Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 36 Kepergian Ibu


__ADS_3

Setahun sudah Dimas pergi meninggalkan kota itu, setiap hari adalah cerita suram dimana ia hanya akan menghabiskan waktu untuk bekerja. Sesekali ibunya menelpon untuk bertanya kabar, tanpa semangat ia akan menjawab semuanya baik tentu tidak termasuk hatinya.


Sebab patah hati ia memutuskan akan membiarkan luka itu sembuh seiring berjalannya waktu, namun yang ia dapat adalah kehidupan monoton yang membosankan.


Hati yang tak terjamah itu kian dingin, tak ada yang bisa melihat dimana letaknya sebab lumut telah menutupinya. Kini setelah ribuan detik yang ia habiskan untuk melupakan tergerak karena suatu berita duka, ia harus pulang dan meratapi kesalahan fatalnya.


Sepanjang jalan itu hatinya gundah tanpa ada ketenangan, tangannya gemetar dan sesak padahal kaca mobil telah ia buka. Butuh setidaknya tiga jam dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya ia pun sampai, sebuah bendera kuning yang berkibar menyanbut kepulangannya.


Orang-orang sudah berkumpul sejak tadi, sayup-sayup suara tangis sejenak membuatnya takut untuk mengambil langkah. Tapi semua orang memaksanya untuk masuk kedalam rumah, maka ia pun memberanikan diri untuk maju.


Di pintu, Fariz dengan peci hitam memandangnya penuh kesedihan. Segera ia menghampiri dan memeluk sahabatnya itu, dengan parau Fariz berbisik "Yang sabar ya."


Tapi kalimat itu justru membuat meledakkan emosinya, bendungan hatinya hancur dan memuntahkan air mata dengan derasnya. Mengalir panjang hingga ke dagu dan jatuh diatas lantai yang berdebu, dalam sujud penyesalan sungguh kini tak ada yang dapat menjadi pelipur lara.


Butuh setidaknya beberapa menit sampai Dimas bisa mengendalikan hatinya, dengan bantuan Fariz ia masuk kedalam untuk melihat jasad ibu yang telah siap dimakamkan. Deru air mata kembali menjadi kidung yang menyayat hati, bahkan Fariz yang sudah puas menangis sejak semalam kembali menumpahkan air matanya.


Tak sanggup mereka melihat seorang anak yang kini telah menjadi piatu, masa dimana justru harusnya ia menghabiskan waktu dan uang hasil jerih payahnya. Cita-cita kini tinggal jejak, rumah yang mewah itu tidaklah berarti lagi.


Hingga akhirnya proses pemakaman berlangsung tak sanggup Dimas mengikhlaskannya, ia terus memanggil nama ibunya berharap akan ada jawaban.


Tapi setelah tanah terakhir ditumpahkan tak ada apapun yang terjadi, dengan berat hati ia harus mau meninggalkan tempat itu.


"Jangan siksa ibu dengan tangisanmu, biarkan ibu pergi dengan damai," pinta Fariz meski ia pun juga merasa kehilangan.

__ADS_1


"Ini semua salahku... andai aku tidak meninggalkan ibu... andai aku tidak memikirkan diriku sendiri.. masih banyak yang ingin aku lakukan bersama ibu.. " ujar Dimas dengan penuh penyesalan.


Fariz sangat mengerti perasaan Dimas saat ini, karena itu ia hanya akan tetap berada disamping sahabatnya untuk menemani. Menjaganya sampai ia tertidur karena lelah, esoknya saat hari baru tanpa kehadiran sosok ibu yang biasa menyambut betapa rumah itu sangat senyap.


Setiap sudut dalam ruangan itu seakan ia melihat sosok ibu yang sedang mengerjakan rutinitasnya, begitu ia masuk kedalam kamar harusnya ada ibu yang sedang istirahat diranjangnya.


Tapi kasur itu rapih, tanpa noda dan tanpa ada ibu disana. Pilu kembali membuatnya menangis, dengan penyesalan bercampur kerinduan ia memeluk selimut yang biasa ibu pakai. Mata merahnya berkeliling menatap ruangan itu, sampai matanya menangkap sebuah kotak kayu diatas lemari yang rasanya sebelumnya tidak ada.


Dimas sudah berjalan hendak mengambil kotak kayu itu, tapi cuping hidungnya tiba-tiba mencium aroma masakan khas ibu. Segera ia pun berlari menuju dapur, berharap akan ada wanita yang sangat ia cintai berada disana.


Tapi setibanya ia disana yang ia temukan justru Kiki, sedang memasak hidangan untuk sarapan. Sejenak mereka saling terdiam saat mata mereka beradu pandang, tapi kemudian Kiki berkata "Duduklah, seharian kemarin kamu pasti belum makan."


"Sedang apa kamu disini?" tanya Dimas dengan suara bergetar.


"Apa yang akan dikatakan suamimu jika tahu pagi-pagi buta kau malah melayap ke rumah seorang pria? apa pun alasannya kau tidak seharusnya datang kesini!" tukas Dimas.


Betapa hancur hati Kiki mendengar perkataan itu, ia tak menyangka Dimas akan sebegitu bencinya hingga tak mau memandang wajahnya lagi. Bahkan perkataannya sarat akan dendam yang begitu besar, mengalah sebab ia tahu dirinya memang bersalah maka ia pun menurut.


Setelah kepergian Kiki Dimas hanya bisa melamun, memikirkan nasibnya yang kini sebatang kara. Benaknya yang kalang kabut akhirnya menggiring opininya pada pengkhianatan Kiki, andai Kiki masih menunggu kepulangannya tentu saat ini sedang diapit oleh dua wanita yang begitu berharga.


Brak


Tanpa sadar tangannya memukul meja dengan keras, amarah yang telah meluap akhirnya membuatnya mengambil keputusan. Ia akan minta dipindah tugaskan seperti rencananya dulu, ia akan tinggal di rumah itu meski harus hidup seorang diri sebab seseorang harus membayar akan penderitaannya kini.

__ADS_1


* * *


Beruntung hari ini ia sedang libur sehingga bisa pergi ke bandara untuk mengantar Sarah, seperti yang sering mereka bicarakan Sarah akan pulang ke tanah air dan memulai hidup baru di sana bersama keluarga.


Meski berat tapi Zahira harus melepaskan kepergian teman satu profesinya itu, sebab ini semua telah menjadi jalan mereka masing-masing.


Zahira juga tahun depan akan menyusul dan untuk itu ia harus tersenyum bahagia, sambil menunggu waktu keberangkatan mereka isi waktu dengan banyak mengobrol.


"Akhirnya kamu dapat pulang juga ya!" seru Zahira.


"Aku sudah lama menantikannya, aku akan mulai membangun usaha ku sendiri sampai berhasil. Jangan lupa setelah kamu pulang ke tanah air kamu harus mengunjungi ku," sahut Sarah.


"InsyaAllah, usaha suamiku berjalan lancar jadi aku harap aku bisa pulang sesuai jadwal."


"Kamu sangat beruntung memiliki suami yang amanah, hasil kerja kerasmu di sini terbayar sudah. Ketika kamu pulang nanti kamu hanya perlu menikmatinya saja, berbeda denganku yang harus mulai dari awal."


"Aku pun sangat bersyukur memiliki dia, tapi kamu juga beruntung karena kamu hanya meninggalkan keluarga. Sementara aku harus meninggalkan anak ku, percayalah itu lebih sulit."


"Keduanya pun sulit, kita punya jalan hidup masing-masing. Mau seperti apa pun aku harap pertemanan kita bisa langgeng sebab aku beruntung memiliki teman yang selalu ada buatku," ujar Sarah menatap dengan sungguh-sungguh.


"Aku pun berharap demikian," balas Zahira.


Pesan-pesan itu akhirnya harus berakhir sebab sudah waktunya bagi Sarah untuk pergi, terakhir kali ia memberikan pelukan serta doa demi keselamatan mereka masing-masing.

__ADS_1


Zahira tak menyangka ia akan merasa begitu terharu hingga menitikkan air mata, jika diingat lagi memang hanya Sarah yang selalu ada untuk mendengar keluh kesahnya selama bekerja di sana. Kini selama setahun ia harus berjuang sendiri, benar-benar sendiri.


__ADS_2