
Cinta adalah cinta, sebagaimana ia pertama muncul dan bertahan. Beberapa orang memilih mewujudkan cinta itu demi kebahagiaan, tapi tak jarang juga yang memilih untuk memendamnya. Menyimpannya rapih di dalam kotak bak harta karun, menguburnya begitu dalam hingga tak ada seorang pun yang dapat melihatnya.
Jalan yang dipilih Ayu, satu hubungan sudah cukup baginya dengan alasan kebersamaan itu akan bertahan. Sebab jika dia ungkapkan belum tentu semua akan indah seperti yang ia harapkan, lalu bagaimana pula dia harus menghadapi dunia dengan status hina.
Tapi rupanya setiap kesempatan selalu datang kepadanya, menggoda untuk mengekspresikan cinta itu sampai Pras menyadarinya.
Satu waktu Pras mengadakan pesta kecil demi meresmikan cabang baru yang telah ia buka, beberapa teman turut hadir merayakan dan tentu Ayu adalah bintang malam itu sebab jasanya.
Tampil cantik dengan dress hijau tua serta perhiasan yang menempel pada tubuhnya, betapa semua mata telah di buat terpukau olehnya. Pujian demi pujian terlontar untuknya, tapi hanya satu pujian dari Pras yang mampu membuat wajahnya memerah.
"Terimakasih sudah membantuku mengurus semuanya," ujar Pras tanpa bisa berpaling dari kecantikan Ayu.
"Sama-sama mas, aku cuma bantu sedikit aja ko. Sisanya semua karena kerja keras kamu sendiri," balas Ayu.
"Ya, rasanya aku gak percaya bisa wujudin semua ini. Jika ingat bagaimana perjuangan ku dulu rasanya sangat tidak mungkin dan semua ini hanya mimpi," ucap Pras mengenang.
"Selamat ya mas, akhirnya kamu bisa wujudin mimpi itu."
Pras tersenyum senang, membusungkan dadanya dengan begitu bangga. Menikmati pesta yang telah ia buat bersama dengan semua orang yang telah mendukungnya, cukup lama pesta itu berlangsung hingga akhirnya berakhir dimalam yang telah larut.
Satu persatu tamu berpamitan termasuk Ayu, tapi Pras tidak mengijinkan sebab ia yang akan mengantar Ayu pulang. Ini membuat Ayu berada dalam kondisi sulit, satu sisi ia begitu bahagia sebab kebersamaan mereka belum berakhir tapi di sisi lain ia galau karena merasa ini sebuah kesalahan.
Akhirnya ia menurut juga, membiarkan Pras mengantarnya pulang. Di sepanjang perjalanan itu tak banyak yang mereka bicarakan, hening begitu mendominasi hingga rasanya Ayu bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.
"Yu, pekan nanti kamu mau gak nemenin aku menghadiri pesta pernikahan rekanku?" tanya Pras sekonyong-konyong.
__ADS_1
Sontak Ayu di buat kaget akan hal itu, ia tak pernah menyangka Pras bisa menawarkan sebuah posisi dimana seharusnya Zahira-lah yang menemaninya.
"Um... entahlah mas," jawabnya bingung.
"Kenapa Yu? kamu sibuk?" tanya Pras.
"Enggak sih mas, hanya saja... rasanya kurang pantas bukan? mas sudah beristri, aku hanya takut orang akan berkata yang aneh-aneh terhadapku," akuinya.
"Kamu tenang aja, ini rekan bisnis ku jadi gak ada yang tahu siapa kamu. Gak akan ada yang bicara macam-macam."
"Um... gimana ya mas?" tanya Ayu masih bingung.
"Kamu bisa pegang kata-kata ku, jadi mau ya?" bujuk Pras yang akhirnya meluluhkan hati Ayu hingga mau menerima ajakan itu.
Pras tersenyum senang dan menjemput Ayu di hari yang telah disepakati, kali ini Ayu tampil dengan dress merah merona seperti pipinya. Keduanya saling memuji penampilan satu sama lain dan menampilkan senyum hingga tiba di pesta itu, Pras memberikan lengannya kepada Ayu agar ia bisa berpegangan.
Meski status hubungan mereka adalah pertemanan tapi dipesta ini ia bisa memiliki Pras lebih dari teman, bahkan saat ia mengobrol dengan tamu lain dan menyangka mereka adalah suami istri Ayu mengangguk.
Untuk pertama kalinya juga dalam hidupnya ia ingin waktu berjalan dengan sangat lambat, bahkan jika bisa harus berenti. Sebab ia tak ingin hari bahagia ini berakhir begitu saja dengan kenyataan pahit di esok harinya, keegoisannya mulai muncul kepermukaan karena kesempatan hingga membuatnya ingin memiliki Pras seutuhnya.
Tapi waktu tidaklah tunduk kepada siapa pun, ia berjalan mengikuti jalur takdir yang mengharuskan Ayu menghentikan sandiwara yang ia sukai. Semakin larut malam itu dengan udara yang semakin dingin membuat Pras memutuskan untuk pulang, tentu ia akan mengantar Ayu pulang terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan pulang Ayu tak banyak bicara sebab benaknya dipenuhi dengan mengatur strategi agar masa ini bisa bertahan sedikit lebih lama lagi, tapi terlalu banyak yang ia pikirkan hingga tanpa ia sadari mereka telah sampai.
"Yu!" panggil Pras untuk ketiga kalinya, membuyarkan lamunan Ayu yang melanglang buana.
__ADS_1
"Oh iya mas," sahutnya pelan.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Pras yang justru memberi ide kepada Ayu.
"Aahh.. ini mas, kepala ku pusing. Mungkin karena kecapean," jawabnya sambil memijit-mijit kening.
"Pusing banget ya? kalau begitu biar ku bantu," ujar Pras segera keluar dari mobil untuk memapah Ayu masuk kedalam rumah.
Dengan sigap ia membantu Ayu untuk membaringkan tubuh di atas kasur, setelahnya sesuai permintaan Ayu ia mengambil kotak obat di laci. Sementara cinta menutupi mata Ayu hingga ia tak bisa melihat status mereka, saat Pras berbalik untuk memberikan obat yang diminta justru ia memberikan apa yang iblis mau.
Ada dua hal yang sama di dunia ini, yaitu tawa orang saat melepaskan hasrat dan bintang yang mengelilingi bulan. Keduanya menarik dan memiliki jumlah tak terhingga, indah hanya pada satu masa karena hanya terlihat dari satu sudut pandang saja dimana tak ada yang menghalangi.
Diakhir tarian erotis itu sebuah kecupan ringan mendarat pada pelipis Ayu yang membuat tangannya semakin kencang memeluk, Pras hanya tersenyum sebab akhirnya ia bisa melepaskan belenggu yang selama ini membuatnya resah.
"Mas.... aku mencintaimu," ujar Ayu pelan dengan suara serak sebab entah mengapa ia merasa bahagia dan sedih secara bersamaan yang membuatnya ingin menangis.
"Aku juga," balas Pras singkat.
"Sungguh?" tanya Ayu sambil memandang wajah Pras.
"Kamu satu-satunya wanita yang ada disampingku, memberiku dukungan hingga berjuang bersama ku demi mewujudkan mimpiku. Kamu ada saat suka maupun duka," jawabnya.
"Apakah aku berarti untukmu?."
"Jika tidak kenapa kamu menjadi tamu istimewa di pestaku? lalu untuk apa aku mengajakmu hari ini? untuk apa aku selalu antar jemput kamu setiap hari? itu karena aku gak mau kamu kenapa-kenapa, aku gak akan rela jika ada yang nyakitin kamu."
__ADS_1
Akhirnya ia mendapatkan apa yang selama ini dia idamkan, seorang pria yang tak hanya mencintainya tapi juga ada untuk melindunginya. Satu buliran air mata menetes di atas dada Pras, itu merupakan tanda bahwa satu hati telah bermuara dengan baik.