Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 15 Berpapasan


__ADS_3

Tertegun, terpesona. Rupanya Bagas lebih dari ekspetasinya, dengan ketampanan yang ia miliki seharusnya ia tak perlu takut untuk sebuah penolakan.


Itulah yang janggal, yang membuat Kiki menempatkan sebuah perisai pada hatinya agar tidak jatuh dengan mudah.


"Tidak masalah, meskipun sebenarnya memang itu cukup mengerikan" sahut Kiki.


"Sungguh? kau pikir itu mengerikan? maksud ku... tidak romantis?" tanya Bagas terkaget.


"Tindakan mu itu bentuk kriminalitas yang termasuk dalam kategori penguntit, hanya wanita sakit yang menganggap hal itu romantis"


"Ah maafkan aku, aku pikir justru kau akan senang tapi malah sebaliknya.. aku sungguh ceroboh dan tidak berpikir ke arah sana" ujar Bagas panik.


"Lupakan, aku tidak akan membesarkannya. Sekarang kita sudah bertemu jadi bisa di bilang kau telah menebusnya dengan benar"


"Sekali lagi aku minta maaf" ulang Bagas.


Jelas wajahnya di penuhi sesal, itu membuat Kiki berpikir bagaimana bisa pria itu melakukan hal yang tidak di masuk akal tanpa pikir panjang.


"Aku... sering melihatmu, aku merasa kagum pada sifatmu yang pekerja keras juga baik. Aku... berniat untuk mengesankan mu dengan berbagai hadiah kecil itu, tapi tak kusangka itu justru membuat ku terlihat buruk di matamu" jelas Bagas.


"Kau... sering melihatku?" tanya Kiki yang tak menyangka ia selalu di awasi.


Tak banyak yang mereka obrolkan, Kiki terlalu merasa canggung bahkan terkesan takut. Ia tak biasa menghadapi pria seperti Bagas apalagi dengan sikapnya yang menunjukkan pendominasi, ia memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu.


Dengan cepat ia meninggalkan restoran, berjalan di trotoar sambil sesekali melirik ke belakang hanya untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.


Sialnya malam semakin larut sehingga taxi yang lewat semakin jarang, pikirannya mulai melayang pada hal negatif. Cukup normal setelah bertemu pria yang aneh, bahkan degup jantungnya mulai tak beraturan.


Tttiiiiiiitttttt


Aaaaaaaaaahhhhh....


"Kiki!" teriak Dimas dari dalam mobil.


Segera Kiki membuka mata, badannya yang meringkuk pun perlahan berdiri tegak.


Hhhhhhhhhh


"Aku pikir kamu siapa!" ujarnya dengan suara bergetar.


Melihat wajah ketakutan Kiki Dimas pun segera turun, menghampirinya untuk mengajukan pertanyaan.


"Kamu kenapa? kamu baik-baik aja kan?"


"Ya.. aku baik"


"Tapi wajah mu pucat kayak habis ngelihat hantu"

__ADS_1


"Um... sebaiknya kita jalan dulu yuk! nanti aku ceritain di mobil" sahutnya.


Dimas menurut, ia segera membukakan pintu untuk Kiki. Dalam perjalanan pulang setelah merasa aman Kiki pun menceritakan apa yang membuatnya takut.


"Serius? ya ampun Ki untung kamu gak di apa-apain, sebaiknya mulai sekarang kamu hati-hati ya" ujar Dimas khawatir.


"Aku gak nyangka bakal berurusan dengan orang seperti itu, memang sebaiknya aku menghindar"


"Ya, kalau kamu ketemu orang seperti itu sebaiknya memang tidak di layani. Terlalu bahaya Ki, di balik keramahannya pasti ada sesuatu jahat yang tersembunyi"


"Ah.. apa mulai saat ini sebaiknya aku juga jaga jarak denganmu?"


"Kenapa?" tanya Dimas heran.


"Sebab kau juga selalu ada kemana pun aku pergi, bukankah ini cukup aneh kalau hanya kebetulan?" tanya Kiki dengan nada bergurau.


"Kau benar" sahut Dimas serius.


Itu membuat senyum Kiki menghilang, ia mulai parno dan mencoba meneliti wajah Dimas.


"Maksudmu... kau.. sengaja menguntitku?" tanya Kiki hati-hati.


"Tentu saja tidak!" bantah Dimas tegas.


"Tapi kau bilang pertemuan kita bukanlah kebetulan"


"Ya, memang begitu. Pertemuan kita bukanlah kebetulan melainkan takdir, mungkin sudah jalannya aku harus selalu berpapasan dengan mu di jalan" jelas Dimas.


"Hahaha tapi itu benarkan? terlalu sering jika di bilang kebetulan" ucap Dimas sambil tertawa.


"Seperti katamu, mungkin takdir kita untuk selalu bertemu di jalan"


"Bagaimana jika takdir kita lebih dari itu?" tanya Dimas.


"Maksudmu?"


"Bagaimana jika takdir kita tidak hanya berpasangan di jalan tapi juga KUA?" tanya Dimas sedikit menggoda.


"Kalau begitu itu bukan berpapasan namanya, tapi bertemu" balas Kiki seraya tersenyum.


"Bertemu... tapi aku merasa seperti menemukan" sahut Dimas lagi kini dengan tatapan hangat yang hanya tertuju pada Kiki.


Memunculkan sebuah perasaan aneh di hati Kiki, sesuatu seperti magnet yang memaksa matanya untuk membalas tatapan itu.


Dimas segera memalingkan pandangannya kembali ke depan, melihat jalan sebab ia sedang menyupir. Sementara Kiki masih melekatkan pandangannya, mencari arti dari sebuah senyuman yang terlukis di bibir Dimas.


"Ki, jika... aku memegang tangan mu apa kau akan marah?" tanya Dimas sekonyong-konyong.

__ADS_1


"Hah?" tanya Kiki yang tak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu.


Ia tak bisa menjawab, hanya terdiam masih memandangi Dimas. Sejenak Dimas membalas tatapan itu, tersenyum sebelum ia tempatkan telapak tangannya di punggung tangan Kiki.


Kulit mereka yang bersentuhan membuat debaran jantung Kiki begitu cepat, sehingga ia takut jantungnya akan keluar begitu saja.


"Kau tidak marah" ujar Dimas pelan.


Kiki hanya tersenyum, sementara keheningan pun hadir diantara mereka. Senyap yang nikmat, memberi waktu pada hati untuk saling merasakan kebahagiaan tersendiri.


* * *


Terakhir jadwalnya periksa kandungan Zahira tidak ingin terlambat, begitu juga dengan Pras yang ingin segera melihat wajah buah hatinya.


Pagi sekali mereka sudah berangkat walaupun jadwal pemeriksaan pukul delapan, bagi mereka lebih baik menunggu di sana dari terjebak macet dan terlambat.


"Mas.. aku sedikit lapar" keluh Zahira saat mereka di suruh menunggu oleh seorang perawat yang bertugas.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Pras sambil mengelus tangan Zahira.


"Um.... roti melon, sama gorengan" jawab Zahira setelah merenung.


Pras sedikit mengerutkan kening mendengar permintaan istrinya yang cukup aneh, tapi mengingat bahwa saat ini Zahira sedang berbadan dua maka ia pun mengangguk.


"Kalau begitu kamu tunggu sebentar ya.. " ujarnya sebelum pergi.


Zahira menurut, dengan sabar ia menanti kepergian Pras untuk memenuhi keinginan perutnya yang sudah keroncongan padahal sebelum pergi ia sudah sarapan.


"Za, kamu lagi apa di sini?" tanya Fariz yang tak sengaja melihatnya.


"Hai.. aku ada janji sama dokter kandungan, kamu sendiri lagi apa?"


"Aku lagi nganter ibu panti, ada anak yang sakit jadi... yah... " jawabnya yang segera di mengerti oleh Fariz.


Ada sedikit kecanggungan diantara mereka, mungkin itu karena Fariz yang tak tahu harus bersikap bagaimana sebab ini adalah kali pertama mereka bicara berdua setelah sekian lama.


"Kamu pasti sibuk banget ya, aku dengar dari Kiki kamu jadi pengurus panti" ujar Zahira.


"Yah... begitulah.. "


"Lalu gimana kuliah mu?"


"Alhamdulillah semuanya lancar... " sahut Fariz.


"Syukurlah" balas Zahira.


Sejenak mereka terdiam, sama-sama bingung harus bicara apa atau bertanya apa. Sampai Pras akhirnya kembali, melihat bagaimana Zahira di rangkul dengan begitu mesra membuat Fariz sedikit gondok.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu ya Za, semoga pemeriksaannya berjalan lancar" ujarnya yang tak tahan berlama-lama melihat pemandangan itu.


"Oh ya, makasih... semoga anak panti itu juga segera sehat lagi" balas Zahira.


__ADS_2