Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 54 Kembali Pada Zahira


__ADS_3

Sedikit pun Pras tak bisa tenang, ia terus berjalan mondar mandir tepat di depan pintu sementara Zahira menunggu di sudut. Memperhatikan bagaimana Pras begitu mencintai Ayu hingga bukannya menjelaskan apa yang terjadi dia malah sibuk berharap semuanya baik-baik saja.


Mungkin inilah alasan mengapa hatinya telah mati, sebab memang sudah tak ada lagi dirinya didalam Pras.


"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Pras melihat sang dokter telah keluar.


"Sang ibu tidak baik-baik saja, tapi sayangnya janin yang ada dalam perutnya telah gugur."


Bukan hanya Pras yang kaget mendengar berita buruk itu tapi juga Zahira, sekian lama mereka berhubungan ternyata selama ini Ayu telah mengandung anak Pras.


Tak bisa menerimanya Zahira memilih untuk pergi, ia menemui Sarah dan menceritakan semua yang baru ia ketahui.


"Tidak, mereka belum menikah. Aku bisa memastikannya, tapi memang hubungan mereka sudah terjalin sejak lama. Aku mencoba menyelidikinya dan dari teman sekantor Ayu mereka memang sudah bersama sejak setahun yang lalu," jelas Sarah.


"Selama itu, saat aku bahkan masih berjuang di negri asing. Sarah, malam ini juga aku akan memberimu dokumen itu."


Sarah bisa melihat nyala api dari mata Zahira, api yang membakar seluruh isi tubuh Zahira tapi yang terpancar adalah aura dingin bagai es kutub.


Memang tak ada yang lebih menyeramkan dari marahnya seorang istri yang sakit hati, sesuai janji Zahira benar-benar menyerahkan semua dokumen penting untuk merubah kepemilikan semua aset atas nama dirinya.


Sibuk menemani Ayu yang saat ini sedang down tanpa Pras sadari Zahira telah menyiapkan surat perceraian, karena koneksi yang dimiliki Sarah hanya dalam waktu sepekan semua aset telah menjadi milik Zahira.


Kini yang Zahira lakukan hanya memupuk kembali hatinya yang berserakan, mulai dari menemui teman-temannya dan menghabiskan waktu bersama mereka.


Kiki yang melihat bagaimana senyuman Zahira telah kembali turut senang, apalagi kini Zahira memiliki waktu untuk dirinya sendiri.


"Kau sangat beruntung, Pras pasti telah melakukan sesuatu yang mengembalikan kebahagiaan mu," ujar Kiki menerka.


Tiba-tiba Zahira terdiam, ia hendak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka. Tapi melihat bagaimana Kiki melalui semua itu seorang diri tanpa dirinya akhirnya ia pun memutuskan untuk bungkam, sudah saatnya berhenti merepotkan.


"Baiklah aku harus pergi, sampai jumpa," ujarnya berpamitan.


Kiki mengantar sampai depan pintu, melambaikan tangan saat Zahira masuk ke mobilnya.


Pulang ke rumah ternyata Pras sudah ada disana, duduk di sofa dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"Ah, dek!" panggil Pras.


Sejenak Zahira membeku, sudah sekian lama panggilan itu hilang dari mulut Pras. Sedikit terharu Zahira menelan ludah untuk menelan serta kepahitannya.


"Um, ada yang mas katakan," ujarnya.


"Tentang apa?" tanya Zahira sambil duduk tepat di depannya.


"Ayu."


Terlihat jelas Pras membutuhkan banyak keberanian untuk menceritakan hal ini, karena selama ini Pras adalah suami yang baik meski dengan beberapa kesalahan fatal Zahira memutuskan untuk bersikap baik.


"Aku tahu, kalian telah lama bersama. Bohong jika ku katakan aku tidak marah, tapi mau bagaimana lagi? aku lebih takut kehilangan kamu mas... karena itu, maaf atas semua kesalahan ku. Mas mau kan memaafkan ku?" tanya Zahira bersimpuh di kaki Pras bagai istri yang tak berdaya.


Tentu Pras kaget mendengarnya, ia tak menyangka Zahira telah mengetahui semuanya dan masih diam bahkan ia selalu melayaninya seperti biasa.


"Enggak dek, harusnya mas yang minta maaf. Saat itu kamu sangat jauh, jarak diantara kita membuat mas khilaf hingga melakukan dosa itu. Maaf," sahut Pras menyesal akan apa yang ia lakukan.


"Kalau begitu mari kita mulai semua dari awal lagi, aku akan lakukan apa pun yang mas mau. Tapi aku minta tolong akhiri hubungan mu dengannya, aku sudah kehilangan Anisa dan aku gak bisa berbagi kamu dengan yang lain lagi."


Pras sedikit merenung, tapi akhirnya ia mengangguk. Memeluk Zahira dengan begitu erat ia bersumpah tak akan ada lagi wanita bagi Pras selain Zahira, tersenyum puas Zahira mengangguk.


Setelah Pras berpamitan pergi bekerja Zahira segera menelpon Sarah, menyuruhnya untuk mengikuti kemana Pras pergi.


Tak disangka ternyata Pras pergi ke rumah Ayu, penasaran Sarah turun dari mobil dan menyelinap masuk ke pekarangan rumah itu. Mengintip dari balik jendela apa yang terjadi di dalam, awalnya ia melihat mereka berpelukan tapi tak lama kemudian Ayu berteriak dengan kencang.


"Bohong! semua ini pasti bohong! kamu gak bisa lakukan ini mas," seru Ayu tak terima.


"Maafin aku Yu, tapi sungguh apa pun yang terjadi diantara kita telah berakhir."


"Tapi kamu bilang kamu cinta sama aku mas!" teriak Ayu mengingatkan.


"Aku memang mencintai kamu, tapi kita gak bisa terus bersama. Aku mohon kamu bisa mengerti," pinta Pras.


"Setelah semua yang aku berikan padamu, beginikah caramu membalasnya?" tanya Ayu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Pras tahu ia sudah keterlaluan, tapi ia sudah memutuskan untuk memilih Zahira maka hanya kepada wanita itu ia akan mencurahkan segalanya dan mengikuti keinginannya.


"Maaf," hanya itu kata perpisahan terakhir yang Pras katakan sebelum pergi.


"Mas... Mas.... " Ayu terus meraung, memanggil dengan penuh keputusasaan tapi Pras sama sekali tak berniat untuk menengok ke belakang.


Hancur, Ayu terus menangis tanpa henti. Rambutnya berantakan begitu juga dengan rumahnya yang menjadi pelampiasan atas amarahnya.


Ting Tong


Suara bel itu membuat Ayu terlonjak, menerka-nerka ia segera membereskan diri dan menghapus air matanya sebelum menyambut si tamu.


"Siapa?" tanyanya sambil membuka pintu.


"Hai," sapa Zahira yang membuat Ayu melotot kaget.


Dengan senyum penuh percaya diri Zahira masuk tanpa ijin, mendapati rumah itu berantakan hatinya puas bukan main.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ayu.


"Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak datang, aah...aku benar-benar ingin menari saat ini."


"Beraninya kau!" teriak Ayu murka.


Tapi Zahira hanya mengacungkan satu jari, memberi isyarat untuk diam.


"Bukankah harusnya aku yang mengatakan hal itu? beraninya kau! sementara aku berjuang mencari rupiah kau malah bersenang-senang dengan uangku, tapi tidak apa. Hanya sedikit receh aku tidak keberatan," ujar Zahira santai.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Ayu dingin.


"Cobalah untuk terus merayu Pras."


"Apa?" tanya Ayu seakan dia salah dengar.


Tapi Zahira sangat serius akan perkataannya.

__ADS_1


"Cobalah untuk terus merayunya dan lihat pada akhirnya dia akan kembali pada siapa? kau pikir kau lebih baik dariku? kau pikir dia mencintaimu? jika benar kenapa sekian lama kalian bersama dia tidak pernah meminang mu? ingatlah bahwa pria memiliki hak untuk mempunyai empat istri, tapi dia justru hanya ingin bertahan dengan satu istri. Bahkan saat kau mengandung anaknya sedikit pun ia tidak menyinggung soal pernikahan bukan?" tanya Zahira yang membuat Ayu berfikir.


Ingin sekali ia menyangkal namun semua itu adalah sebuah kebenaran.


__ADS_2