Rusak

Rusak
Pyrrhic Victory - Menang Dengan Berkorban


__ADS_3

Waktu - Tidak diketahui / Cuaca - Tidak diketahui / Jarak Pandang - Buruk / Chernobog - Lokasi Tim Operasi E0 / Operasi Penyelamatan Dokter Leon - Tahap penyelamatan akhir.


...*****...


Nearl, Doberman, dan seluruh prajurit Rhodes Island berhasil kabur dari Chernobog. Namun, masalah tidak sampai di sini saja. Masalah terus berdatangan, menghantui setiap prajurit yang berhasil bertahan hidup, membuat mereka menyesal karena hidup di bawah teror malam yang nyata.


"Sial! Walaupun kita berhasil keluar.. tapi.." bisik Doberman dengan wajah kesal.


"Apakah kau pikir kami akan membiarkanmu pergi dari Chernobog? Tidakkah kau berpikir ini adalah saatnya seseorang membangunkanmu dari mimpi?" ucap seorang wanita misterius.


"Komunikasi telah pulih, dan aku telah menghubungi O.P.D. Mereka akan datang sebentar lagi! Tapi.. bajingan itu.."


"Awas, dia memegang peledak!" seru Nearl.


Duar.. wanita itu menembaki Rhodes Island dengan peluru peledak (pelontar granat).


"Aku masih tidak bisa menghubungi tim pengintai!" sahut Doberman sambil bersembunyi di balik reruntuhan.


"...Siapa kau sebenarnya?" tanya Amiya.


Wanita itu hanya diam.. dengan senyum kecil di wajahnya. Dia mengarahkan senjatanya ke Rhodes Island, tapi tak segera menekan pelatuknya, seolah-olah serangan itu hanyalah Iseng. Walau dia bisa, namun wanita itu seperti tidak berniat untuk menghabisi Rhodes Island.


"Aku tidak berharap kau mengenaliku. Tapi, aku tahu siapa orang yang ada di sampingmu." jawab wanita misterius itu.


"Apakah Reunion.. akan terus menyerang kami?"


"Hei, hei.. jangan seperti itu. Aku tidak berpihak kepada naga itu, si Talulah. Aku bahkan tidak cocok untuk melakukan bisnis seperti ini. Menyebalkan rasanya harus segera ke sini setelah seharian bekerja. Untuk kerjasama ke depannya, kenapa kita tidak basa-basi dulu? Kau dapat memanggilku.. W."


Wanita itu bernama W (cara membacanya dengan dibaca Double U). Tidak dengan pedang ataupun tombak, W dilengkapi dengan Milkor MGL MK1L (pelontar granat) dan beberapa peledak. Dia bukan salah satu dari mereka, pemimpin Reunion. W hanyalah seorang prajurit bayaran yang.. sangat dirahasiakan identitasnya.


"Aku telah menunggu lama untuk dapat bertemu dengan orang yang ada di sampingmu." sambung W. Orang yang dimaksud oleh W adalah dokter.


Maksud perkataannya sangat tidak jelas. Ini adalah kali pertamanya Rhodes Island bertemu dengan W. Namun, W tahu tentang siapa itu Amiya, siapa itu dokter. Cara bicaranya pun terdengar seperti.. seorang teman dekat. Setiap kali W berkata ataupun berdiam diri, W selalu menatap dokter dari kejauhan.


"...Dokter?" tanya Amiya.


"Dokter Leon.. aku mempunyai sedikit pertanyaan untukmu. Apakah kalian.. bisa memberikan kami sedikit waktu untuk berdua saja?" ucap W.


"Jangan mengada-ngada!" bentak Nearl.


"Woah.. jangan terburu-buru. Aku mempunyai beberapa informasi yang mungkin.. akan membuatmu tertarik. Sebenarnya, kami tadi bertemu dengan sekumpulan orang yang tangguh. Mereka cukup ahli, dan berpakaian seperti kalian. Walaupun penyamaran mereka dapat menglabui pengawasan Ursus, tapi trik murahan itu tidak berguna bagiku. Aku dapat melihat mereka dengan jelas." jelas W.


"Apakah mereka.. tim pengawas? Aku lega.. mereka selamat.." namun kebahagaian ini tidak berlangung lama. Belum Amiya selesai berkata, tiba-tiba W menyela ucapannya. Hanya beberapa kalimat yang terdengar sangat buruk.


"Kelinci kecil, apakah kamu pimpinan mereka?"


".....??" mendengar ini, Amiya pun kebinungan.


"Aku penasaran, pesona apa yang telah kau berikan kepada mereka.. hingga mereka berani mengorbankan diri mereka dengan sangat antusias dan tanpa rasa takut untukmu?" tanya W.


"Apa.. yang kau katakan barusan?"


"Apa kau tidak dengar? Tidak ada satu pun dari mereka yang akan datang kepadamu."


Setelah mengatakan keberanan itu, W menoleh ke arah dokter dan berkata, "Hei, kau. Apakah kau benar-benar.. merasa bahwa nyawa mereka layak untuk dikorbankan?"


"Apa tujuanmu, W?" tanya dokter.


"Aku belum selesai bicara. Amiya.. apakah aku membuatmu marah?"


"...Kau keterlaluan!"

__ADS_1


"Bagus, bagus.. sekarang keadaannya memang seperti itu. Datanglah kepadaku."


"W dari gerakan Reunion (Reunion Movement), kau sungguh keterlaluan! Nyawa orang adalah hal yang sangat berharga. Ini adalah sesuatu yang tak bisa kau nodai! Dokter.."


"Rhodes Island, bersiap bertempur!" sahut dokter.


"Hehehe.."


Berbeda dengan Talulah.. dia membunuh prajurit Rhodes Island hanya untuk membalas dendam. Walau tahu mereka adalah musuh, namun pemimpin Reunion itu masih memberikan hormat dan pengakuan kepada prajurit Rhodes Island yang gugur. Tapi.. W, orang itu benar-benar tak peduli kepada prajurit Rhodes Island yang dia bunuh. Mendengar pengakuan W, bagaimana mungkin Amiya tidak marah? Dia bersikeras melindungi teman-temannya. Tapi di sisi lain, ada sekelompok prajurit yang dibantai oleh W dan pasukan Reunion.


Sebuah pertempuran kecil tak dapat dihindarkan. Selagi pasukan Reunion bertempur di garis depan, W terus membombardir prajurit Rhodes Island tanpa ampun. Walau begitu, sejak awal W tak berniat untuk bertarung dengan Rhodes Island. W hanya ingin menyelesaikan masalah pribadinya. Salah satunya adalah bertemu dengan dokter dan meminta sebuah penjelasan tentang..


"Ah, sungguh bernostalgia! Kau Amiya, 'kan? Hm.. ahahahaha..!! Jadi begitu, aku mengerti. Sekarang aku mengingatnya, Amiya."


"Apa..??"


"Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan. Syuh.. sekarang kalian bisa pergi."


"Kau..!!"


"W..??" ucap seorang prajurit Reunion. Dia pun bingung melihat W membiarkan mereka pergi begitu saja.


"...Apa? Kau lebih suka tinggal di sini dan mati ya? Aku tidak masalah. Kau bebas untuk bertindak sesuka hatimu." balas W.


"....." prajurit Reunion itu terdiam.


"Kita mundur. Biarkan mereka pergi. Ini perintah Talulah." sahut W kepada seluruh pasukannya.


"Lupakan. Akan sangat membosankan jika mereka terseret terlalu dalam. Aku benci bosan, hanya itu yang ada di dalam pikiranku. Namun, kita akan bertemu kembali, Amiya. Juga.. orang itu.


"Apa maksudmu?!" tanya Amiya.


"Lain kali, saat kita bertemu.. aku akan mendengarkan semua kebenaran darimu, Dokter Leon. Bye.."


"Apa.. kenapa dia melakukan semua ini?" Amiya tampak kebingungan.


"Reunion.. mereka pergi! Kita hanya melewatkan waktu pertemuan saja. Kembali ke Rhodes Island.. sekarang!" sahut Doberman.


Amiya begitu bingung dengan maksud perkataan W. Ada hubungan apa dia dengan dokter? Setiap topik yang dikatakan oleh W, semuanya berhubungan dengan dokter. Ini membuat Amiya gelisah. Dia takut dokter kenapa-kenapa.


"Aku akan mengawal.. operator di belakang." ucap Amiya dengan wajah lesuh.


"Amiya.." ucap Nearl.


"Aku baik-baik saja."


"...Baiklah."


"Ayo kita pergi, Amiya." ucap Doberman.


...*****...


Sementara itu, di pusat Chernobog.


"Bos.." ucap penjaga itu. Karena lukanya cukup parah, Ace menyenderkan prajurit itu di reruntuhan bangunan, "Di mana yang lainnya.."


"Nearl, Amiya, dan dokter telah berhasil keluar dari sini. Mereka yang memutuskan untuk tinggal, mereka tiada." jawab Ace.


"Apa..??"


"Hanya tinggal kita berdua."

__ADS_1


Kejadian ini sungguh membuat penjaga itu depresi. Dia terus melantur tidak jelas dan mengabaikan luka parah di tubuhnya. Namun Ace tahu.. dalam pertempuran, ini adalah hal yang sangat wajar. Dia tetap tenang walau penjaga itu memperburuk keadaan.


"...Aku ingat, orang itu.. Talulah, dia hanya menggunakan satu tangannya untuk menghancurkan pertahanan kita seperti mainan. Monster itu membelah pertahanan kita layaknya mentega.


"Hust.. lukamu cukup dalam."


"Bencana..!! Dia adalah jelmaan dari bencana! Bagaimana.. bagaimana bisa dia melenyapkan pasukan kita menjadi debu secara instan? Walaupun aku melihatnya dengan mataku sendiri, aku tidak bisa.. aku tidak mempercayai semua ini.."


"Teriakan itu... ahh!!" untuk menghentikan kegilaannya, Ace memukul penjaga itu dengan keras. Ace hanya ingin menyadarkannya.


"Sadarlah!"


"M - Maaf. Aku tidak tahu harus bagaimana.."


"Tenang. Aku akan memberikanmu pertolongan darurat."


"Bos.. apa yang terjadi dengan lenganmu..??"


Tentang lengan Ace.. sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan.


"Setidaknya aku masih mempunyai satu tangan yang masih dapat kugunakan." balas Ace tanpa menoleh. Ace sibuk mengobati luka penjaga itu.


"Bos.. kau harus pergi. Aku yakin kau bisa kabur dari sini."


"...Kita hanya bisa menahannya sebentar. Sampai Amiya dan Dokter Leon benar-benar aman, aku tidak akan pergi." setelah memberikan pengobatan darurat, Ace berniat untuk kembali berjuang, "Aku akan menghentikan monster itu."


"Bos.. aku ikut denganmu."


"Nyawamu.. dibayar dengan tanganku. Jika kau bisa hidup walau hanya sebentar, itu akan sangat berharga."


"....."


"Aku akan kembali. Jaga dirimu baik-baik." Ace lalu menghilang di dalam kabut. Jika dia beruntung, maka penjaga itu tidak akan menemukan jasad Ace tergeletak di pusat Chernobog.


"Bos.. maaf, aku benar-benar tidak berguna. Amiya.. aku yakin kau bisa mewujudkan mimpi semua orang."


...*****...


Entah ini mimpi atau bukan, tiba-tiba ingatan Amiya terhubung dengan penjaga itu. Amiya dapat mendengar setiap keluh kesah yang dikatakan olehnya. Berulang kali Amiya membalasnya, namun penjaga itu tak dapat mendengarkannya.


Setidaknya untuk sekarang, Amiya belum menyadari tentang kekuatan besar yang tersembunyi di dalam dirinya. Dia hanya menganggap ingatan itu sebagai mimpi dan tak ingin memikirkannya.


"....." Amiya terdiam, "Mereka semua.. aku.."


"Amiya.. Amiya.. Amiya.."


"Huh.. ada apa?" Amiya benar-benar tidak sadar bahwa dirinya hampir pingsan. Namun saat ingatan itu menghilang, kondisinya langsung baik-baik saja.


"Amiya, kau baik-baik saja?" tanya medic itu.


"...Duka."


"Duka?"


Kalimat itu.. mengingatkan mereka kepada nasib yang menimpa Ace beserta pasukannya. Tak kuasa menahan sedih, medic itu pun menangis.


"Hiks, hiks, hiks.."


"...Jangan menangis. Setidaknya untuk sekarang.. seseorang pernah berkata kepadaku, air mata.. seharusnya disimpan jika perang telah selesai. Sekarang bukan saatnya."


"....." medic itu terdiam.

__ADS_1


"Ayo.. kita pulang." sambung Amiya.


Bersambung.


__ADS_2