
Hari itu dengan sengaja Zahira datang ke kantor Pras untuk memberinya makan siang, meski ia mengelola sebuah restoran tapi Zahira tetap ingin Pras hanya makan hasil masakannya.
Sebenarnya itu hanya alasan atas satu tujuannya, ia ingin bertemu dengan Ayu dan bicara dengannya. Dari Sarah ia mengetahui Atu bekerja di sebuah kantor dekat restoran, karena itu ia datang ke sana.
Dari simpang jalan ia mengintai hingga melihat Ayu yang berjalan menyebrang, tak disangka Ayu masuk ke restoran Pras dan memesan makanan di sana.
Ini membuat Zahira berfikir bahwa selama ini mereka selalu makan bersama, amarah sudah berada di ujung ubun-ubunnya namun sebisa mungkin ia bersabar.
Menghembuskan nafas demi membuang amarah itu Zahira pun berjalan masuk ke restoran.
"Hai!" sapanya kepada Ayu.
"Kau? oh hai," balas Ayu kaget bukan main.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, boleh aku bergabung?" tanya Zahira.
"Ya, tentu, silahkan," sahutnya meski dengan perasaan tak nyaman.
Zahira pun duduk tepat di depan Ayu, memesan secangkir kopi dan mulai bicara.
"Kau makan sendiri? tidak ditemani pacar?" tanyanya dengan memasang wajah polos.
Tentu pertanyaan itu membuat Ayu seketika membeku, menatap Zahira yang masih tersenyum padanya dengan perasaan jijik ia menjawab.
"Tidak."
"Kenapa? apa kalian sedang LDR?" tanya Zahira lagi.
"Tidak, dia sedang sibuk bekerja saat ini."
"Oh begitu," sahut Zahira.
Matanya kemudian menangkap kalung yang di pakai Ayu, itu adalah perhiasan yang sama yang diberikan Pras kepadanya. Melihat Ayu memakainya memebuat Zahira semakin benci pada perhiasan itu.
"Kalung itu," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari leher Ayu.
"Apa pacarmu yang memberikannya?" tanyanya.
__ADS_1
"Oh, benar. Karena dia ingin memberikan hadiah aku meminta kalung ini karena sedang ngetren," jawabnya sambil mengusap halus lehernya.
"Sudah kuduga," tukas Zahira yang membuat Ayu menatap heran.
"Suamiku membelikan kalung yang sama, entah apa yang dia pikirkan padahal dia tahu aku tidak suka barang pasaran. Ah, jika tidak bersama ku dia memang tidak tahu mana perhiasan dan kerikil."
Ucapan Zahira betapa tajam hingga mengiris hati Ayu, itu adalah sebuah penghinaan yang tidak bisa ditolerir.
"Ah aku baru ingat ada pekerjaan lain, aku mohon undur diri. Selamat menikmati makanan mu," ujar Zahira sambil bangkit.
Mata Ayu yang mulai berkaca-kaca menatap kepergian Zahira hingga keluar restoran, dan saat ia melihat Zahira masuk ke dalam mobil ia sadar mobil itu mirip dengan mobil yang dibelikan Pras.
Sialnya saat Pras memberikan mobil itu ia memuji selera Pras yang bagus, tanpa ia ketahui bahwa itu adalah selera Zahira.
Tak langsung pulang ke rumah Zahira mampir ke rumah panti, menengok anak-anak di sana dan Fariz. Meski sibuk dengan bisnisnya Zahira kini tahu Fariz akan tetap datang ke panti untuk menengok, hari ini Zahira membawa banyak pakaian serta alat tulis untuk anak-anak yang membuat mereka senang.
"Makasih ya Za udah mau beliin mereka alat tulis," ujar Fariz.
"Bukan hal besar ko," sahut Zahira sambil mengibaskan tangan.
"Ya ampun, andai aku kerja pasti aku bakal jadi donatur tetap buat panti ini. Sayang aku hanya mengandalkan mas Pras," keluh Zahira.
"Gak apa-apa ko Za, jangan di paksain! aku udah dapet calon donatur ko, dia orang Taiwan dan sayangnya kami belum dapat orang yang bisa bicara dengannya."
"Taiwan? bagaimana kalau aku aja yang bicara?" seru Zahira.
"Emang kamu bisa bahasa Taiwan Za?" tanya Fariz.
"Ya ampun... aku kan dulu kerja di Taiwan, jadi tentu aku bisa bahasa Taiwan."
"Alhamdulillah... makasih ya Za, gak nyangka ternyata selama ini orang yang aku cari itu adalah kamu!" ujar Fariz bahagia.
Tangannya secara reflek memegang kedua tangan Zahira sambil menebar senyum yang di balas Zahira, namun perlahan senyum itu memudar saat kebahagiaan Fariz digantikan oleh rasa cinta yang terlalu lama ia pendam.
Perasaan yang terlalu kuat hingga tersampaikan langsung kepada Zahira, untuk pertama kalinya jantung Zahira berdegup kencang karena Fariz.
Tanpa mereka sadari seseorang memergoki mereka yang tengah saling pandang dan berpegangan tangan, itu adalah Dimas.
__ADS_1
Meski ia marah kepada Fariz tapi rumah panti adalah rumah kedua baginya, ia tak bisa menelantarkan anak-anak yang bernasib sama sepertinya.
Ia berniat untuk menengok anak-anak itu tapi yang ia temukan justru Fariz dan Zahira, melihat tatapan keduanya Dimas tahu ada sesuatu yang lebih diantara mereka.
Sesuatu yang membuatnya sakit hati, tanpa pikir panjang Dimas berlari ke arah mobilnya. Memangnya dengan kecepatan tinggi untuk berhenti di rumah Kiki, langkahnya yang dibarengi emosi mengetuk pintu rumah itu dengan tak sabar.
Ceklek
Kiki yang membuka pintu itu cukup kaget akan kehadiran Dimas, ditambah raut wajahnya yang marah membuatnya penasaran.
"Ada apa?" tanya Kiki.
"Kau sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mu, kau meninggalkan ku demi seorang sahabat yang telah bersama sejak kecil tapi kau tidak tahu apa-apa tentangnya."
"Dimas apa yang kau bicarakan?" tanya Kiki semakin tak mengerti.
"Fariz! dia orang yang membuatmu berpaling dariku tanpa kau ketahui di belakang mu dia bermain dengan wanita lain!" teriak Dimas penuh emosi.
"Jangan konyol! kau yang tidak tahu apa-apa tentang kami!" balas Kiki tegas.
"Kau tidak percaya? aku melihat dengan mata kepala ku sendiri Fariz bermesraan dengan wanita yang sering ia sebut-sebut, teman masa SMA kalian."
Dengan gambaran itu Kiki sudah bisa menebak bahwa yang dimaksud Dimas adalah Zahira, itu mengejutkan tapi sekaligus membuat Kiki bahagia.
"Jika itu benar Zahira maka aku siap untuk di madu, akan ku siapkan mahar tinggi untuknya."
"Apa kau gila?" seru Dimas tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Satu-satunya kegilaan ku hanyalah meskipun kita sedekat ini tapi hatimu sudah mati untuk ku, tidak ada rasa percaya bahkan kau menghina cinta ku."
"Kau berkhianat di belakang mu mana bisa aku memaafkan mu?" bentak Dimas.
"Dan kau menghina ku mana bisa aku juga memafkan mu? ketahuilah satu hal Dimas, Fariz hanya mencintai Zahira dan akulah yang telah berdosa telah merenggut kebahagiaan mereka. Andai ibu masih ada tentu dia akan mengatakan hal yang sama dengan ku."
"Jangan bawa-bawa nama ibu! kau dilarang menyebut namanya!" perintah Dimas tegas.
"Kau benar, selama hidup dia telah sakit ditinggal putranya seorang diri. Meskipun setiap hari aku menjenguknya tapi matanya selalu basah karena kerinduan, setiap hari yang ia lakukan hanya menulis surat untuk putranya yang tak pernah ia kirimkan karena takut mengganggu mu. Setiap hari ia menderita dan kau tidak pernah tahu karena kau sibuk dengan kesedihan mu sendiri," ujar Kiki yang membuat Dimas tertegun.
__ADS_1