Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 13 Hujan di Hari Bahagia


__ADS_3

Hujan besar itu menjadi rintangan tersendiri untuk Kiki, lima belas menit telah berlalu dan dia masih di sana belum memutuskan sementara waktu terus berjalan seperti bom.


Dua hari yang lalu seorang gadis cantik bernama Angel memberinya sebuah surat undangan, itu adalah pesta ulangtahun. Sebagai mahasiswa semester awal ini adalah kesempatan emas baginya untuk mengenal sesama mahasiswa, menyadari ruang lingkup Angel yang notabene orang penting juga membuatnya semakin menyadari akan nilai plus dari pesta ini.


Ia telah berniat untuk pergi, memperbanyak pengalaman tanpa lupa menikmati masa muda.


Tapi kini ia terjebak di sana, berteduh di pinggir jalan selama beberapa menit sambil menunggu taksi yang lewat.


Sempat terlintas dalam benaknya untuk menyerah, pesta akan segera berakhir sementara dia masih di sana seperti patung mangkrak.


"Mungkin kali ini kesempatannya sudah terlewat" gumamnya menatap langit tanpa ada tanda-tanda akan cerah.


Di tengah keputusasaan tiba-tiba sebuah mobil melaju pelan ke arahnya, Kiki mundur beberapa langkah saat mobil itu berhenti tepat di hadapannya. Pintu kaca perlahan terbuka, dari dalam Dimas melongo untuk memastikan.


"Kiki! lagi ngapain?" tanyanya.


"Oh, aku lagi nunggu taksi" sahutnya lega mengetahui itu adalah orang yang ia kenal.


"Ayo masuk! ujannya semakin deras" ujarnya.


Kiki mengangguk dan bergegas masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat sebab air hujan itu membasahi tubuhnya.


Melihat Kiki mengusap bagian lehernya yang terbuka Dimas segera memalingkan wajah, sialnya seketika ia dapat mengingat dengan jelas tulang selangka Kiki yang indah. Dengan susah payah ia menelan ludah, mencoba menguasai diri yang hendak tak terkendali.


"Kamu abis dari mana Mas?" tanyanya.


"Hah? oh... baru balik dari rumah teman" sahutnya sedikit gugup.


"Kamu sendiri dari mana?" balasnya.


"Niatnya mau ke rumah teman, tapi kayaknya pestanya udah selesai deh"


"Pesta?" tanya Dimas.


"H-mm, teman ku ngerayain pesta ulang tahun"


"Oh... terus gimana?"

__ADS_1


"Kayaknya aku mau pulang aja deh, soalnya mau pergi juga pakaian ku udah berantakan gini"


"Yaudah, aku antar sekalian" sahutnya.


Dalam perjalanan itu Dimas mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal lain agar matanya tak selalu memandang kecantikan Kiki yang terbuka, apa pun akan ia bicarakan meski itu adalah hal yang membosankan.


Namun tampaknya Kiki menikmati obrolan mereka, semua yang di katakan Dimas begitu ia pahami.


"Kamu ngambil jurusan apa Ki?"


"Desain interior"


"Waw... pantesan Fariz minta bantuan kamu buat ngurusin rumah panti" ujar Dimas kagum.


Kiki hanya tersenyum, tiba-tiba ia teringat masa lalu dimana seragam putih abu-abu masih ia kenakan di hari senin.


"Itu cita-cita ku, sementara Zahira gak tahu mau jadi apa dan Fariz ingin jadi TNI tapi malah gak lulus dan akhirnya pergi mesantren"


"Oh ya? Fariz pengen jadi TNI?" tanyanya seolah tak percaya.


"Mm, dia bilang TNI itu keren... makanya dia pengen jadi TNI"


"Teman ku juga, dia gak punya cita-cita dan pada akhirnya nikah muda. Gimana sama kamu? apa cita-cita mu?" balas Kiki.


"Um... aku cuma pengen bahagiain ibu ku, jadi pengusaha sukses dan bisa kasih rumah mewah buat beliau."


Itu bukan sekadar keinginan, tapi juga sebuah harapan besar yang diam-diam Dimas pinta pada setiap sujudnya. Sebuah keinginan sederhana yang terlampau istimewa untuk seorang anak yang hanya memiliki ibu, rasa haru menyeruak dalam mata Kiki sebab tahu bagaimana kondisi keluarga Dimas.


"Semoga keinginan mu terkabul" sahut Kiki.


"Aamiin... " balas Dimas tersenyum senang.


Tak terasa mereka akhirnya telah sampai, hujan masih turun dengan derasnya maka Kiki mempersilahkan Dimas untuk masuk dulu ke dalam rumah.


"Ko sepi?" tanya Dimas sebab tak ada yang menyambut kepulangan mereka.


"Ibu lagi ke rumah nenek, katanya mau nginep soalnya nenek lagi sakit"

__ADS_1


"Minum Mas?" tawarnya sambil menaruh segelas teh panas.


"Iya Ki, makasih" sahutnya.


"Aku permisi sebentar ya, kamu nyantai aja" ujarnya yang segera di balas dengan anggukan pelan.


Kiki segera pergi dan kembali setelah berganti pakaian, kini Dimas berani menatapnya setelah leher itu tak terlalu terbuka.


* * *


"Kamu mau ngasih kejutan apa sih mas?" tanya Zahira penasaran.


"Nanti juga kamu tahu, namanya kejutan ya gak mungkin dong mas kasih tahu" balas Pras.


Dengan hati-hati Zahira berjalan mengikuti arahan Pras sebab matanya di tutup kain, jantungnya tak bisa berhenti berdebar kencang setiap kakinya melangkah.


"Kamu bediri di sini dan... nah! sekarang buka mata kamu!" ujar Pras.


Zahira segera menghitung dalam hati, saat sampai dalam hitungan ketiga perlahan ia melepas kain di matanya.


"Tara... " teriak Pras kencang.


Pemandangan menakjubkan itu membuat Zahira tak bisa berkata-kata, ia menutup setengah wajahnya dan membiarkan air mata jatuh begitu saja.


"Mas... ini... " ucapannya tak bisa sempurna.


"Usia kandungan kamu kan sudah nginjak tujuh bulan, dua bulan lagi rumah kita akan ramai dengan tangisan bayi. Mas pikir jika di buatkan kamar khusus untuk bayi akan lebih nyaman, menurut penilitian kalau bayi tidur sendiri katanya tidurnya lebih nyenyak dari pada sama orang dewasa" jelas Pras.


Zahira masuk ke dalam kamar itu, menatap berbagai pernak pernik yang telah di pasang. Semuanya begitu lucu dengan khas bayi dan terasa menyenangkan.


"Makasih mas... kamu pasti cape beresin kamar ini sendirian"


"Gak ko dek, walaupun kamar ini lebih luas tapi yang mas beresin cuma buat bayi kita. Rencananya mas mau pindahin satu kasur lagi, awal lahir kan bayi juga gak bisa langsung di tinggal sendiri... jadi kamu bisa nemenin di sini"


"Iya mas, aku ikut kamu aja" jawab Zahira yang sudah senang akan perhatian suaminya.


"Sekali lagi makasih ya mas... aku bersyukur punya suami yang perhatian dan penuh kasih sayang seperti kamu" ujarnya lagi.

__ADS_1


"Sama-sama dek, mas juga ngerasa beruntung banget punya istri yang baik dan cantik seperti kamu" balas Pras.


Satu pelukan menjadi ajang saling mencurahkan perasaan itu, tersenyum bahagia dengan sedikit kelingan haru mengentalkan nuansa melou pada hari diguyur hujan itu.


__ADS_2