
Setelah berhasil mendapatkan Skullshatterer, mereka lalu pergi dari area pertempuran. Sejak awal target mereka hanyalah satu, yaitu membawa Skullshatterer yang sudah tak berdaya, selebihnya bukan urusan mereka. Dengan bantuan W, misi ini berjalan lancar tanpa adanya hambatan. Pasukan Reunion dapat pergi dengan mudah tanpa sedikitpun gangguan dari pasukan gabungan itu.
Namun tidak bagi W, Amiya lebih memprioritaskan pasukannya untuk membantu Hoshiguma melawan W. Bukan hanya itu, diam-diam Hoshiguma sengaja mengulur waktu agar Chen dapat datang membantunya.
"Mundur! Semuanya, berkumpul! Biarkan mereka pergi! Jika diteruskan, musuh akan menghancurkan pasukan kita! Kita tidak dapat membiarkan itu terjadi. Jika bala bantuan datang.. pasukan Reunion ini.. tidak menghincar kita! Prioritas kita adalah menjaga operator tetap aman! Sniper, berhenti menembaki pasukan Reunion yang kabur! Fokuskan untuk membantu Nyonya Hoshiguma!" sahut Amiya.
"Menyebalkan!" Hoshiguma tampak kesal.
"Tidak buruk, tidak buruk. Kau benar-benar berhasil menahan seranganku. Tapi, berapa banyak yang bisa kau terima?" ucap W.
"Tergantung berapa lama kau bisa bertahan! Chen, cepat!"
Lama menunggu, akhirnya Chen datang bersama pasukannya. Mereka kemudian mengepung W dari segala arah, menutup semua akses jalan keluar yang sekiranya dapat digunakan untuk kabur.
"Kepung wanita itu!" sahut Chen.
"...Kita bertemu lagi, Nyonya." sapa W dengan senyum kecil.
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini. Semua yang kau perbuat kepada Lungmen.. akan kubalas dua kali lipat."
"Oh, menyeramkan. Tapi aku ke sini bukan untuk bermain denganmu." balas W. W lalu menoleh ke Amiya dan berkata, "Amiya, tangkap." dia tampak mengambil sesuatu kemudian melemparnya ke Amiya.
"Aku? Ini.. telepon?" ucap Amiya setelah menangkap benda itu. Benda yang diberikan oleh W adalah telepon genggam.
"Benar. Seseorang ingin berbicara denganmu."
".....?!" Amiya kebingungan.
"Yah, misiku selesai. Hampir saja aku lupa, aku punya sesuatu untukmu, Nyonya. Sampai jumpa lagi." W kembali melemparkan sebuah benda asing ke arah kerumunan pasukan itu.
Berpikir bahwa W akan meledakkan mereka, reflek.. mereka berlari jauh dan tiarap untuk berlindung dari ledakan itu. Namun tak ada ledakan yang terjadi, benda itu hanyalah flashbang, yang kemudian digunakan oleh W untuk kabur dari sana.
"Awas!" seru Chen.
__ADS_1
"Bom jarak dekat?! Tidak, itu hanya flashbang! Jangan sampai dia menipumu!" ucap Amiya.
"...Terlambat. Dia telah pergi. Dia sangat cepat. Dia hanya butuh gangguan kecil untuk melewati pertahanan kita. Juga, berhati-hatilah dengan barang yang kau pedang itu. Bisa jadi itu adalah.." balas Chen.
"Ini.. seperti handphone biasa. Atau mungkin.." dilihat lebih dekat, ternyata handphone itu masih dalam keadaan tersambung. Tanpa sedikitpun rasa curiga, Amiya mengangkat panggilan itu dan mulai berbicara, "Halo..?"
Tut.. tak ada seorang pun yang menjawab panggilannya. Amiya lalu membuat panggilan lagi, lagi, dan lagi. Akhirnya.. seseorang menjawab panggilan Itu. Saat mendengar suaranya, Amiya begitu terkejut. Orang itu.. yang menjawab panggilannya.. adalah Misha.
"Apakah itu.. Amiya?"
"Misha! Katakan, kau di mana?! Aku.."
"Amiya.."
...*****...
Tak lama setelah itu.. Amiya mendengar suara dua orang manusia yang.. tampak begitu panik. Dari cara mereka berbicara, mereka tampak sedang menyelamatkan seseorang dalam kondisi kritis. Apa pun usaha mereka, semua itu sia-sia. Dari suara itu, Amiya tahu bahwa orang itu tak dapat diselamatkan.
"Sial..!! Kenapa.. walaupun kita semua terinfeksi.. Rhodes Island.. kenapa mereka melakukan ini kepada kita?!" balas seorang wanita B.
"Kita selalu ditelantarkan dari awal! Kita tidak punya jalan keluar.. tidak ada sama sekali!"
"Jangan mati! Jangan tinggalkan aku! Kita berjanji.. kita berjanji untuk pulang bersama-sama!"
"Hiks.. kakak.. j - jangan.."
...*****...
"Kau dengar suara itu..?" tanya Misha.
"Reunion.. terinfeksi?"
"Aku ingat sekarang. Tidak, aku tidak pernah melupakannya. Aku hanya.. tidak mau mengingatnya. Tidak salah lagi, Reunion lah yang sudah menghancurkan rumahku. Tapi.. kami membawanya sendiri. Waktu itu, aku melihat kakakku, diseret di depan mataku. Dia memanggilku, menangisi namaku, tapi aku kabur.. dan bersembunyi di dalam kamarku. Saat dia menemukanku, dia telah mengorbankan banyak hal. Walaupun dia masih mencintaiku, aku takut, dan aku kabur lagi. Tapi sekarang aku mengerti. Semua yang dia lakukan.. hanya ingin memberikan rasa sakit yang dirasakan oleh terinfeksi setiap hari kepada para penindas. Dan sekarang, aku bagian dari mereka. Ini saatnya aku menebus dosaku."
__ADS_1
"Misha, jangan gegabah! Tidak peduli bagaimana kau diperlakukan di masa lalu, kau selalu dapat berubah.."
"Tidak ada gunanya. Apa yang bisa kurubah? Karena aku.. adalah salah satu dari mereka yang telah menutup mata. Setelah menjadi terinfeksi, aku akhirnya.. dapat melihat dengan jelas. Bagaimana orang normal memperlakukan para terinfeksi.. adalah bagaimana para terinfeksi memperlakukan orang normal. Mereka pantas mendapatkannya."
"Tidak.."
"Semua ini.. tidak lebih dari memanen kejahatan yang tumbuh dari benih-benih kejahatan yang kutanam. Penyiksaan ini adalah karmaku. Tapi kenapa.. kenapa? Kenapa itu terjadi kepadanya, walaupun dia tidak melakukan hal yang salah?! Kesalahannya adalah datang sebagai seorang terinfeksi. Dia sangat muda.. dia baru saja membantuku mengerjakan pekerjaan rumah! Jika saja aku.. jika saja aku bisa melindunginya saat itu.."
"Misha, tenang! Kau tidak pernah menyakiti orang lain! Ini semua bukan salahmu!"
"Dari awal, siapa yang tidak bersalah?!"
"....."
"Satu-satunya yang salah.. adalah label yang diberikan kepada para terinfeksi. Jika ini lingkaran balas dendam.. katakatan kepadaku, siapa yang memulai tragedi ini..?! Jika Ursus tidak pernah memperlakukan para terinfeksi seperti monster.. alasan apa yang membuat semuanya membenci Ursus?! Siapa yang memutuskan para terinfeksi harus menderita seperti ini?!"
"Misha.. Skullshatterer telah mati. Kau bisa kembali ke kami sekarang. Aku berjanji, kita akan.."
"...Amiya, aku telah menemukan jawabanku. Aku seorang terinfeksi. Aku berdiri bersama para terinfeksi."
"Jangan.."
"Benar, Amiya. Kau juga seorang terinfeksi.. seharusnya kau dapat mengerti."
"Benar. Aku sepertimu.. sama seperti semua orang di Rhodes Island. Kami semua mengerti apa yang kau rasakan. Tapi, Misha, meskipun kau menerima jati dirimu, itu tidak akan merubah siapa dirimu! Tunggu di sana, aku akan menemukanmu!"
"Jangan kemari."
"...Misha! Ke mana kau.."
"Kau benar, Amiya. Kau sangat benar. Aku hanya merasa bersalah. Bersalah.. karena aku terlalu lemah. Tapi aku sudah memutuskan. Meski ini hanyalah langkah kecil.. ini adalah langkah yang harus kuambil. Maafkan aku, Amiya. Maafkan aku. Menjadi terinfeksi.. adalah bagian dari Reunion."
Bersambung.
__ADS_1