Rusak

Rusak
Presumption of Innocence - Praduga Tak Bersalah


__ADS_3

Seperti kota besar kebanyakan. Selain tempat hiburan, kunjungan pariwisata, makanan lezat, dan orang-orang mereka yang ramah, tak dapat dipungkiri bahwa mereka (kota itu) telah menyembunyikan sisi lain kota dari sudut pandang publik. Sisi lain ini adalah tempat yang kotor, di mana warganya penyakitan akibat kekurangan gizi, tingginya angka kriminal, bahkan tak pernah sekalipun dikunjungi oleh pemerintah. Mereka hanya asik berpidato dengan hidung panjang mereka layaknya pinokio.


Sama halnya dengan Amiya. Misi kali ini menugaskannya untuk mencari seseorang di daerah kumuh di Lungmen. Daerah itu jauh dari peradaban, tempat penyebaran penyakit masyarakat seperti diskriminasi, kejahatan, dan masih banyak lagi.


Untuk misi kali ini, Amiya mengikutsertakan dua operator Rhodes Island. Satu dari mereka adalah guard, dan satunya lagi adalah seorang defender. Mengingat minimnya pengetahuan Amiya akan Lungmen dan daerah kumuh, Amiya lalu memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan sebuah organisasi bernama Penguin Logistic dalam tugas ini.


Note: seringkali, Penguin Logistics dikenal sebagai perusahaan pengiriman yang terdiri dari Messenger yang akan mengantarkan paket ke tujuannya "tidak peduli apa yang diperlukan". Namun, dikatakan bahwa P.L. juga dapat menyediakan layanan lain, mulai dari kurir bersenjata dan/atau pengawalan hingga pencarian jalur dan pengangkut. P.L. juga memiliki banyak tempat komersial, salah satunya adalah bar di Lungmen bernama "The Ends of the Earth."


Dalam tugas ini, Amiya meminta bantuan dari P.L. untuk membimbing jalur mereka. Diharapkan dengan menyewa jasa P.L., mereka dapat menyelesaikan tugas ini dengan cepat.


...*****...


"Cepat, sembunyi! Aku.. aku harus pergi." ucap seorang gadis misterius. Sebelum dia pergi, dia tampak memberikan sebuah boneka kepada anak-anak itu.


"Ambil ini, ini untukmu. Ini adalah jimat pelindung. Ibuku mengajarkanku bagaimana cara menggunakannya, dan ini yang aku buat." ucap gadis itu sambil mengambil boneka miliknya dari saku celananya, "Saat kamu membuat boneka ini dengan tanganmu, kamu akan terus merasa aman."


"Oke! Kak Misha, kami akan menjaganya!" balas anak-anak itu.


Gadis itu.. bernama Misha.


"Bagus, bagus. Sekarang bersembunyilah dan jangan berbicara!" sahut Misha.


"Oke!"


Bukan Reunion ataupun penagih hutang, Misha tengah dikejar oleh sekumpulan penjahat. Tidak ada yang tahu alasan mengapa mereka mengejar Misha, pasalnya Misha tak lebih dari seorang gadis muda.


"Ke mana mereka pergi?! Kejar..! Kita lihat sejauh mana mereka bisa lari!" ucap seorang perusuh itu.


Saat para perusuh itu mencari Misha, mereka mendapat jakspot. Ini.. sangat buruk.


"Hm..?? Sekarang.. apa ini?"


...*****...


"Berdasarkan data Exusiai, target kita seharusnya berada di sekitar sini. Argh.. medan di sini sungguh rumit. Jika kita melakukannya sendirian, penugasan ini akan sangat merepotkan. Beruntungnya.. sebelum aku datang ke sini, aku bertemu dengan Penguin Logistics." ucap Amiya.


Grak.. Amiya mendengar sesuatu dari sudut jalanan, "Siapa di sana..?!" ucapnya. Merasa penasaran, Amiya lalu mendekat ke sumber suara itu, "Orang-orang itu..!"


"Penjahat! Kalian penjahat! Lepaskan kami! Lepaskan..!!"


Para perusuh itu berhasil menangkap anak-anak yang kabur bersama Misha. Anak-anak itu memang bukan target mereka, tapi setidaknya mereka tahu ke mana Misha pergi.


"Katakan, ke mana dia pergi!"


"Jangan pura-pura tidak tahu!" gertak perusuh A dan B.

__ADS_1


"Kakak..! Kakak..! Kamu di mana..! Tolong..! Kak Misha..! Kak Misha..! Tolong kami..!" seru anak-anak itu.


"....." tak bisa tinggal diam, Amiya memutuskan untuk menyelamatkan anak-anak itu.


"Siapa itu?"


"Keluar!" ucap perusuh A dan B.


"...Sebaiknya kalian pergi jika kalian tahu mana yang terbaik untuk diri kalian sendiri." gertak Amiya sambil berjalan menuju para perusuh itu.


"Apa-apaan ini?!"


"Kau sepertinya bukan dari sini! Kau tidak takut pada kami?"


Entah apa yang Amiya lakukan, dia mengangkat tangannya lalu berkata, "Kalau tidak.." perlahan gumpalan sihir mulai terbentuk di telapak tangannya, dan siap ditembakan ke arah orang-orang itu.


"...A - Apa itu?!"


"S - Sihir! Dia menggunakan sihir!"


"Argh.. menjauh dariku!"


"Jangan pernah mengganggu orang yang tidak berdaya lagi!"


"Heh.. monster, hah?"


Tidak heran, sejak dulu para terinfeksi memang sering disebut monster. Mereka (orang normal) hanya tidak tahu saja. Tidak semua para terinfeksi kejam seperti yang mereka bayangkan.


"Semua baik-baik saja. Sekarang kalian bisa keluar. Di sini berbahaya. Kalian harus pergi dan cari tempat aman." ucap Amiya kepada anak-anak itu.


"Terima kasih banyak, Bu!"


"Hati-hati!"


Tak lama setelah anak-anak itu pergi, dua operator Rhodes Island datang menghampirinya. Mereka adalah Franka dan Liskarm, operator yang ditugaskan untuk membantu Amiya dalam misi ini. Liskarm adalah seorang operator defender yang memiliki pertahanan kuat, cocok ditempatkan di medan yang terjang. Franka sendiri adalah seorang pengguna pedang. Walau wanita, namun keahliannya dalam mengayunkan pedang sudah tak dapat diragukan lagi. Hal sama berlaku kepada Liskarm.


"Amiya, ada apa?" tanya Franka.


"Hm.. aku baru saja melihat para terinfeksi, mungkin sepertinya tidak terdaftar."


"Dari Ursus?"


"Iya. Dia menuju ke daerah kumuh. Franka, kumpulkan operator terdekat."


"Oke."

__ADS_1


"Semakin dalam kita masuk ke daerah kumuh, semakin buruk keadaannya. Tempat ini dipenuhi oleh penduduk biasa, kriminal, dan para pengungsi. Mereka semua berbaur menjadi satu. Kita harus membuat persiapan." ujar Amiya.


"Amiya, kita mendapat panggilan. Mohon tunggu sebentar." ucap Liskarm.


"...Betul." saat ini Liskarm tengah berbicara dengan L.G.D. melalui walkie talkie, "Amiya, ini dari L.G.D."


"Apa itu Nyonya Chen?" tanya Amiya.


"Betul." jawabnya. Liskarm lalu melanjutkan panggilan tersebut, "...Betul. Kami sudah menemukan beberapa terinfeksi yang tidak terdaftar. Ya.. apa..? Kita mencari anak perempuan Ursus, berambut putih pendek, tinggi sekitar 145 cm, namanya Misha?"


"Itu..?" guman Amiya.


"...Mengerti." jawab Liskarm, "Amiya, Nyonya Chen ingin kita mencari seorang terinfeksi yang telah dijelaskan. Begitu kita menemukannya, kita akan langsung mengantarkannya ke L.G.D."


"Bisa aku berbicara dengannya?" Liskarm lalu memberikan walkie talkie (panggilan) itu kepada Amiya, "Halo, halo.. Nyonya Chen, apakah nyonya bisa mendengarku?"


"Aku mendengarkan." ucap Chen.


"Bisa saya konfirmasi kebenaran perintah ini?"


"100% benar, berlaku sekarang."


"Saya mengerti."


Tut.. Chen langsung memutuskan kontaknya dengan Amiya.


"...Dia langsung menutupnya."


"Itulah Chen. Dia sangat tegas." ucap Franka.


"Mulai dari sekarang, misi ini akan menjadi misi kita.." belum selesai Amiya berkata, tiba-tiba Liskarm menyela ucapannya. Ada kabar buruk yang harus Amiya tahu.


"Amiya, aku mendapat pesan dari beberapa defender. Mereka bertemu dengan orang yang secara terbuka memusuhi Rhodes Island. Parahnya lagi, para penyerang itu bukanlah orang biasa. Mereka.. adalah para terinfeksi."


"...Perintahkan kepada semua defender untuk kembali. Tim pengintai, target kita adalah seorang perempuan Ursus berambut putih pendek, tinggi 145 cm. Ingat untuk tetap bersembunyi dan tetaplah berada di zona aman! Operator lain, ikuti pimpinan kalian dan menyebar."


"Jadi, kita akan memancing mereka?" tanya dokter.


"Heh, tidak buruk. Liskarm, pria ini cukup pintar."


"...Dokter Leon adalah pemimpin taktik kita. Kau harus lebih serius." tegur Liskarm.


"Ayo mulai!" setelah memberi perintah dan dirasa semua prajurit mengerti apa yang harus dilakukan, Amiya lalu pergi untuk mengerjakan bagiannya. Namun di tengah jalan, tiba-tiba Amiya terdiam. Dia tampak sedang mencemaskan suatu hal, "Jadi.. Rhodes Island harus melawan para terinfeksi.. lagi..??" ucapnya dengan wajah lesuh.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2