
"....." Crowslayer terdiam.
"Kau tidak memiliki alasan untuk menolaknya, 'kan? Hanya beberapa serangga yang terbang terlalu dekat dengan cahaya. Apakah mereka sepadan dengan waktu berhargamu? Pasukanku telah mendapatkan informasi tentangmu. Kau sudah selesai melakukan bagianmu. Sekarang, yang harus kau lakukan hanyalah pulang. Bagaimanapun juga, kau bertanggung jawab pada sektor energi inti dan sekitarnya." ucap bocah itu.
"Jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu!" balas Crowslayer.
"Kau masih harus pergi ke suatu tempat, 'kan?" sambung bocah itu.
"..Baiklah. Terserahmu saja. Aku tak sabar melihatmu gagal."
"Oh..??"
"Kita pergi." ucap Crowslayer kepada pasukannya.
Dia lalu pergi bersaman dengan beberapa prajurit Reunion. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, namun Amiya dan prajurit Rhodes Island merasa bahwa mereka harus bertindak. Mereka harus bisa menggagalkan rencana jahat Reunion. Namun, hal itu tak dapat dilakukan dengan mudah karena mereka masih harus berhadapan dengan bocah misterius itu.
Dari cara bicaranya, sepertinya bocah itu adalah tokoh yang sangat berpengaruh. Bahkan dia mampu mengendalikan seseorang yang lebih tua darinya. Namun itu masih belum cukup dengan apa yang dia tunjukan pada Rhodes Island. Benar, pasukan dalam jumlah besar, yang selalu taat dan tak pernah menentang perintahnya.
"Salah satu pemimpin musuh.. membawa beberapa pasukan Reunion lalu pergi?" Amiya tampak kebingungan.
"Apa yang mereka lakukan? Apa pun itu, kita tidak boleh lengah! Musuh masih banyak!" sahut Doberman.
"Baiklah. Perkenankan saya meminta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Crowslayer. Dia memang orang yang kasar. Namun jika diberi sedikit nasihat, dia akan menjadi orang yang sangat baik." ucap bocah itu sambil berjalan menuju prajurit Rhodes Island.
"Kalian bisa memanggilku Mepishto. Senang bertemu dengan kalian, Rhodes Island." ucap bocah itu.
Siapa sangka, ternyata bocah itu adalah Mephisto yang sering disebut-sebut. Dari beberapa episode sebelumnya sudah dijelaskan bahwa kebanyakan perintah yang dilakukan oleh Reunion adalah perintah yang diberikan oleh seseorang bernama Mephisto. Dengan begitu, jelas sudah bahwa Mephisto bukanlah orang sembarang. Dia adalah orang yang sangat berpengaruh hingga mampu mengendalikan setengah dari jumlah pasukan Reunion yang tersebar di Chernobog.
"...Mengapa kalian melakukan semua ini?! Apa yang ingin dicapai oleh Reunion?!" tanya Doberman.
"Oh, tidak ada yang khusus. Sejujurnya, aku tidak keberatan jika kalian pergi. Kalian bahkan bukan target kami, mengerti?" jawab Mephisto.
"Jika kami bukan target kalian, lalu kenapa..??" ucap Amiya.
__ADS_1
"Namun, saya mendapat kehormatan bila diizikan untuk melihat pertempuran kalian. Taktik tempur yang kalian gunakan serta pengaturan personel cukup menarik." ujar Mephisto sambil tersenyum kecil.
"...Menarik, katamu? Apa kau pikir pembantaian itu.. menarik?" tanya medic itu.
"Rhodes Island.. aku telah mendapatkan banyak informasi tentang kelompok kalian sebelumnya. Awalnya, kupikir kalian tak lebih dari sebuah perusahaan biasa. Tapi, tidakkah kalian pikir bahwa ambisi kalian sudah terlalu jauh? Akan sangat membosankan jika membiarkan kalian pergi dari sini bukan? Yang aku inginkan adalah mengadakan sebuah kompetisi kecil, semacam ritual."
"Kami tidak punya banyak waktu!" balas Doberman.
Doberman lalu berjalan mundur ke arah Amiya dan berbisik, "Amiya, bersiaplah! Kita mungkin akan menerobos secara paksa. Untuk melakukan itu, aku akan mengalihkan perhatiannya!"
"Mm.. baiklah."
Just.. duar..!! Doberman menembakkan peluru suar ke atas langit.
"...Apa itu? Kepada siapa kamu memberi singal?" tanya Mephisto.
"Bukan urusanmu, Nak." jawab Doberman, "Amiya.." bisik Doberman tanpa menoleh agar Mephisto tak curiga bahwa mereka sedang menyusun rencana untuk melarikan diri.
"Ayolah, kita semua profesional di sini. Di mana kesopananmu?"
"Doberman.. semua jalan keluar kita telah dihalangi oleh pasukannya." jawab Amiya.
"Bagaimana bisa? Bagaimana caranya dia melakukan itu hanya dalam hitungan menit?"
"Hm.. sepertinya ini tidak akan berhasil. Walau aku memberi kalian ajakan yang tulus.. tapi yang kalian pikirkan hanyalah.. kabur, kabur, dan kabur..??" diakhir kalimat, Mephisto tampak tersenyum menyeringai untuk menunjukkan bahwa dia tidak sedang bercanda.
"Cih.." Doberman tampak kesal.
"Sebenarnya, aku akan membiarkan kalian pergi dari area berburuku dengan selamat jika kalian menang. Sampai saat itu, semua temanku yang ada di sini akan terus berusaha untuk membunuh kalian." jelas Mephisto.
"Kemenangan untuk kalian jika kalian tidak mati! Peraturannya mudah, 'kan?" sekali lagi, Mephisto kembali berkata dengan senyum menyeringai.
"Ace!" panggil Doberman.
__ADS_1
"Kita sudah siap untuk menerobos. Tapi kita harus bisa menghindari serangan mereka dulu." jawab Ace.
"...Kenapa kau melakukan semua ini? Bencana akan datang! Jika kita tidak pergi dari Chernobog, maka kita akan.." belum selesai Amiya berkata, tiba-tiba Mephisto menyela ucapannya.
"Bencana? Apa yang kau bicarakan? Bencana.. adalah waktu yang tepat untuk merayakannya!" jawab Mephisto dengan senyum menyeringai.
Ini sungguh sangat aneh. Amiya melihat Mephisto seperti seseorang yang memiliki gangguan mental. Dari cara bicaranya, dan dirinya yang menganggap bahwa kematian adalah suatu pertunjukan yang menarik adalah tanda-tanda dari seorang psikopat.
Jika dugaan Amiya bahwa Mephisto adalah orang yang memiliki gangguan mental adalah benar, lalu mengapa orang seperti dia bisa menjadi seorang pemimpin? Cara bicaranya pun terdengar seperti robot, berat, dan sangat serak.
"Kamu sakit." ucap Amiya.
"Wahai tamu-tamuku yang terhormat, aku merasa terhormat mengundang kalian ke dalam permainan ini." setelah berkata, Mephisto kemudian menjentikkan jari tangannya untuk menandakan bahwa permainan bertahan hidup telah dimulai.
"Bunuh.. bunuh mereka semua!" ucap seorang prajurit Reunion.
"Amiya, awas!" sahut Doberman.
"Sebenarnya, kami tahu persis apa yang kalian lakukan di area pusat."
".....??" mendengar ini, Amiya pun kebingungan.
"Orang bertopeng itu.. sangat, sangat membuatku penasaran. Crowslayer sangat terpaku pada apa yang akan kalian lakukan selanjutnya, seperti ke mana kalian akan pergi. Tapi aku berbeda. Apa yang aku pedulikan adalah.." Mephisto diam sejenak lalu menoleh ke arah dokter.
"Siapa sebenarnya kamu? Dari mana asalmu? Ya, kamu, yang sedang berbicara denganku sekarang. Kamu terasa berbeda dari kami. Bagaimana caramu bisa bertahan hidup di tempat seperti ini? Aku sangat penasaran." ucap Mephisto.
"Lihat, aku bukan orang yang kejam. Bagaimana kalau begini saja, tamu Rhodes Islandku yang terhormat. Bagaimana jika kalian menyerahkan orang itu kepadaku sebagai hadiah? Akan memalukan jika permainan berakhir lebih awal, tapi setidaknya aku akan membiarkan kalian pergi. Bagaimana?"
Siapa pun akan langsung tahu bahwa Mephisto baru saja mengibarkan bendera perang. Oleh karena itu, untuk orang yang tak bisa berbuat apa-apa seperti dokter, yang bisa dilakukannya hanyalah berlindung.
"Dokter.. berlindung di belakangku!" ucap Amiya tanpa menoleh. Amiya sibuk menatap Mephisto dengan sorot mata tajam.
"Oh, aku mengerti. Namun, memang ini yang aku harapkan sejak awal. Baiklah, waktunya pesta dimulai."
__ADS_1
Bersambung.