
Binar dalam matanya telah hilang, karakter periang yang selama ini melekat entah sejak kapan telah terganti dengan sifat yang bertolak belakangan.
Wajah pucat dengan mata basah, kemudian bibir kering itu kembali bergumam tak berdaya.
"Aku gak sanggup Ki, rasanya benar-benar lelah"
"Bicara dengan Pras, pastikan mertuamu gak ikut campur lagi dalam rumah tangga kalian" ucap Kiki merasa iba.
Seminggu sudah Dian menginap di rumah mereka, setiap kesalahan kecil dalam rumah itu selalu kian membesar yang akan di akhiri dengan tangis Zahira dalam diam.
Tentu ia sudah banyak bicara dengan Pras, meminta pengertiannya agar bicara dengan Dian. Namun rupanya Pras tak memiliki daya untuk menentang ucapan ibunya, ia hanya menyabarkan Zahira untuk ujian ini.
"Dek... ayo pulang!" ajak Pras begitu tiba di sana.
Zahira tak bergeming, ia masih duduk dan engggan pulang ke rumah yang tidak lagi menyenangkan.
Kiki cukup mengerti perasaan itu, tapi akan buruk juga bila Zahira tetap di sana sepanjang malam.
"Za.. ingat kandungan mu, angin malam gak baik buatnya."
Atas bujukan kecil itu akhirnya Zahira mau bangkit, berpamitan dengan sedikit senyum yang terasa pahit sementara Kiki membalasnya dengan lambaian tangan.
Sepanjang jalan itu jangankan kata, bahkan senyum pun tak ada untuk Pras. Sifat Zahira yang menjadi pendiam ini telah mengundang kekhawatiran Pras, terlebih saat ia memegang tubuhnya terasa hangat.
"Kamu baik-baik aja dek?" tanyanya.
Zahira tak menjawab, berapa kali pun Pras bertanya ia bahkan tak peduli. Rasa kesal sebab Pras tak ada untuk membelanya telah membuat dinding diantara mereka, dinding yang membuat jarak walaupun kulit mereka saling menempel.
"Besok aku mau ke dokter mas, gak perlu anter aku. Mas temenin mamah aja, aku bisa naik kendaraan umum sendiri" ujar Zahira malam itu.
"Kamu sakit dek? kalau begitu lebih baik mas yang antar"
"Gak mas, aku cuma periksa kandungan aku aja. Seperti yang aku bilang, mas temenin mamah aja di rumah" sahutnya.
Ucapan dingin itu membuat kesabaran Pras menipis, dengan wajah kesal ia berkata.
"Cukup Za, kamu dewasa sedikit bisa gak sih?"
__ADS_1
Itu adalah kali pertama Pras menyebut namanya setelah dua tahun lebih mereka bersama, merasa kehilangan kasih sayang Zahira ikut naik pitam.
"Dewasa kamu bilang mas? apa yang kurang dari aku? semua pekerjaan rumah aku kerjain, bahkan dalam masa hamil pun aku kerja juga bantu financial kamu"
"Itu sama sekali gak ada hubungannya, aku cuma minta kamu dewasa dikit dalam ngadepin mamah. Lagian semua yang mamah omongin itu benar dan buat kebaikan kamu juga"
"Mana yang demi kebaikan aku mas? kerja kayak robot maksud kamu?" sindir Zahira dengan nada tegas.
"Itu semua memang tugas istri, mamah ku juga lakuin semua yang kamu kerjain tapi dia gak pernah ngeluh kayak kamu. Gak baperan kayak kamu yang dikit-dikit sakit hati dan nangis" sahut Pras di ujung kemarahannya.
Zahira sudah siap melontarkan cacian lain, tapi sakit hatinya terlalu besar hingga membungkam mulutnya.
Dengan berurai air mata ia memilih membenamkan wajah ke dalam bantal, meredam tangis yang memilukan hingga akhirnya penat itu memangkunya dalam lelap.
Pagi sekali, saat semua orang rumah masih tidur ia sudah terbangun dengan mata sembab. Tanpa menghiraukan pening di kepalanya yang cukup menyiksa ia melakukan rutinitas sepet biasa, mengerjakan pekerjaan rumah sebelum pergi ke dokter.
Memang masih terlalu dini, dokter yang akan memeriksanya pun belum datang namun Zahira memilih untuk menunggu di sana. Itu lebih baik dari pada di rumah yang penuh hawa panas nan sesak.
Lama menunggu hingga kantuk menyerang akhirnya sang dokter tiba, setelah beberapa menit namanya pun di panggil untuk pemeriksaan.
"Tekanan darah ibu rendah, ini memang sepele tapi harus segera di tangani dengan baik. Saat kondisi sedang hamil tubuh ibu harus sehat tanpa kurang apa pun, nanti minum vitamin yang saya berikan dan istirahat yang banyak ya bu" ujar sang dokter selesai memeriksa.
Sebenarnya Zahira enggan pulang kerumah, tapi ia juga tak punya tujuan lain. Sambil berjalan masuk ia hanya berharap hari ini akan ada sedikit ketenangan untuknya, walaupun itu satu menit.
"Kamu udah pulang, ko periksa aja lama banget sih!" ketus Dian melihat kedatangan menantunya.
"Iya mah, tadi dokternya datang terlambat" sahutnya.
Zahira terus pergi dapur, hendak membuat teh dan makan beberapa biskuit untuk mengganjal perutnya yang mulai kelaparan. Tapi saat ia membuka laci tempat biasa menyimpan makanan ringan tak ada apa pun yang tersisa di sana, keheranan ia segera menemui Pras untuk bertanya.
"Mas, kamu makan semua cemilan di laci?"
"Enggak, kamu kan tahu mas gak terlalu suka yang manis" sahutnya.
"Terus siapa yang makan? aku kan kerja terus, baru hari ini aku libur" ujarnya.
Tiada angin tiada hujan tiba-tiba Dian berkata dengan nada tinggi saat Zahira menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa? kamu nuduh mamah yang ngabisin semua itu? curiga kamu sama mamah?"
"En-enggak ko mah, Zahira gak nuduh mamah" sahutnya gugup.
"Cuma masalah cemilan doang kamu udah protes, kan tinggal beli lagi apa susahnya? lagian mamah tuh tamu kamu, harusnya kamu layanin mamah dengan baik" ujarnya lagi masih dengan nada tinggi.
"I-iya mah, Zahira beli cemilan dulu sebentar" ucapnya yang segera pergi.
Itu lebih baik dari pada terus menghadapi amarah mertuanya yang tak beralasan, sebenarnya kalaupun benar Dian yang memakannya ia tak keberatan. Hanya saja amarah Dian yang tiba-tiba meledak itu membuatnya semakin tidak senang akan keberadaan mertuanya itu.
Tes Tes Tes Ddrrrrssssss...
Entah apa yang terjadi dengan alam, pagi tadi begitu cerah seakan semuanya terasa nyaman. Tiba-tiba kini hujan deras mengguyur bumi tanpa tanda-tanda, Zahira yang tidak membawa payung hanya bisa termenung menatap langit kelam.
"Bagaimana ini? aku gak bawa handphone juga buat minta di jemput" ucapnya gusar.
Langit kian besar memuntahkan air, bersama dengan angin yang bertiup kencang membawa hawa dingin bagi tubuh Zahira.
Selama beberapa menit ia bisa tahan, tapi setelah satu jam berlalu tangannya mulai membeku dan biru di ujung jemari. Melihat alam yang semakin hebat membuat berfikir ia akan terjebak di sana selamanya, tak ada pilihan lain lagi.
Zahira mengambil langkah cepat, menerjang hujan yang setiap tetes airnya bagai jarum.
"Aku pulang... " ujarnya sambil menggigil.
"Dek! ya ampun... kamu basah kuyup" ucap Pras segera menghampiri.
"Ayo masuk, cepat ganti baju dek biar kamu gak kedinginan" lanjutnya sambil memapah Zahira masuk.
Sementara Zahira mengganti pakaiannya Pras dengan sigap membuatkan teh hangat, dengan berselimut tebal Zahira mencoba membuat tubuhnya nyaman.
"Ini tehnya"
"Makasih mas" ujar Zahira mengambil teh tersebut.
"Kamu kenapa gak minta mas jemput? sampai hujan-hujanan gini, gimana kalau kaamu sakit?" tanya Pras cemas.
"Handphone aku ketinggalan mas"
__ADS_1
"Hhhhh, ya sudah.. kamu istirahat aja dulu ya.. " ujarnya sambil menarik selimut itu hingga ke dagu Zahira.
Zahira mengangguk sambil tersenyum, di tengah kekesalannya kepada sang mertua perhatian Pras kepadanya masih belum berubah. Setidaknya itu bisa mengobati rasa lelahnya dalam menghadapi masalah keluarga.