
Satu persatu kebutuhan mulai disiapkan hingga akhirnya terpenuhi, kini hanya tinggal menunggu hari dimana alam akan menyambut sebuah kelahiran baru.
Semakin cepat waktu berlalu semakin gugup perasaan Zahira dalam menghadapinya, berbagai kecemasan timbul yang membuat hubungan terkadang merenggang.
Mengingat bagaimana kebutuhan yang mereka perlukan tentu hal utama yang menjadi sumber segala hal adalah uang, satu benda yang teramat penting.
Memperbudak Zahira hingga enggan melepaskannya untuk apa pun, membuatnya serakah karena cemas akan masa yang akan datang.
Semakin banyak ketakutan yang mengelabui matanya semakin buta dirinya, pada akhirnya wajahnya sering ditekuk karena berbagai kesalahpahaman.
Satu lagi kesalahpahaman menambah huru hara rumah tangga itu, tatkala Zahira menemukan sebuah pesan yang masuk ke dalam handphone suaminya.
'Kaka sudah terima uangnya, sudah kaka catat juga dalam buku tabungan' merupakan pesan singkat yang membuat langkah Zahira cepat menemui Pras.
"Mas, kamu kirim uang apa ke ka Nisa?" tanyanya galak.
"Uang?" balas Pras lugu.
"Iya.. kak Nisa baru aja kirim pesan kalau uang yang kamu kirim udah dia terima" jelasnya.
"Oh... itu uang tabungan dek, mas minta ka Nisa buat simpen uang tabungan kita"
"Lho? kenapa kamu simpen di kak Nisa? aku istri kamu lho mas... kenapa kamu gak pernah tanya aku dulu tentang hal ini?" tanya Zahira merasa tersinggung.
"Emang apa salahnya? kak Nisa itu kakak aku lho dek, dia bisa di percaya ko soal nyimpen uang"
"Jadi menurut kamu aku gak becus gitu nyimpen uang?" tanya Zahira semakin kesal.
"Ya karena semua uang yang aku kasih ke kamu pasti abis, setiap aku tanya selalu ada aja alasannya. Sebentar lagi kamu mau lahiran, kalau aku gak nabung di kak Nisa mau dapat uang dari mana kita buat biaya persalinan?" balas Pras naik pitam.
"Mas! semua barang atau apa pun yang aku beli itu buat kebutuhan kita juga.. gak pernah aku foya-foya pake uang kamu, lagi pula di pake belanja kebutuhan sehari-hari aja uang kamu tuh gak cukup!"
"Bukan uang aku yang gak cukup tamu kamu yang gak bersyukur!" teriak Pras dengan mata melotot.
Amarah telah memenuhi isi kepalanya hingga seluruh wajahnya memerah, urat tegang jelas nampak di leher dan dahinya.
Zahira terdiam, terlalu sakit hatinya untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Pras telah menginjak harga dirinya sebagai istri dengan menyembunyikan sesuatu darinya, dan kini ia menoreh luka dengan menuduh semua adalah salah Zahira.
"Oke, terserah kamu mas.. " hanya itu ucapan yang mampu keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Sementara air mata mengalir dan semakin deras saat ia pergi ke kamar untuk mengurung diri. Setidaknya waktu telah berlalu selama tiga jam, ruangan yang hening itu pecah oleh sebuah ketukan di pintu.
Zahira terdiam, enggan menjawab apalagi bangkit untuk membukanya.
Klik
Tahu bahwa ia akan di abaikan Pras membuka pintu itu sendiri, mendapati istrinya masih merajuk di atas ranjang ia pun segera berjalan mendekat.
"Dek... ini udah malam, kamu belum makan lagi?" tanyanya lembut.
Zahira tak perduli, ia diam bagai patung dan sikapnya dingin layaknya es.
"Jangan gitu dek.. kamu harus inget kandungan kamu, makan dulu yuk!" ajaknya namun Zahira masih membisu.
Hhhhhhh
Cukup lelah menghadapi sikap Zahira jika telah datang merajuk, Pras hanya bisa menghembuskan nafas sambil menguatkan hatinya.
"Maafin mas ya... mas gak bilang apa-apa soal uang itu, mas juga udah nyinggung perasaan kamu. Mas cuma mau nyiapin masa depan kita gak lebih... " ujarnya.
Satu tangannya ia taruh di atas lutut Zahira yang tertekuk, sementara tangan yang lain membelai lembut helaian rambutnya yang panjang.
"Uang itu sengaja mas simpen buat biaya persalinan kamu, kita kan gak tahu apa yang bakal terjadi di masa depan jadi mas ambil langkah siaga. Setelah persalinan kamu selesai uangnya bakal mas pintain dan kamu yang simpen ya.. " lanjutnya.
Pras mengangguk dengan yakin, itu membuat satu garis senyum melintang di pipi Zahira. Memaafkan satu kesalahan itu Zahira pun menyenderkan kepalanya di bahu Pras, membiarkan tangan Pras memeluknya dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Sekali lagi maafin mas ya dek" ujar Pras.
"Iya mas, maafin aku juga.. " balas Zahira.
* * *
Rutinitas Kiki yang membuatnya sibuk rupanya tak memudarkan semangatnya dalam menjalani hari, justru semakin hari ia semakin bersemangat dalam menghadapi berbagai rintangan.
Atas kerja kerasnya ia menjadi salah satu gadis yang populer di kalangan mahasiswa lainnya, terlebih untuk mereka yang aktif di bidang sosial.
Yang tak pernah ia duga adalah ternyata diam-diam beberapa pria menaruh hati padanya, membayangkan berjalan bersamanya dalam ikatan yang erat.
Kiki baru menyadari hal ini ketika ia menerima setangkai bunga tanpa pengirim, dilanjut dengan hadiah kecil lainnya yang membuatnya semakin penasaran.
__ADS_1
Hingga pada suatu hari rasa penasarannya akan terbayar, sepucuk surat di terimanya yang berisikan sebuah undangan makan malam.
Tentu ia akan datang, memenuhi undangan sang penggemar rahasia untuk mengungkap identirasnya.
Ia tak ingin berdandan berlebihan, itu bukan gayanya. Maka cukuplah makeup tipis dengan dress sederhana namun cukup menunjang penampilannya, menarik nafas panjang ia pun siap untuk pergi.
Restoran tempat dimana pertemuan itu berlangsung tidaklah jauh, dalam waktu beberapa menit saja ia telah sampai.
"Selamat malam nyonya, selamat datang di restoran kami. Apakah anda sudah memiliki pesanan?" sambut seorang pelayan saat ia tepat memasuki ruangan.
"Ya, untuk meja no 08" jawabnya.
"Silahkan ikuti saya" perintahnya.
Kiki membalas senyuman ramah pelayan tersebut, berjalan tepat di belakangnya dan membiarkan dirinya di layani dengan baik hingga sampai di mejanya.
"Um... aku masih menunggu teman, bisakah aku minta air putih dulu?" tanyanya.
"Tentu" balas pelayan itu yang kemudian segera pergi.
Dengan tak nyaman Kiki menatap sekelilingnya, betapa semua kemewahan restoran itu membuatnya cukup canggung.
Karena ini adalah restoran yang di pilih oleh penggemar rahasianya maka ia menebak orang itu pastilah kaya dan berkelas, jika tidak pasti dia seorang penipu ulung yang memiliki gengsi tinggi.
Apa pun itu sebentar lagi ia akan melihatnya, cukup membuatnya tak sabar hingga terus menerus melirik ke arah pintu.
"E-hmmm, selamat malam... " sapa seseorang dari belakang.
Kiki segera menoleh, mendapati seorang pemuda dengan perawakan tinggi dan cukup tampan.
"Malam.. " sahutnya.
"Apa... kau sudah menunggu lama?" tanyanya berjalan ke depan.
"Tidak, hanya beberapa menit saja"
"Maaf karena mengundang mu seperti ini, maaf juga karena telah mengganggumu dengan berbagai barang tanpa surat"
"Jadi itu kau?" tanya Kiki.
__ADS_1
Pemuda itu tersenyum, mengulurkan tangannya dan berkata.
"Perkenalkan, namaku Bagas."