
Tok Tok Tok
Ketukan di pintu itu membangunkan Zahira, mengetahui Pras telah pulang segera ia menghambur keluar kamar untuk menyambut.
"Mas," sapanya sambil mengambilkan tas kerja Pras.
"Dek, maaf ya mas pulangnya larut banget. Tadi banyak yang harus mas kerjain dikantor," ujarnya.
"Iya mas gak apa-apa, kamu mau makan? biar aku angetin dulu lauknya."
"Gak usah, mas udah cape jadi mau langsung tidur aja."
Zahira mengangguk, ia pun membantu Pras melepaskan jasnya. Tapi saat ia hendak menyimpannya di keranjang tangannya merasakan sesuatu di bagian saku, penasaran Zahira merogoh dan menemukan sebuah lipstick berwarna merah.
"Mas, ini... " tanya Zahira tanpa menyelesaikan kalimatnya.
Sejenak Pras terdiam, tapi kemudian ia tersenyum dan memeluk Zahira.
"Mas belikan itu buat kamu," bisiknya.
"Untuk ku? tapi aku kan gak suka warna merah mencolok seperti ini!" ujarnya.
"Mas pengen liat kamu pakai saat kita berdua, sekali-kali Mas ingin liat sisi sexinya istri Mas."
"Ih dasar nakal!" gerutu Zahira dengan setengah tertawa.
"Lho gak apa-apa kan? Mas berhak kan liat istri dengan pakaian apa pun."
"Hmm, iya deh. Nanti aku coba pakai ya," sahut Zahira sembari tersenyum malu.
Melanjutkan pekerjaannya Zahira membereskan pakaian kotor Pras sebelum akhirnya ikut tidur, sementara kesal yang timbul akibat lipstick itu membuat Pras tak bisa tidur dengan tenang.
Untung baginya Zahira tak curiga, ia begitu mencintai Pras sehingga termakan bualan begitu saja. Ia berperan sebagai istri baik yang bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, setelah Pras berangkat kerja ia hanya akan dirumah untuk mengurus rumah dan anaknya Anisa.
__ADS_1
Telah memendam rasa kesal sejak semalam sebelum pergi bekerja Pras menyempatkan datang ke rumah Ayu, sekedar hanya untuk menegurnya.
"Mas! kamu mampir?" tanya Ayu senang akan kehadiran Pras.
"Aku perlu bicara sama kamu," ujar Pras sambil masuk kedalam rumah.
"Ada apa Mas?" tanya Ayu segera menutup pintu.
"Kenapa kamu gak hati-hati? hampir aja aku ketahuan gara-gara Zahira nemuin lipstick di saku jas aku!" gerutu Pras langsung pada intinya.
"Aku gak tahu," hanya itu yang bisa Ayu katakan padahal sebenarnya ia sengaja menaruh lipsticknya untuk membuat sedikit drama di keluarga Pras.
"Lalu bagaimana?" tanyanya.
"Aku berhasil meyakinkan Zahira kalau lipstick itu aku beli untuknya," sahutnya.
Dari jawaban itu Ayu sadar kalau Zahira mudah untuk dikelabui, ia menaruh kepercayaan besar pada Pras dan inilah yang akan ia jadikan senjata demi mencapai tujuannya.
"Lain kali aku akan hati-hati, maafkan aku mas..." ujar Ayu dengan wajah penuh sesal.
* * *
Ia sudah memutuskan akan menceritakan alasan dibalik pernikahannya dengan Fariz kepada Dimas, meski sulit tapi ia yakin pada akhirnya Dimas akan percaya padanya.
Dengan sengaja ia mendatangi rumah Dimas, mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali sampai Dimas membukanya.
Begitu melihat Kiki seketika wajah Dimas menjadi kaku, bahkan sikapnya dingin seperti bongkahan es kutub.
"Ada apa kamu datang kesini?" tanya Dimas.
"Ada yang perlu kita bicarakan," sahut Kiki.
"Jika itu tentang keputusan kamu untuk menikah dengan Fariz maka tidak perlu, aku cukup mengerti dan sadar diri bahwa kisah kita tak perlu dibesarkan sebagai cinta."
__ADS_1
Betapa sakit hati Kiki mendengar ucapan itu, bagai panah yang telah menancap dijantungnya kemudian ditarik dengan kasar sehingga darah mengalir deras menghabiskan jiwanya.
Kini rangkaian kata yang telah ia susun sedemikian rupa agar Dimas mengerti tertahan ditenggorokannya, tak mau keluar seolah takut ia akan menjadi omong kosong.
Sebagai gantinya hanya ada air mata yang mengalir disana, membasahi pipi yang sudah tak lagi merona.
"Apa yang membuat matamu basah? apakah kamu merasa bersalah? seperti itulah wanita, selalu merasa paling tersakiti padahal dia yang menoreh luka!" ujar Dimas tegas.
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? ini bukan Dimas yang aku kenal, Dimas tidak akan pernah menyakiti hati seseorang apalagi wanita!" sergah Kiki.
"Sebaik apa pun pria jika perjuangannya dihina maka jangan harap akan ada kata manis keluar dari mulutnya, ingatlah bahwa kamu yang berjanji akan menungguku tapi malah meninggalkan ku."
"Aku akan jelaskan semuanya! alasan mengapa aku menikahi Fariz, itu semata hanya untuk menyelamatkan anak ku. Demi masa depannya, agar ia lahir tanpa hinaan orang!" jelas Kiki penuh emosi.
"Maksud kamu? kamu... hamil... sebelum menikah?" tanya Dimas memperjelas.
Deraian air mata Kiki berhenti seketika, tanpa mengatakan apa pun itu adalah jawaban bahwa apa yang dikatakan Dimas adalah benar.
"Aku gak percaya ini, kenapa kamu serendah ini Ki!? kamu benar-benar sudah mengkhianati aku! berani sekali kamu lakukan hal itu dengan Fariz!" teriak Dimas murka.
Tertegun, tak ada yang bisa Kiki katakan karena syok. Sementara Dimas terus melontarkan hinaan yang tak bisa lagi ia dengar akibat kecewa sudah menutup telinganya.
"Entah mengapa kamu menghina ku seperti ini, bukankah kita saling mencintai? cinta yang membuat kita saling menyentuh, apa kamu lupa hari dimana kita bersama sebelum kamu kenalkan aku sama ibu?" tanya Kiki pelan.
"Ya, aku ingat! dan itu membuat ku jijik! aku gak nyangka ternyata bukan cuma aku pria yang menyentuh kamu!" hardik Dimas.
PLAK
Seumur hidup ini adalah tamparan pertama yang Dimas dapat dari seorang wanita, bahkan wanita yang pernah menjadi ratu di hatinya.
Rasa sakit di pipinya membuat Dimas mengusap pelan, tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan tamparan yang diberikan Dimas pada hati Kiki.
Sebuah tamparan yang menyadarkan Kiki bahwa Dimas mudah untuk melontarkan hinaan bahkan kepada cintanya sendiri, sebuah tamparan yang membuatnya memilih untuk berhenti mencoba.
__ADS_1
Telah ia putuskan akan diam, biar dipandang hina, diolok atau dikucilkan. Biar semua derita itu ia terima sebagai konsekuensi karena mencintai, cinta yang justru menamparnya dengan sangat keras.