
Sementara itu, sibuk mengajari Misha menggunakan senjata api membuat Skullshatterer tak menyadari bahwa mereka telah diserang oleh musuh. Namun, semua ini berakhir setelah seorang prajurit Reunion memberitahukan kabar buruk kepadanya.
"Lihat." ucap Skullshatterer sambil memegang sebuah pistol.
"Hm.."
"Ini pelatuknya. Cukup diisi seperti ini.. arahkan ke musuh, dan tarik pelatuknya. Ini akan menembakkan pelurunya. Lalu konsentrasi, dan pegang gagangnya. Konsentrasi.. dan salurkan sihirmu. Ini akan mengakibatkan pelurunya meledak." jelas Skullshatterer.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa.."
"Aku tahu kau pasti bisa. Kita punya banyak kesamaan. Aku bisa merasakannya di dalam dirimu. Kau hanya perlu membayangkannya di dalam pikiranmu." Skullshatterer lalu memberikan sebuah Originium kepada Misha dan berkata, "Ini, pegang pecahan Originium ini."
"....."
"Konsentrasi."
Misha begitu fokus.. dia sangat fokus kepada pecahan Originium itu, hingga Misha mulai merasakan panas.. seperti batrai yang hampir meledak. Rasa panas itu memang tak menyakitinya, namun sangat mengganggunya.
"Telapak tanganku terasa.. panas."
"Benar! Aku tahu, aku tahu. Ya, Misha, kau sungguh.. ahahaha.. kau sungguh.."
Kemudian datanglah.. si pembawa kabar buruk dari pasukan pengawalnya.
"...Kita harus pergi! Skullshatterer, cepat! Kita tidak bisa menahan pangkalan ini lagi!" ucap prajurit Reunion itu.
"Apa yang terjadi?!" tanya Skullshatterer.
__ADS_1
"Rhodes Island menyerang kami! Kita diserbu!"
"Bajingan itu..!! Jangan panik. Berkumpul dan persiapkan serangan balasan!"
Reunion.. mereka bisa kabur kapan pun mereka mau, namun mereka tak tega meninggalkan teman-teman mereka yang masih berada di garis depan, terutama Skullshatterer. Sebagai pemimpin, dia ingin berjuang sampai akhir. Tak peduli pada dirinya sendiri, selama pasukannya bisa selamat, itu sudab lebih dari cukup.
Sejak dulu pemimpin adalah orang yang selalu bertarung di garis depan. Tidak peduli dari mana mereka berasal, abad pertengahan, ataupun zaman modern, mereka akan selalu menebarkan benih keberanian kepada pasukannya.
Tindakan yang diambil Skullshatterer untuk bertempur adalah satu dari sekian banyaknya kirteria pemimpin yang adil. Dia tidak lari, dia tidak membiarkan pasukannya mati sambil meminum kopi panas di atas sofa. Dia akan bertarung bersama pasukannya sampai titik darah penghabisan.
Saat hendak pergi, Misha mencegahnya. Intinya, tidak semua hal harus diselesaikan dengan pertempuran. Ada cara lain untuk mengakhiri konflik, yaitu dengan memahami satu sama lain. Namun, ideologi Skullshatterer begitu kuat. Omong kosong Misha.. tak mampu mengubah kenyakinan kakaknya.
"Skullshatterer.. aku yakin.. Rhodes Island akan.."
"Akan apa? Kau ingin aku berbicara dengan Rhodes Island?"
"Mereka, mereka mencoba menolong para terinfeksi." ucap Misha.
"Aku tidak tahu.."
"Maaf.. aku terlalu emosional. Tapi satu hal yang pasti.. Reunion telah memberikan harapan kepada para terinfeksi. Tapi Rhodes Island, meskipun mereka terinfeksi, mereka memilih menyakiti kita, membantai kita! Apalagi kalau bukan pengkhianat?! Apa yang mau didiskusikan dengan pengkhianat?" jelas Skullshatterer.
"Jika begitu, apakah terinfeksi ditakdirkan untuk selalu saling membunuh satu sama lain?" tanya Misha.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus diam dan melihat teman-temanku mati?"
"....." tak ada lagi yang dapat dilakukannya. Kini Misha hanya dapat melihat kakaknya pergi ke medan perang.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Kami akan melindungimu. Kau juga harus melindungi dirimu sendiri. Jangan terbawa ke dalam pertempuran. Berhati-hatilah.."
Namun sebelum pergi, Misha berkata, "Berjanjilah.. kau akan kembali. Akhirnya, kita bertemu kembali. Aku tak ingin kehilanganmu lagi."
Ya, aku akan kembali untukmu. Lalu, kita akan pulang bersama-sama.."
Bagi Skullshatterer, bertarung adalah hal yang mudah, bahkan seperti makanan sehari-harinya. Yang sulit adalah bagaimana caranya agar dia dapat memenangkan pertempuran dan melindungi adiknya. Tentu, dia tak dapat melakukannya secara bersamaan. Untuk itulah, dia lalu meminta W untuk menjaga adiknya, W pun menerimanya dengan senang hati. Namun di sini.. W kembali berulah. Kesempatan ini kemudian digunakan oleh W untuk.. tidak ada yang tahu.
"Hei, jadi kau butuh bantuanku?" ucap W.
"Benar. Sebenarnya.. situasinya sedikit berbeda dari yang Talulah katakan kepada kami. Musuh lebih kuat dari dugaan kami. Itulah kenapa.. kau harus melindungi Misha."
"Aku pikir aku tidak punya kewajiban itu."
"Kau punya."
"Baiklah, baiklah. Namun, ini tidak cukup hanya melindungi Misha, 'kan? Jika kau gagal, mereka akan tetap mengejar kita."
"...Apa yang kau pikirkan?"
"Skullshatterer, tidakkah kau ingat apa yang kukatakan sebelumnya?"
"...Aku ingat. Kita bisa membalikkan keadaan jika kita bisa mendapatkan target itu, Dokter Leon."
"Lihat, kau telah mengerti. Yang harus kau lakukan adalah mendapatkan komandan mereka. Gampang, 'kan? Orang bertudung yang selalu berada di samping gadis kelinci itu. Orang yang memimpin operasi tempur Rhodes Island. Jika kau dapat membunuhnya.. Bang! Seperti itu, otak mereka akan hancur. Setelah itu, semuanya akan menjadi sangat mudah. Kita tidak punya banyak pasukan tersisa, dan kita kehabisan pilihan. Ada lokasi dekat tambang yang cocok untuk melakukan penyergapan. Casterku akan melindungimu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, 'kan? Aku akan menggunakan pasukanku untuk menarik mereka ke sini. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
"Aku mengerti. Jaga Misha untukku."
__ADS_1
"Tentu. Hmph.. semoga berhasil."
Bersambung.