Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 28 Rencana Masa Depan


__ADS_3

Seminggu setelah kepergian Zahira Pras mulai merasa kesepian, tidak ada lagi yang membuatkannya kopi atau merajuk karena masalah sepele.


Ia tak pernah menyangka kepergian Zahira akan sangat berat baginya, jarak yang begitu jauh mengumpulkan rindu kian banyak. Meski beberapa kali Zahira menelpon tetap saja hal itu tidaklah cukup, justru kerinduan semakin hebat terasa.


Begitu juga yang dirasakan bunda, setelah Zahira pergi hampir setiap hari bunda datang untuk menengok cucunya. Cukup kaget juga ia melihat Pras yang rupanya cukup lihai mengurus bayi perempuan, setidaknya itu cukup membuatnya tenang.


Hari berganti hari dan pada bulan pertama dimana Zahira mengirimkan sejumlah uang untuk Pras itu adalah kali pertama air mata Pras terjatuh karena syukur, dalam tangisnya yang tak henti begitu banyak ucapan terimakasih untuk Zahira.


Di negri lain, Zahira yang menerima berbagai pujian dan ucapan terimakasih itu ikut menitikkan air mata.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk keluarga kecil kita, tolong gunakan uang ini dengan baik mas. Tolong penuhi semua kebutuhan Anisa, biarkan dia menikmati jerih payahku," ucapnya.


"Tentu dek, aku akan pergi belanja. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu, mulai saat ini juga aku berjanji akan berhenti main judi! aku akan mengurus Anisa dengan baik! aku tidak akan menyia-nyiakan perjuangan mu!" ujar Pras yakin.


Betapa senang Zahira mendengar sumpah itu, dibalik pengorbanannya yang harus berjuang sendiri di negri orang. Jauh dari buah hati dan kelurga tercinta rupanya memberikan hikmah tersendiri, ucapan syukur pun tak henti ia panjatkan kepada Sang Pencipta yang telah mengatur semuanya dengan sangat baik.


Janji itu benar-benar Pras penuhi, hanya ada Anisa yang mengisi kehidupannya. Menjadi kesibukan yang tak pernah berakhir, saat tiba waktunya Zahira mengirim uang maka pada hari itu juga ia akan membawa Anisa pergi berbelanja.


Saat bulan berganti bulan dengan gaji Zahira akhirnya Pras berhasil membeli sebuah rumah sederhana, ia memotret bangunan itu dan mengirimkannya kepada Zahira.

__ADS_1


Dengan sebuah keterangan kecil bahwa rumah sederhana itu akan ia benahi hingga menjadi istana yang megah, tempat yang siap menyambut ratu yang sesungguhnya.


Satu demi satu rencana masa depan pun mulai ditulis, setiap ada kesempatan untuk mengobrol mereka akan membahas topik rencana masa depan.


Mulai dari rumah yang telah Pras beli dan masa depan Anisa putri mereka, ada banyak hal pula yang ingin Zahira lakukan bersama keluarga kecilnya. Maka telah di putuskan Zahira akan bekerja beberapa tahun lagi untuk mengumpulkan uang, setelah dirasa cukup ia akan pulang dan membuat bisnis baru bersama Pras.


Mematangkan rencana itu baik Pras atau Zahira sama-sama memegang kendali pada tugas masing-masing, semuanya berjalan dengan sangat sempurna.


Bagai batu tak bercelah, kerinduan yang kian membengkak tidaklah merusak melainkan mengikis pada titip sempurna hingga terciptalah bentuk yang diinginkan.


Sementara waktu terus berjalan, tanpa terasa Anisa kini genap berumur satu tahun. Waktu yang patut untuk dirayakan, Pras mengatur sebuah pesta kecil namun mewah hanya untuk putri kecilnya.


Keluarga besar hadir dalam momen itu termasuk bunda, beberapa teman dekat pun ikut hadir kecuali Zahira yang hanya bisa mendoakan dari jauh.


"Baringkan Anisa dulu, dia pasti lelah!" ujar Dian.


"Baik bu," sahut Pras menurut.


Segera ia membawa Anisa ke kamar, menidurkannya sebelum kemudian ikut membereskan rumah.

__ADS_1


Pekerjaan itu rupanya menyita banyak waktu, sampai lelah Pras dibuatnya. Beruntung dengan bantuan Dian setidaknya Pras bisa menyelesaikannya sedikit lebih cepat, ia juga mendapatkan secangkir kopi untuk menyegarkan diri.


"Aaahh... kopi buatan ibu memang nikmat! sudah lama aku tidak meminumnya," ujar Pras setelah menyeruput.


Sebagai seorang ibu Dian sangat paham apa yang tengah dirasakan putranya, ia juga paham apa yang dibutuhkan Pras.


"Bagaimana kabar teman-teman mu? apa mereka baik-baik saja?" tanyanya.


"Entahlah bu, sudah lama aku tidak menghubungi mereka."


"Kalau begitu tanyalah! sesekali kau juga harus pergi keluar," ujar Dian.


"Inginnya seperti itu, tapi bagaimana dengan Anisa?" tanya Pras.


"Kan ada ibu! biar ibu yang ngurus Anisa sementara kamu pergi keluar. Jangan hanya terpokus pada satu hal, kamu juga butuh bersosialisasi!" sahut Dian.


Pras hanya tersenyum, memang semenjak Zahira pergi ia merasa menjaga Anisa adalah tugas yang paling utama. Tugas yang tak bisa ia lewatkan walau sebentar, meski terkadang ia juga merasa lelah dan bosan tapi seketika perasaan itu lenyap jika mengingat perjuangan Zahira untuk menghidupi mereka.


"Kamu juga butuh hiburan, apalagi sebagai pria rasanya sangat tidak pantas jika kamu terus menjaga rumah seperti pembantu. Ingat kamu punya harga diri Pras! lagi pula masih ada ibukan?" ujar Dian meyakinkan.

__ADS_1


"Terimakasih bu, aku titip Anisa ya!" sahut Pras.


Dian mengangguk, senang melihat Pras memberikan kepercayaan kepada dirinya setelah lama ia sibuk dengan keluarganya sendiri.


__ADS_2