Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 27 Pergi Merantau


__ADS_3

Masih syok akan kebaikan Fariz yang tak pernah ia duga, membuat Zahira banyak melamun disela pekerjaan.


Mbak Rara yang sedari memperhatikan menepuk pundaknya agar Zahira kembali pada kenyataan.


"Jangan banyak melamun! nanti kesambet lho!" tukasnya.


"Eh.. hehe iya mbak," sahut Zahira tersenyum malu.


"Lagi mikirin apa sih? sampe urat kening mu keras begitu?" tanyanya penasaran.


"Nggak ko mbak, aku cuma teringat anak ku di rumah. Andai saja aku punya pekerjaan yang lebih baik mungkin aku bisa belikan mainan bagus seperti ini," jawabnya sambil mengambil salah satu mainan milik anak majikannya.


Mbak Rara nampak menghela nafas, turut prihatin akan kondisi ibu muda itu.


"Kamu kan masih muda, kenapa gak cari kerja yang lebih baik? yang gajinya lebih tinggi?" tanyanya.


"Aku cuma lulusan SMA mbak, lagi pula siapa yang mau memperkerjakan seorang wanita yang telah berkeluarga?" balasnya.


Mbak Rara terdiam, cukup setuju akan ucapan Zahira. Meski begitu ia tak membenarkan juga, Zahira masihlah sangat muda dan memiliki kesempatan untuk mengubah nasibnya.


Teringat akan sepupunya yang bekerja diluar negri sebagai TKW mbak Rara pun menceritakannya, mendengar jumlah gaji yang cukup tinggi rupanya membuat Zahira tergiur.


Ia bertanya lebih banyak lagi untuk menimbang, setelah percakapan yang panjang lebar Zahira memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Pras.


Namun tak disangka Zahira menerima penolakan, dengan tegas Pras tidak memberinya ijin untuk bekerja jauh.

__ADS_1


"Tapi mas... gajinya cukup tinggi lho? delapan juta sebulan itu sudah sangat cukup untuk biaya hidup kita," bujuk Zahira yang tak mau menyerah.


"Tapi itu terlalu jauh dek, lagipula Anisa masih terlalu kecil untuk kamu tinggalkan!" sahut Pras bersikukuh.


Zahira telah memantapkan hatinya, untuk itu meskipun ia tak berhasil membujuk hari ini masih ada hari-hari berikutnya. Sifatnya yang keras kepala selalu mengantarkannya pada keberhasilan akan sesuatu yang ia inginkan, itulah mengapa pada akhirnya Pras setuju.


Dengan beberapa syarat yang telah Zahira sanggupi, ia pun meminta bantuan bundanya untuk menengok sesekali keadaan Anisa saat ia telah pergi.


Tentu awalnya bundanya tak mengizinkan Zahira pergi, sebab dari kecil Zahira belum pernah bepergian sendiri. Ia takut sesuatu akan terjadi pada Zahira, atau bagaimana Zahira melewati hari tanpa kehadiran keluarga.


Tapi sama seperti Pras, bundanya pun tak bisa menahan sifat keras kepala Zahira.


Sebelum pergi tentu saja Zahira berpamitan juga pada Kiki, sahabatnya itu sedikit menyayangkan keputusan Zahira. Ada kecamasan tersendiri mengingat Zahira harus berjuang sendiri di tanah asing, tapi sebagai sahabat yang baik ia harus mendukung keputihan itu.


Zahira juga menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Fariz, mendengar kabar ini tentu Fariz sebisa mungkin membujuk agar Zahira tidak pergi.


"Berhentilah berusaha! bukankah kau ini seseorang yang sangat mengerti agama? apa hukumnya bagi kita yang bukan muhrim jika terus bersama seperti ini? aku bukanlah wanita yang sempurna, tapi aku ingin menjadi istri yang baik karena itu.... tolong jauhi aku!" ujar Zahira dengan tegas.


Itu bukanlah sebuah permintaan melainkan perintah, dan Fariz harus mengikuti keinginan Zahira mau tidak mau.


Setelah mendaftarkan diri beberapa minggu Zahira habiskan untuk bersiap, ada banyak yang perlu ia siapkan selain dari mental.


Agen yang mengurus kepergiannya telah memberitahu bahwa Zahira akan bekerja di Taiwan, untuk itu ia perlu belajar bahasa Taiwan.


Zahira memiliki kecerdasan juga keuletan karena tekadnya yang kuat, oleh karena itu ia hanya butuh waktu satu bulan untuk belajar bahasa asing.

__ADS_1


Setelah berbagai persiapan yang cukup menyita waktu akhirnya tiba hari dimana ia harus pergi, Pras dan yang lain mengantarkan kepergiannya hingga ke bandara.


Dengan cukup gelisah untuk yang terakhir kalinya bunda bertanya, "Apa kau yakin?" dan Zahira menjawab dengan tegas, " Ya bunda."


Sejujurnya Zahira pun merasa sedikit takut yang cukup membuatnya gugup, namun perasaan itu ia kubur dengan sangat dalam di balik senyumnya.


"Zahira, sudah waktunya!" ujar seorang wanita yang akan membawanya ke luar negri.


Zahira mengangguk sebagai jawaban, satu persatu dilihatnya orang-orang yang mengantarnya.


Mulai dari Kiki yang ia peluk sebagai bentuk ucapan perpisahan, kemudian bundanya, Pras dan yang terakhir si kecil Anisa.


Mata jernih putrinya menatap dengan polos, tersenyum dengan lucu yang membuat Zahira hampir luluh dan membatalkan kepergiannya.


Tapi ia harus bertahan, semua ini ia lakukan demi masa depan Anisa juga. Dengan penuh kasih sayang dicium dan peluknya Anisa, sebab untuk beberapa tahun hal itu akan sulit dilakukan.


"Bunda, sekali lagi aku titip Anisa. Tolong tengok dia sesekali," ujarnya.


"Tentu saja, kamu gak perlu khawatir."


"Mas, aku pergi dulu!" ucapnya kepada Pras.


"Ya, hati-hati dek. Setelah sampai jangan lupa kasih kabar," jawabnya.


Perpisahan itu segera Zahira akhiri, takut jika terlalu lama ia akan berubah pikiran. Bersama dengan beberapa wanita lainnya yang juga berniat sama, dia pun berjalan pergi.

__ADS_1


Sebuah lambaian tangan dari keluarga tercinta untuk terakhir kalinya mengantar kepergiannya, juga terakhir kalinya ia menatap mereka secara langsung.


Diam-diam, setelah ia berada didalam pesawat airmatanya pun jatuh. Tangis yang sejak tadi ia tahan sebab tak ingin perpisahan itu menjadi begitu menyedihkan.


__ADS_2