Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 45 Bimbang


__ADS_3

"Dek... mas pulang... " teriak Pras sambil berjalan masuk.


Mencoba menegarkan hati Zahira tersenyum dan menyambut kepulangan suaminya, seperti biasa ia membawakan tas dan membantu melepas jasnya.


"Mas belikan ini untuk Anisa," ujar Pras sambil menyerahkan benda itu.


"Apa itu mas?" tanya Zahira.


"Kelambu, akhir-akhir ini lagi marak penyakit DBD. Mas inget kamar Anisa belum pasang kelambu jadi mas belikan," sahutnya.


Seketika Zahira terdiam, menatap Pras yang segera masuk ke kamar Anisa. Dari pintu ia melihat bagaimana Pras yang masih memakai kemeja dan belum kering keringatnya sudah mengerjakan tugas sebagai ayah, padahal baru tadi siang ia bicara dengan Fariz tentang benda itu kini Pras membawanya pulang.


Sungguh hatinya segera menyadari bahwa Pras adalah ayah yang baik, cinta pertama putrinya yang akan terus memperlakukan Anisa bak ratu.


"Makan dulu mas, aku udah masakin buat kamu. Anisa juga sudah nunggu kamu dari tadi," ajak Zahira.


Pras tersenyum dan mengangguk, selesai memasang kelambu ia membawa Anisa ke ruang makan untuk makan malam bersama.


* * *


"Aku gak bisa Sarah, dia adalah ayah yang baik untuk Anisa. Bagaimana bisa aku menyuruh putri kecil kami untuk memilih antara ibu dan ayahnya? aku baru pulang ke Indonesia dan tidak akan pernah mau berpisah lagi dengan Anisa, tapi Anisa juga tidak mungkin bisa hidup tanpa ayahnya."


Berkali-kali sudah Zahira mengatakan hal tersebut kepada Sarah, saat ini hatinya tengah kemarau tanpa tanda akan diguyur hujan.


"Aku mengerti, sudah ku katakan semua terserah padamu. Jika kau mau bertahan maka lakukan! tapi jika kau juga ingin berpisah tegarkan hatimu!" sahut Sarah.


Andai Sarah belum bertemu Pras maka ia akan terus mendesak Zahira untuk bercerai, ia cukup mengerti betapa sulitnya bagi Zahira melepas suami sesempurna Pras.


"Begini saja, bagaimana kalau kita jalan-jalan di mall? sedikit refreshing supaya kamu gak terlalu tegang," ajak Sarah.


"Entahlah, aku gak mood."


"Siapa yang bakal good mood di situasi seperti sekarang? setidaknya Pras masih memperlakukan mu dengan baik jadi kamu punya banyak waktu untuk merenung."


Zahira mengangguk pelan, setelah banyak berfikir akhirnya ia mau juga pergi. Tak banyak yang mereka lakukan, hanya melihat-lihat tanpa tergoda untuk membeli.

__ADS_1


"Za!" panggil seseorang tiba-tiba.


Mereka menoleh, rupanya itu Fariz.


"Hai," sapa Zahira tersenyum.


"Lagi belanja?" tanya Fariz.


"Ah enggak, cuma jalan-jalan aja. Kamu sendiri?" balas Zahira.


"Mau beli perlengkapan bayi, tapi aku bingung harus mulai dari mana."


"Lho Kiki kemana?" tanya Zahira heran.


"Dia lagi nemenin ibu di rumah sakit."


"Tante sakit?"


"Enggak, cuma cek up doang. Soalnya akhir-akhir ini tensi darahnya naik mulu," jawab Fariz.


Lanjut bicara Fariz memanfaatkan mereka untuk dimintai tolong, sebagai para ibu ia yakin Zahira dapat membantunya. Karena sedang senggang mereka pun setuju, pertama mereka pergi untuk membeli popok.


"Kamu butuh untuk anak mu kan?" tanya Zahira.


"Bukan, ini untuk bayi di panti. Kira-kira umurnya sekitar lima bulan," sahut Fariz.


Zahira mengangguk mengerti, meski meninggalkan Anisa di usia yang masih kecil tapi ia tetap tahu perkembangan anak hingga bisa memilih popok yang sesuai.


Banyak menyita waktu akhirnya mereka selesai belanja, sebagai ucapan terimakasih Fariz menawarkan makan siang. Dengan senang hati mereka menerimanya, obrolan santai pun berlanjut dengan mengenang masa-masa SMA mereka.


"Aku gak nyangka kamu masih sering ketemu sama temen sekolah," ujar Sarah setelah Fariz pamit sebab kehadirannya sudah ditunggu di panti.


"Sebenarnya kami bertiga sahabatan, aku, Fariz dan Kiki. Meski sudah sibuk dengan urusan masing-masing tapi pertemanan kami masih terus terjalin dengan baik," sahutnya.


"Sungguh? tapi entah kenapa aku merasa Fariz tidak hanya menganggap mu sebagai teman," ucap Sarah sambil mengingat bagaimana perlakuan Fariz kepada Zahira.

__ADS_1


"Sebenarnya memang Fariz memiliki hati untuk ku, dia pernah menyatakannya tapi pada saat itu aku sudah menikah dengan mas Pras," akuinya.


"Kalau begitu kenapa kamu gak cerai saja dan menikah dengan Fariz? dia keliatannya orang yang baik."


"Jangan konyol! Fariz sudah menikah dengan Kiki bahkan mereka punya seorang putra yang usianya tak jauh dari Anisa," sergah Zahira.


Sarah cukup kaget mendengarnya, ia tak mengira akan ada hal seperti itu.


"Sebaiknya kita pulang, hari sudah mulai sore dan aku takut mas Pras sampai di rumah duluan," ajak Zahira.


Sarah mengangguk setuju, mereka pun berjalan hendak keluar. Tapi belum sampai lima langkah Zahira menatap pemandangan memuakkan yang mengiris hatinya, meski sedikit jauh tapi ia bisa mengenali pakaian Pras yang dia bantu kenakan tadi pagi.


Berjalan perlahan ia mengikuti Pras yang gandeng Ayu memasuki toko perhiasan, Sarah yang juga melihat hal itu hanya diam cemas menatap Zahira.


Kini bersembunyi di balik tembok Zahira dapat melihat dengan jelas Pras yang tengah tersenyum dan membantu Ayu mencoba beberapa perhiasan.


Sarah sudah berfikir Zahira akan melabrak suaminya mengingat genggaman erat tangan Zahira menahan emosi, tapi yang ia lakukan justru pulang tanpa sepatah kata.


Di rumah tanpa pegal ia terus melirik jam dinding, dengan setiap detik yang membawa bayangan kemesraan Pras dan Ayu.


Ceklek


Akhirnya pintu terbuka, Pras masuk tanpa terlambat seperti biasanya. Bahkan pakaiannya yang berantakan sama seperti hari-hari yang dulu, sungguh itu membuat Zahira memuji kepandaian Pras dalam menyembunyikan perselingkuhannya.


"Mau mandi dulu mas? aku sudah siapin airnya buat kamu," tanya Zahira dengan sedikit senyum.


"Nanti dulu dek, mas masih keringetan. Boleh minta kopi aja gak?" sahut Pras.


Zahira mengangguk, segera ia buatkan minuman itu dan menaruhnya tepat di hadapan Pras.


"Mas punya sesuatu untuk mu," ujar Pras tiba-tiba sambil menyerahkan sebuah paperbag kecil.


Melihat logo toko yang tertera pada permukaan paperbag itu Zahira sadar Pras mendapatkannya sewaktu ia bersama Ayu, dan ketika ia mendapati isinya adalah sebuah perhiasan sungguh itu membuat hatinya mengambang tanpa tau arah.


Jelas ia melihat Pras memilihkan perhiasan untuk Ayu, tanpa ia sadari Pras juga membelikan yang sama untuknya.

__ADS_1


Hadiah itu kini menjadi pemberat Zahira untuk melepas Pras, ia tak menyangka meski berselingkuh Pras bisa bersikap adil.


__ADS_2