Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 8 Permintaan di Rawat


__ADS_3

"Zahira..... Zahira.... "


Teriakan di pagi itu membuat Pras seketika bangun dengan kaget, sementara Zahira yang di panggil tak kuasa bangun sebab pening di kepalanya.


"Ada apa sih mah? pagi-pagi ko udah ribut!" tanya Pras sedikit kesal.


"Dimana istri kamu?" balas Dian bertanya.


"Zahira masih tidur, emang kenapa?"


"Tidur? astaga Pras.... ini sudah siang lho! sarapan belum siap, kerjaan rumah numpuk, berantakan di sana sini dan istri kamu masih tidur? baru kemarin dia dengerin nasihat mamah sekarang gini lagi" omelnya.


"Ya udah si mah, aku bangunin sekarang" ucap Pras kembali masuk kamar.


Sambil mendengus Pras mendekati Zahira, tapi begitu ia menyentuh pipinya dengan cepat Pras menarik tangannya sebab kaget akibat panas tubuh Zahira.


"Dek... " panggilnya pelan sambil memeriksa.


"Ya ampun dek, kamu demam!" teriaknya.


"Mah... mah.. "


"Apa sih Pras? ko teriak-teriak?" tanya Dian menghampiri.


"Mah, Zahira demam. Aku bawa dia ke dokter dulu ya" ucapnya cemas.


"Oh kalau begitu mamah ikut" jawab Dian.


Dalam keadaan tak sadarkan diri Zahira segera di bawa ke rumah sakit terdekat, beruntung Pras sigap sehingga Zahira dapat di tangani dengan cepat.


"Dokter... " panggil Zahira yang baru siuman.


"Siang ibu.. gimana badannya? ada yang sakit?"


"Kepala saya... rasanya pusing sekali dok" sahutnya.


"Tekanan darah ibu terlalu rendah, di tambah demam juga. Tapi semuanya normal ko, ibu hanya perlu istirahat saja" jelas sang dokter.


Zahira terdiam, merasakan tubuhnya yang sakit di sana sini akibat kelelahan. Mencoba bangkit dari tempat tidur ia pun bertanya.


"Apa saya harus di rawat dok?"


"Oh tidak perlu bu, tidak ada yang serius ko" jawabnya seraya tersenyum.


"Kalau... kalau... saya... minta di rawat? bisa gak dok?" tanya Zahira ragu.

__ADS_1


Melihat wajah cemas Zahira senyum sang dokter segera hilang, butuh beberapa menit baginya untuk mengerti keadaan Zahira tanpa kata.


"Bisakah... dokter memberi pengertian kepada mertua saya? agar saya di rawat, dua hari juga tidak apa-apa" lanjut Zahira.


"Saya akan coba bicara" sahut dokter itu dengan senyum hangat.


"Terimakasih dokter, terimakasih banyak" ucap Zahira penuh syukur.


Sesuai permintaan dokter segera memberi penjelasan kepada Dian dan Pras, dalam hal ini Pras tak keberatan namun Dian yang kurang setuju.


Ada banyak pertanyaan dan solusi yang ia berikan agar Zahira bisa di bawa pulang, namun dokter bersikukuh pada keinginan Zahira hingga akhirnya ia mengalah.


"Gimana keadaan kamu dek? udah baikan?" tanya Pras sambil mengusap halus tangan istrinya itu.


Zahira hanya tersenyum kecil sambil mengangguk, sementara Dian memutar bola mata tak senang.


"Baru demam aja udah di rawat, mamah dulu sakit apa pun gak pernah di rawat. Anak sekarang memang terlalu manja, dikit-dikit ke dokter, buat duit aja!" ujarnya ketus.


"E-hm, mah.. kita di rumahsakit.. tolong jangan terlalu berisik" ujar Pras yang sudah tahu ucapan itu akan menyakiti hati istrinya.


* * *


Mendapat kabar akan sakitnya Zahira membuat Kiki berencana menjenguk setelah pulang kerja, melihat bagaimana kesulitan yang dialami Zahira selama ini ia tak bisa abai begitu saja.


"Aahhh... gimana nih? mana gak ada bengkel lagi!" gerutunya.


Dalam kebingungan ia hanya bisa mondar mandir sambil mencari seseorang yang bisa di hubungi, siapa pun yang bisa menjemputnya.


Tiiiittt Tiiiittt


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya, curiga sebab ia tak mengenali mobil itu Kiki segera mengambil sikap siaga.


"Ki!" teriak Fariz membuka kaca.


"Ya ampun... aku pikir siapa, bikin kaget aja tahu!" omelnya menghembuskan nafas lega.


"Kamu lagi apa di sini?"


"Ban motor ku kempes, niatnya aku mau jenguk Zahira di rumah sakit tapi malah ke jebak di sini"


"Zahira sakit?" tanya Fariz segera keluar dari mobil.


Kiki mengangguk dengan sedikit senyum, menyadari masih ada hati untuk Zahira dari Fariz.


"Kalau begitu biar aku antar pake mobil, nanti aku telpon montir buat urusin motor kamu" ujarnya segera mengambil handphone.

__ADS_1


Kiki hanya mengangguk setuju, menerima bantuan Fariz dengan bahagia. Tak butuh waktu la bagi mereka untuk sampai di rumah sakit, dengan segera mereka menemui Zahira yang terbaring lemah dengan selang infusan menempel di tangannya.


"Za.. gimana keadaan kamu?" tanya Kiki cemas.


"Aku gak apa-apa ko, cuma butuh istirahat aja" sahutnya.


Ia melempar senyum dengan bibir pucatnya, membuat Fariz merasa iba hingga ingin merangkulnya. Namun melihat Pras yang duduk tepat di samping Zahira, ia menyadari posisinya.


"Makasih ya kalian udah mau nengokin" ujarnya senang.


"Mana mungkin gak aku tengokin, dari kemarin aku udah curiga kalau kamu sebenarnya sakit" sahut Kiki yang selalu memperhatikan gerak gerik sahabatnya itu.


"Makasih ya Ki, kamu udah jagain Zahira selama di toko. Maaf udah ngerepotin" ucap pula Pras.


"Gak usah di pikirin, ya udah kamu istirahat aja ya.. semoga cepat sembuh" balas Kiki.


Meski masih ingin berara di sana tapi mereka tahu tak baik mengajak orang sakit mengobrol terus, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi agar Zahira bisa beristirahat.


"Huh.... kasian Zahira, ini semua pasti gara-gara mertuanya itu!" omel Kiki dalam perjalanan pulang mereka.


"Maksud kamu Ki? emang ada apa sama mertuanya?" tanya Fariz penasaran.


"Eh, gak apa-apa ko!" jawabnya cepat sambil mengutuki mulutnya yang ember.


"Ada yang kamu sembunyikan ya.. ayolah Ki.. kita temanan udah dari kecil lho" bujuk Fariz.


Awalnya Kiki terdiam, sedikit merenung untuk mengambil keputusan. Akhirnya setelah mengajukan syarat agar Fariz tidak menceritakan pada yang lain ia pun buka mulut, semua keluh kesah Zahira selama ini ia ungkapkan.


Mendengarnya tentu Fariz kaget bukan main, ia tak menyangka Zahira di perlakukan dengan begitu buruk oleh mertuanya.


Pantas saja Zahira langsung sakit hanya karena kehujanan, padahal selama ini yang ia tahu Zahira memiliki fisik yang kuat.


"Aku gak tega liat Zahira tersiksa seperti itu, tapi mau nolong pun bingung sebab itu urusan pribadinya. Aku takut jika aku ikut campur Zahira akan semakin di perlakukan buruk, masalahnya bundanya saja tidak tahu tentang hal ini" ujar Kiki di akhir cerita.


"Keputusan mu sudah benar, cukuplah menjadi tempat curhat dan seseorang yang selalu mendukungnya. Itu lebih berarti untuknya saat ini, kalau nanti dia butuh apa-apa kamu jangan ragu buat hubungi aku"


"Tapi kamu kan ngerantau ke luar kota Riz"


"Aku ngambil kuliah di sini ko Ki, sekaligus ngurusin panti asuhan yang di buka guru ngaji ku"


"Oh ya? jadi mulai saat ini kamu bakal ada di sini terus dong?" tanya Kiki sumringah.


"Hehe, Pak Haji butuh orang buat ngurusin panti asuhannya di sini. Kebetulan karena aku orang sini jadi aku yang terpilih, itulah alasannya aku gak jadi kuliah di luar kota" jelasnya.


"Syukurlah kalau gitu" sahut Kiki lega.

__ADS_1


__ADS_2