
Pulang dengan perasaan tak tentu membuat Dimas melamun dikamar ibunya, memikirkan kata-kata Kiki yang tak masuk akal baginya. Ditengah lamunannya kotak kayu yang dulu sempat ingin ia lihat seakan melambai minta di ambil, seketika rasa penasaran pun datang padanya.
"Mungkinkah... " gumamnya berfikir ibunya benar-benar menulis banyak surat untuknya.
Tanpa menunda lagi Dimas cepat mengambil kotak itu, dan saat ia membukanya ternyata isinya adalah surat-surat seperti dugaannya.
Seketika tangannya bergetar, tak kuasa menahan tangis dan pilu. Terbayang wajah ibu yang tengah merindukannya dan semua ini adalah curahan hatinya yang tak tersampaikan, membuat Dimas malu akan dosa besar yang harus ia tanggung.
"Ibu... " ratapnya dalam balutan penyesalan yang tak berguna.
Dengan mengerahkan segenap kekuatan diambilnya satu surat, mencoba memberanikan diri dibaca surat itu.
"Assalamu'alaikum wr. wb
Dimas putra ibu, andai saja lidah ini tak berjanji maka sudah pasti semua akan ibu katakan padamu. Betapa bahagianya hati ibu saat melihat kelahiran cucu ku, ternyata dia adalah seorang anak laki-laki yang tampan seperti mu. Andai kau ada di sini sudah pasti kau yang akan mengumandangkan adzan di telinganya, andai kau ada di sini kalian akan menjadi keluarga yang sempurna."
Dimas termangu, tak mengerti apa yang dimaksud dengan ibunya. Maka dari itu diambilnya surat yang lain untuk terus di bacanya.
"Assalamu'alaikum wr. wb
Untuk putra ibu Dimas, setiap hari ibu tuliskan surat untuk mu. Untuk menjelaskan bahwa semua adalah kesalahan ibu, andai ibu tahu kau akan murka saat baru kembali akan ibu katakan semuanya. Ibulah yang telah menikahkan Kiki dengan Fariz, maaf atas dosa besar yang telah ibu lakukan ini. Sebagai sesama perempuan ibu melihat diri ibu sendiri pada diri Kiki, itulah mengapa ibu tak mau menantu ibu bernasin sama seperti ibu. Hanya kepada Fariz lah ibu yakin Kiki akan selamat, baik dari mata dunia yang mencibir atau KDRT yang pernah kita alami."
Bruk
Ini diluar nalarnya, sungguh ia tak menyangka ibunya akan bertindak demikian. Mencari jawaban yang sesungguhnya Dimas berlari menuju mobil, hari ini juga ia bertekad untuk mengetahui segalanya.
__ADS_1
Tok Tok Tok
Dengan tak sabar setelah sampai di rumah Kiki ia mengetuk pintu itu.
Ceklek
"Dimas?" seru Fariz mendapati sahabatnya berdiri tepat di balik pintu.
"Katakan apa yang tidak aku ketahui selama ini," ujarnya dengan tegas.
Seketika Fariz sadar apa yang di maksud Dimas, ia pun menyuruhnya masuk agar bisa bicara dengan benar.
"Aku menemukan surat-surat yang di tulis ibu, kenapa kau mau ibu nikahkah dengan Kiki?" seru Dimas tak sabar.
"Akan aku jelaskan apa yang coba aku katakan padamu tapi kau tak mau mendengarnya, justru kau menghina kami dengan semua tuduhan omong kosongmu!" lanjutnya tersulut emosi.
"Bagaimana aku tidak emosi? bersusah payah aku merubah nasibku menjadi lebih baik tapi saat kembali malah cincin perkawinan ditangan mu yang menyambut!" balas Dimas.
"Cukup Dimas! kau ke sini untuk mendengar kenyataan yang sebenarnya atau berdebat tentang rasa sakit mu?" tanya Fariz dengan muak.
Dimas terdiam, begitu juga dengan Kiki.
"Satu-satunya pria yang telah menyentuhku hanya kau, bahkan meski aku dan Fariz menikah kami belum pernah tidur bersama. Itu semua karena aku hanya mencintai mu dan Fariz enggan menodai cintaku, karena itu... Atha adalah putra kita."
Itulah yang sebenarnya terjadi, empat tahun yang lalu Kiki menyadari dirinya sedang mengandung anak Dimas. Kepada Haryati ibu Dimas ia mengatakan hal ini, sungguh Haryati sangat senang ia akan mendapatkan cucu dan sudah berencana memberitahu Dimas.
__ADS_1
Tapi Kiki melarangnya, ia tak mau mengganggu Dimas yang sedang berjuang mewujudkan mimpinya. Dengan paksaan akhirnya Haryati berjanji tidak kam memberitahu Dimas sampai ia kembali, tapi melihat perut Kiki yang semakin membesar membuat Haryati trauma.
Ia takut Kiki akan mengalami apa yang pernah ia alami waktu dulu, ia tak mau menantunya mengalami penderitaan yang sama karena mengandung diluar nikah.
Oleh karena itu ia meminta bantuan Fariz, memohon di kakinya agar mau menyelamatkan martabat Kiki. Sebagai seorang sahabat tentu ia tak akan membiarkan hal ini begitu saja, Fariz pun setuju untuk menikah.
Mereka sepakat Kiki yang akan mengatakan semuanya kepada Dimas begitu ia kembali, tapi hari itu saat Dimas kembali justru amarah menutup telinganya sehingga kenyataan ini sulit terungkapkan.
Amarah itu membuatnya pergi lagi tanpa mau melihat ke belakang, kepada Haryati yang mencoba meminta maaf dan menjelaskan semuanya.
Dirundung rasa bersalah Haryati tak mampu menahan segenap cobaan ini, perlahan kesehatannya semakin memburuk yang akhirnya membuatnya terkapar di ranjang.
Sebagai menantu setiap hari Kiki datang untuk mengobati lukanya, memperlihatkan perkembangan Atha yang selalu membuat Haryati tersenyum. Sementara Fariz terus mencoba menghubungi Dimas tapi tak pernah berhasil, berbagai pesan pun telah ia kirimkan tapi tak ada balasan.
Hingga di puncak penderitaannya Haryati sudah tak mampu lagi, setiap hari ia menuliskan surat-surat berisi perasaan bersalahnya yang tak pernah ia kirimkan.
"Ibu... " ratap Dimas.
Bruk
Kakinya lemas tak mampu menopang berat tubuhnya hingga ia ambruk di lantai, rupanya semua adalah kesalahannya. Andai ia mampu menjaga emosinya mungkin saat ini mimpinya untuk memiliki keluarga sempurna dapat terwujud.
"Maafkan aku... " ujar Dimas penuh rasa sesal.
Tak tahan Kiki berlari dan memeluk Dimas, menangis tepat di bahunya.
__ADS_1