semua kegalauan itu terus mendesak bersama waktu yang terus berjalan, pada akhirnya saat datang waktunya ia pun memilih pakaian sederhana namun tetap membuatnya cantik.


Kemeja biru muda yang di kenakan Dimas cukup mencolok di sore yang jingga, membuat perhatian Kiki sepenuhnya tertuju padanya.


Melihat bagaimana penampilan Kiki telah menggetarkan hatinya, betapa kecantikan itu membuat matanya tak berani menatap lama sebab takut akan nafsunya yang kian membara.


"Kau terlihat sangat cantik" pujinya.


"Terimakasih" sahut Kiki dengan pipi yang merona karena malu.


Sebab matahari semakin menghilang yang menandakan malam akan segera datang maka mereka pun bergegas pergi, di sepanjang jalan hanya ada obrolan kecil dan beberapa kali senyuman sampai mereka pun tiba.


Nampak dari luar rumah itu cukup sederhana dan rapih, beberapa tanaman pot tertata rapih di depan yang menghiasi pekarangan.


"Yuk masuk!" ajak Dimas.


Berjalan lebih dulu Dimas membiarkan Kiki mengikutinya di belakang, mengetuk pintu sambil mengucapkan salam hingga orang rumah membukanya.


"Waalaikumsalam... eh Dimas! kenapa ngetuk pintu? kayak tamu aja!" tukas seorang wanita separuh baya.


"Kan Dimas bawakan tamu buat ibu" sahutnya sambil bergeser agar ia bisa melihat Kiki.


Senyum wanita itu merekah saat tatapan mereka bertemu, Kiki segera memberi salam tanpa lupa mencium tangan wanita itu.


"Cantik sekali... siapa nama mu?"


"Kiki tante.. "


"O.. walah... cantik pula nama mu nak, ayo masuk!" ajaknya.


Kiki hanya tersipu mendapat pujian itu, ia menunggu sampai Dimas masuk lebih dulu. Haryati, nama ibu Dimas yang sudah menanti sejak tadi.

__ADS_1


Sebelum makan malam mereka mengobrol sebentar dengan topik utama yaitu Dimas, sementara si topik utama sedang sibuk di dapur untuk memasak hidangan makan malam. Haryati juga menanyakan tentang kehidupan Kiki sebagai bentuk basa basi, tanpa mengorek lebih dalam.


"Jadi Kiki ini teman masa kecilnya Fariz?" tanyanya.


"Iya tante"


"Ohh... Fariz itu sering lho main ke sini, waktu di pesantren pas tahu ternyata mereka dari kota yang sama langsung akrab mereka berdua. Nak Fariz malah kadang suka mampir ke sini walaupun Dimas lagi gak ada di rumah, sudah tante anggep juga dia sebagai anak tante"


"Begitu ya tante" sahut Kiki menyadari bahwa Fariz begitu mudah mendapatkan kasih sayang orangtua dari siapa pun.


"Kamu juga, walaupun Dimas lagi gak ada di rumah main aja ke sini. Tante selalu ada di rumah, suka bosan sebab gak ada teman"


"InsyaAllah tante.. um... emang ayahnya Dimas jarang pulang tante?" tanya Kiki.


Haryati segera terdiam, matanya tiba-tiba meredup dengan senyum yang di paksakan.


"Sudah lama cerai" sahut Haryati pelan.


Seketika Kiki merasa bersalah, saat melihat kembali sekeliling ruangan itu ia baru sadar tidak ada poto ayah Dimas.


"Lho kenapa minta maaf? nak Kiki gak salah apa-apa ko" ujarnya.


Meski begitu tetap Kiki merasa tak enak hati, untung Dimas segera datang mencairkan suasana. Ia memberitahu bahwa makan malam telah siap hingga mereka bisa segera pergi ke ruang makan, hidangan yang ada cukup sederhana namun tampilannya begitu menggugah.


Tak di sangka rupanya rasanya pun enak, ini membuat Kiki malu sebab sebagai perempuan justru ia tak pandai memasak.


"Dimas ini pandai memasak, setiap hari dia yang buatkan makanan untuk ibu. Jika ada kesempatan ibu ingin melihat Dimas menjadi koki yang selalu ada di TV-TV" ujar Haryati.


"Aamiin... mudah-mudahan ada jalannya" sahut Kiki setuju.


Sementara Dimas hanya tersenyum, apa pun pekerjaannya ia tak terlalu ambil pusing. Yang penting uangnya cukup untuk biaya hidup dan menjamin masa depannya.


Selesai makan Haryati memberi ruang untuk mereka bicara berdua, tentu ia paham mereka butuh privasi.


"Aku gak nyangka kamu pandai masak" ujar Kiki.

__ADS_1


Awalnya Dimas tersenyum, tapi apa yang selanjutnya ia katakan adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan.


"Aku adalah anak haram."


Kiki membeku, tak tahu harus merespon apa sebab ia tahu saat ini Dimas sedang serius.


"Orangtuaku bertemu saat mereka masih kuliah, saling jatuh cinta hingga akhirnya aku tumbuh sebagai janin dalam perut ibuku. Sayangnya ayahku saat itu tak siap untuk menjadi seorang ayah, mereka memang menikah pada akhirnya tapi bukan berarti semuanya membaik.. justru sebaliknya" ada getaran dalam suara Dimas yang menandakan luka lama itu mencuat kepermukaan.


"Ibu... berhenti kuliah, sebisa mungkin bekerja untuk biaya hidup kami. Sementara ayah tak peduli, hidup dalam dunianya sendiri. Ia menyelesaikan kuliahnya, mencari pekerjaan seperti orang-orang, menjalani hidup seperti orang-orang"


"Dimas... " panggil Kiki lirih, tak tahan akan kisah pilu itu.


"Setiap hari rumah selalu heboh, teriakan ayah sangat nyaring hingga bisa terdengar keluar sementara ibu menangis di lantai. Apa yang bisa dilakukan anak kecil ini? melawan? sabuk ayah akan berubah jadi cambuk dan menandai setiap lekuk tubuh, ibu juga tidak akan tega melihatnya hingga yang bisa kami lakukan hanya diam."


Nanar mata Dimas melihat jauh pada dimensi yang lain, tanpa peringatan kelingan itu jatuh bersamaan dengan memori yang semakin jelas.


"Aku harus kuat, aku harus pintar, aku harus serba bisa, semua demi senyum ibu yang sulit terlukis di bibirnya. Walaupun pada akhirnya kami lepas dari siksaan ayah karena perceraian, tapi hidup tidak ada perubahan tanpa dompet yang tebal."


Dimas menyeka pipinya yang basah, menghela nafas untuk membuang semua racun itu.


"Saat ini... yang terpenting dalam hidupku adalah kebahagiaan ibu, aku harus bekerja keras demi mewujudkannya"


"Aku mengerti, aku akan mendukung cita-citamu" sahut Kiki tegas.


"Sungguh?" tanya Dimas dengan senyuman harapan.


Kiki menjawab dengan anggukkan keras, membuat Dimas senang dan menatapnya penuh kasih.


"Ki... aku.. telah jatuh cinta kepadamu, tapi aku tidak ingin hubungan lain selain pernikahan. Karena itu, maukah kau menunggu sampai aku memiliki segala yang kubutuhkan untuk meminang mu?" tanya Dimas.


Kiki tertegun, pertanyaan itu terlalu cepat di ajukan sementara mereka kenal belumlah lama. Memang ia pun memiliki rasa suka kepada Dimas tapi tidak berpikir jauh hingga ke pernikahan, itulah mengapa ia menjawab.


"Aku juga mencintaimu... tapi aku juga belum memiliki kesiapan untuk berumah tangga, jadi aku pikir tidak ada masalah sebab kita berdua sama-sama belum siap untuk ke jenjang yang lebih serius."


Betapa Dimas sangat bersyukur sebab Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan seorang gadis yang sepemikiran, untuk kisah cintanya ini merupakan anugrah yang terbesar.

__ADS_1


__ADS_2