Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 11 Pertikaian yang Berulang


__ADS_3

"Gitu dong... kalau ada waktu senggang main ke sini, toh gak jauh kan?" ujar Zahira sambil menaruh gelas berisi teh itu di meja.


Kiki hanya tersenyum kecil, sebenarnya sudah lama ia ingin main tapi waktunya habis oleh kuliah dan kerja. Di tambah dengan kini ia aktif di panti pula, jangankan untuk main sekedar santai menikmati teh pun sudah sulit.


"Maaf ya, gimana keadaan kandungan mu? semuanya berjalan dengan baik kan?" tanyanya.


"Hmm, kebetulan kemarin udah USG dan hasilnya baik"


"Alhamdulillah... udah ketahuan jenis kelaminny?"


"Belum, tapi mau cewek atau pun cowok sama aja. Mas Pras juga gak mempermasalahkan, yang penting bayinya sehat dan normal"


"Itu lebih baik" balas Kiki senang.


"Eh gimana teman-teman yang lain? kamu dapat kabar gak dari mereka?" tanya Zahira merujuk pada teman semasa SMA dulu.


Semenjak menikah ia telah memutuskan hubungan dengan semua orang, hanya Kiki yang sampai detik ini bisa ia hubungi dan di mintai beberapa pertolongan.


"Gak tahu juga, aku terlalu sibuk sama kuliah dan pekerjaan ku. Satu-satunya teman yang aku tahu nasibnya cuma Fariz, dia sekarang satu fakultas sama aku sambil ngurusin panti"


"Haaaa.... ternyata kalian memang gak bisa di pisahkan ya?" gurau Zahira.


"Apaan sih Za! dih bosen tahu ketemu dia mulu!" erang Kiki.


"Tapi kalian tuh mau pisah kayak gimana juga tetap bakal bareng lagi, kayaknya bener deh jodoh mu Fariz"


"Jangan ngaco deh Za! amit-amit dah dapetin cowok modelan kayak dia, kayak gak ada yang lain aja" tukas Kiki cemberut.


"Lho? Fariz kan baik orangnya, dia juga cukup keren ko. Emang kamu pengennya cowok modelan kayak gimana?" tanya Zahira.


"Um.... kalau di tanya kayak gitu sih sebenernya aku lagi naksir seseorang" jawab Kiki dengan wajah yang merah padam.


"Sungguh? siapa orangnya?" tanya Zahira antusias.

__ADS_1


"Dia orangnya cukup populer, baik dan ramah. Tapi.... setelah aku perhatikan dia ramah sama semua orang, jadi aku takut kepedean Za"


"Lah emang kenapa kalau kepedean? justru kamu harus percaya diri dong! siapa tahu dia juga naksir kamu"


"Aku gak yakin Za, aku gak punya kelebihan apa-apa yang bisa jadi saya tarik"


"Ko kamu tiba-tiba jadi pengecut gitu sih! cinta kan gak mandang fisik Ki, menurut kamu biasa aja mungkin bagi dia spesial" ujar Zahira memberi nasihat.


Sedikitnya Kiki mendapatkan kepercayaan diri, ia tersenyum dan berjanji akan mencoba pendekatan terlebih dahulu.


Obrolan itu pun berlanjut hingga petang, saat fajar mulai membenamkan diri Kiki pamit pulang. Sementara di waktu yang bersamaan Pras baru pulang dari tempat kerja, mereka hanya saling menyapa sebelum Kiki akhirnya benar-benar pergi.


"Aku udah masak makan malam, kamu mau mandi dulu mas?" tawar Zahira.


"Nanti dulu dek, badan ju masih keringetan" sahutnya.


"Ya udah kalau gitu"


"Eh uang belanja udah mas transfer, kamu bisa cek" ujarnya sambil merebahkan diri di atas kursi.


Hanya butuh beberapa detik saja baginya untuk melihat saldo dalam rekening, ia sudah berencana untuk membeli kasur bayi dengan uang belanja itu sehingga sejak kemarin ia menantikan hari gajihan suaminya.


"Lho mas! ko kamu transfernya kurang tiga ratus?" ujarnya sambil mengerutkan kening bingung.


"Oh uang tiga ratus itu mas pake buat ngasih ke mamah, katanya dia ada keperluan mendadak"


"Tapi mas... itu kan uang belanja aku, perjanjiannya kan setiap bulan kamu kasih aku sejuta khusus buat belanja harian" protes Zahira.


"Ya ampun Za.... mamah lagi butuh uang masa aku gak bantu sih! kamu mau aku jadi anak durhaka gitu?" teriak Pras kesal.


"Bukan gitu maksudnya mas, tapi kan kamu megang sisa uang gajihan.. uang yang kamu pegang kan lebih besar dari aku, masa kamu malah ngambil dari jatah aku sih!"


"Ini cuma perkara tiga ratus ribu doang lho Za! masa kamu pelit banget sih jadi istri, lagian uang yang mas kasih ke kamu tuh masih cukup buat kita makan! mas gak minta kamu masakin yang mewah.. gak! tahu tempe juga udah cukup!"

__ADS_1


"Tapi mas... "


"Aaaaa.... udah, cape tahu! baru pulang kerja udah ngajak ribut!" teriak Pras sambil berlalu ke dalam.


Zahira hanya bisa mengusap dadanya, menelan hinaan yang telah mengoyak hatinya sehingga berantakan.


Terpaksa ia harus mengurungkan niatnya membeli kasur khusus untuk bayi, andai Pras mau membelikannya mungkin ia tak perlu menyisihkan uang belanja dan pertengkaran ini tak perlu terjadi.


Waktu ia lalui tanpa gairah, tak ada senyum meskipun Pras mengajaknya bercanda. Hatinya terlalu penat untuk beberapa pertikaian yang selalu berulang, ia merasa sebagai suami Pras tak pernah intropeksi diri sehingga melakukan kesalahan yang sama.


Itu cukup menekan batinnya, membuatnya merasa kehilangan tempat untuk bersandar sementara lehernya terlalu berat untuk menopang semua masalah di kepala.


Beruntung ia masih memiliki orangtua yang tanpa ia pinta akan memberikan kebahagiaan yang ia butuhkan, tanpa ia duga bundanya bertamu membawa hadiah yang selama ini ia inginkan.


"Ya ampun bunda.... ini kasur bayi yang cantik banget... " ucapnya dengan rasa haru sehingga menetes satu butir air mata.


"Bunda tahu ini masih terlalu lama, tapi bunda gak bisa menahan diri untuk membelinya. Bunda udah kepengen liat cucu, dia pasti bakal tidur nyenyak di kasur ini" sahutnya.


"Pasti bun, ini bahannya lembut dan bikin nyaman" ucap Zahira setuju.


Mereka tersenyum senang, termasuk Pras yang duduk mendengarkan. Mereka mengobrol cukup lama sampai lupa waktu, saat sadar rupanya bulan semakin meninggi yang menandakan malam telah larut.


"Bunda pamit pulang dulu ya, ini udah terlalu malam. Kalian juga kan harus istirahat"


"Iya bun, makasih ya buat hadiahnya" sahut Zahira.


"Biar Pras anterin bunda pulang ya? ini kan udah malam... rawan kalau bunda pulang sendiri" ujar Pras menawarkan diri.


"Gak perlu, kamu temanin Zahira aja"


"Gak apa-apa ko bun, toh sebentar ini.. Zahira juga tidak keberatan kan?" tanya Pras.


"Ya enggak dong mas, gih bun.. dianterin mas Pras aja biar Zahira juga tenang"

__ADS_1


"Hhhhh... ya sudah kalau kalian memaksa" ujar Bunda menyerah.


__ADS_2