
Alam telah senyap, sementara mata Zahira masih terbuka dengan begitu lebarnya. Setiap ia mencoba untuk terlelap bayangan Fariz justru hadir membuatnya terjaga seketika, entah apa yang terjadi padanya.
Bahkan sampai kicauan burung menyatakan pagi telah datang ia tetap terjaga, mencoba melenyapkan Fariz dari benaknya Zahira segera bangun dan menyibukkan diri.
Pagi sekali ia sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah, bahkan ia juga sudah menyiapkan sarapan.
"Pagi sayang," sapa Pras.
"Hari aku ada lembur lagi, jadi kamu gak perlu tunggu aku pulang."
Zahira menatap panjang, setelah sekian lama baru kali ini Pras memanggilnya dengan sebutan aku kamu. Ia tahu penyebabnya dan hanya mengangguk, pura-pura bodoh.
Pagi itu Pras hanya memakan sslembar roti untuk sarapan, bahkan ia tak mengecup kening Zahira seperti biasa dan pergi begitu saja.
Membuat tembok diantara mereka semakin tebal.
Pras telah berjanji akan menemani Ayu seharian, oleh sebab itu ia pergi pagi sekali untuk membuat Ayu berhenti merajuk. Tapi saat sampai anehnya tak melihat mobilnya, merasa heran Pras segera menghambur masuk kedalam.
"Ayu!" panggilnya.
"Mas... kamu udah datang ternyata," sambut Ayu sumringah.
"Mobil kemana? ko gak ada di tempat parkir?" tanyanya.
"Aku jual," jawab Ayu tiba-tiba ketus.
"Lho? kenapa?."
"Aku gak suka."
"Tapi kamu bilang waktu itu suka kan?" tanya Pras memastikan.
"Tapi sekarang aku gak suka!" sahut Ayu tegas.
Pras terdiam keheranan, entah apa yang terjadi tapi ia sadar akhir-akhir ini Ayu sering sekali marah-marah tak jelas.
"Kamu kenapa?" tanya Pras mencoba bersabar.
"Aku gak apa-apa," jawabnya pelan.
"Bohong! kalau gak ada apa-apa kenapa kamu marah?" tanya Pras lagi tak puas.
"Kamu kenapa sih?! ngotot banget deh heran," ketus Ayu sembari pergi.
"Aku belum selesai ngomong Yu," seru Pras mencoba menghentikan langkah Ayu.
"Tolong mas ini masih pagi! bisa gak kamu jangan bikin aku emosi terus? aku tuh cape! aku stres!" teriak Ayu.
"Kamu stres kenapa? ngomong pelan-pelan."
"Aku stres mikirin anak kita mas!" sahut Ayu yang membuat Pras terdiam.
__ADS_1
Mendapat tatapan tak percaya dari Pras Ayu pun menyerahkan bukti pemeriksaan dokter, sontak Pras kaget. Ia hanya diam sambil bulak balik membaca surat itu dan menatap Ayu.
"Jadi... kamu... hamil.. " ujar Pras terbata.
Ayu mengangguk pelan, tanpa di duga Pras segera memeluk Ayu dan meminta maaf atas segala kesalahannya.
"Mas... aku pergi untuk menghilangkan stress, kamu mau kan antar aku pergi?" tanya Ayu.
"Tentu, kamu mau pergi kemana?" sahut Pras.
Ayu pun tersenyum lebar.
...----------------...
Berencana untuk menemui Sarah Zahira segera bersiap, tentu ia juga akan membawa Anisa bersamanya.
"Sayang... Anisa... bangun yuk! kita pergi kerumah teman bunda," panggilnya.
Tapi tak ada sahutan dari kamar Anisa, merasa curiga Zahira segera pergi memeriksa.
"Ya ampun cantik... ini udah siang lho!" ujar Zahira melihat Anisa masih berselimut.
"Anisa! Anisa! ya ampun sayang kenapa badan kamu panas banget?" seru Zahira panik mendapati Anisa tengah bergidik kedinginan sementara badannya bagai bara api.
Tanpa menunggu lagi ia segera membawa Anisa ke rumah sakit, dengan harapan tak akan terjadi apa-apa pada buah hatinya.
Tapi semakin lama ia menunggu kabar dari dokter tentang Anisa hatinya justru semakin gundah, segera ia pun memberitahu bunda Fatimah untuk menemaninya di rumah sakit.
Zahira hanya menggeleng lesu, matanya yang sebab telah menjelaskan bahwa keadaan mungkin cukup genting.
"Dokter! gimana keadaan cucu saya?" tanya bunda Fatimah begitu sang dokter keluar.
"Dia positif terkena DBD, bahkan demamnya sampai saat ini masih belum turun."
"Apa? ta-tapi kamarnya sudah dipasangi kelambu," ujar Zahira syok.
"Anak ibu bisa terkena gigitan dimana saja, bisa jadi saat dia main di luar."
"Lalu sekarang bagaimana dok?" tanya bunda Fatimah lagi.
"Kami sedang berusaha keras, silahkan ibu berdoa dan menunggu kabar terbaru dari kami. Permisi," jawab sang dokter segera pergi.
Bruk
"Zahira!" panggil bunda Fatimah mendapati Zahira tiba-tiba tak sadarkan diri.
Terlalu banyak hal yang merundung benaknya secara bersamaan, bagi wanita yang harusnya baru meniti karir Zahira telah merasakan pasang surutnya rumah tangga. Kini ia berada di tepian jurang dimana rumahnya di bangun, merasakan hembusan angin yang siap menjatuhkannya Zahira hanya membisu.
Saat terbangun tak disangka Fariz adalah orang pertama yang ia lihat, Fariz mengatakan Kiki menelpon tapi bunda Fatimah yang mengangkat dan memberitahu bahwa Anisa dirawat dan dia pingsan.
"Bagaimana keadaan Anisa sekarang?" tanyanya.
__ADS_1
"Belum ada kabar lagi, hari sudah sore jadi sebaiknya kamu makan dulu baru kita periksa Anisa."
"Tidak Fariz! aku ingin lihat anak ku!" seru Zahira tegas.
Tanpa menghiraukan selang infus yang masih menancap di tangannya Zahira bangkit dan pergi keluar, sementara Fariz mengejarnya dari belakang.
Saat sampai yang ia temukan justru tangis bunda Fatimah yang pecah, sementara Kiki memeluknya dengan berurai air mata.
"Bunda... " panggil Zahira lirih.
Seketika bunda menengok, melihat wajah pucat Zahira ia menggeleng pelan. Itu adalah sebuah isyarat yang paling Zahira takutkan, berharap ia hanya salah terka segera ia menghambur masuk ke dalam.
"Suster... kenapa selang oksigennya di cabut?" tanya Zahira melihat bagaimana para perawatan membenahi Anisa yang sudah lelap.
"Maafkan kami bu, anak ibu tidak tertolong."
"Bohong!" teriak Zahira murka.
"Pasang lagi! panggil dokter! dia harus memeriksa anak ku!."
"Za... Za... cukup Za, aku mohon jangan seperti ini.. " pinta Fariz tak kuasa melihat Zahira yang hilang kendali.
Tapi Zahira tak dapat mendengarnya, bahkan meski Fariz telah memeluknya dengan erat ia bisa melepaskan diri untuk kemudian menghampiri Anisa.
Membelai lembut pipi yang cuby itu, mencubit hidung yang mancung itu dan mengecup kening yang telah dingin itu.
"Andai bunda tahu hal ini akan terjadi bunda tidak akan pernah mau pergi keluar negri, untuk apa rumah yang besar itu? untuk siapa semua mainan itu? sekarang bagaimana bunda bisa menghadapi dunia?" bisik Zahira dalam telinga yang tak akan bisa mendengar lagi.
Tring
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya, rupanya itu dari Pras.
"Ada pekerjaan penting, aku harus pergi keluar kota selama beberapa hari."
Pesan itu telah memercikkan api dihati seorang ibu dan kian membesar, menghapus air matanya Zahira membalikkan badan untuk bicara kepada bunda Fatimah.
"Siapkan prosesi pemakaman sekarang juga, aku ingin semua sudah selesai begitu matahari terbenam."
Hampir bunda Fatimah tak percaya pada apa yang dia dengar, tapi tetap saja ia menurut. Jenazah Anisa di bawa pulang untuk kemudian dimakamkan, hanya beberapa saudara dan teman dekat yang bisa hadir untuk acara itu.
"Tidak Za! kita harus tunggu Pras pulang," ujar Dian tak terima.
"Semua akan tetap berlangsung dengan atau tanpa persetujuan mu, saat ini ada yang lebih penting bagi Pras selain pemakaman putrinya," sahut Zahira dingin.
"Ma-maksus kamu?" tanya Dian tergagap sebab tatapan Zahira begitu menakutkan.
Seperti apa yang dikatakan Zahira semua berjalan sesuai rencana dan tepat pada waktunya, sebelum adzan maghrib di kumandangkan bunga segar sudah bertaburan diatas makam Anisa.
"Zahira... " panggil Sarah sambil menyodorkan bunga.
"Tidak Sarah, aku bersumpah tidak akan menaburkan bunga diatas makam permata ku sebelum kerikil itu melebur dengan tanah. Segera aku akan membuat mereka merasakan penderitaan ku," janjinya.
__ADS_1