Rusak

Rusak
Persuit - Pengejaran


__ADS_3

"Pak, jelas Anda mengerti bahwa kita memiliki musuh yang sama!" ucap Amiya dengan tegas. Setelah berkata, Amiya lalu menoleh ke arah Doberman, "Nona Doberman!"


"Prajurit! Mereka menyerang!" sahut Doberman sambil menatap ke dalam kabut.


"Ada apa..?!" tanya kapten militer Ursus.


Orang yang dimaksud oleh Doberman adalah sekelompok manusia yang bersembunyi di balik kabut tebal itu. Kini mereka mulai bergerak. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin Rhodes Island sudah bersiap akan hal ini, namun entah dengan militer Ursus. Semoga mereka memiliki rencana lain yang dapat digunakan jika situasinya semakin memburuk.


Duar.. seseorang menembakkan senjata api dari dalam kabut ke arah militer Ursus. Peluru itu memang tak berpengaruh bagi mereka, namun bukan itu yang diincar oleh musuh. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka ada. Ya, mereka yang sejak awal telah mengawasi militer Ursus dan sedikit dari Rhodes Island.


"....." sesosok wanita misterius tampak muncul dari dalam kabut asap itu. Dia tidak sendiri, melainkan bersama dengan beberapa prajurit yang tampaknya sudah sangat terlatih.


"Reunion.. mereka di sini!" ucap Amiya.


"Amiya, hati-hati! Dia sangat berbeda dibandingkan dengan pasukan biasa!" balas Doberman.


"Hm.. mencoba kabur? Jangan pikir kalian bisa pergi. Serang, hancurkan mereka." ucap sesosok wanita misterius itu.


"Bahkan anak buahnya sepertinya sudah sangat terlatih. Apakah dia adalah pemimpin Reunion?" sambung Doberman.


"Kabutnya semakin tebal. Apakah mereka berencana untuk menyerang secara tiba-tiba?" tanya Amiya sambil menoleh sekitar, menatap kabut asap yang setiap detiknya semakin bertambah tebal.


"Pak, kita harus pergi dari sini! Jika mereka berhasil menghalangi jalan keluar, maka kita.." belum selesai Amiya berkata, tiba-tiba kapten pasukan itu menyela ucapannya. Dia membalas perkataan Amiya dengan nada tegas, seakan-akan dia sedang sangat marah.


"Pergi, kau penginfeksi..!!"


"....." Amiya terdiam.


"Kami ditugaskan untuk menjaga jalan ini! Kami tak peduli kenapa kalian datang ke sini atau apa yang akan kalian perbuat. Jika kalian berencana untuk mengancurkan kota kami, ketahuilah bahwa seseorang akan mencari kalian! Kemarahan Ursus tidak akan pernah berhenti! Jika tidak, maka apa yang terjadi di sini bukanlah urusanmu!" jelas kapten itu.


"...Kami mengerti." balas Amiya.


"Semua orang di Ursus diajarkan untuk tidak kabur dari pertempuran. Sekarang pergilah! Kami tidak punya waktu untuk berurusan dengan orang seperti kalian." sambung kapten itu.


"...Baiklah. Terima kasih." ucap Amiya pelan.

__ADS_1


"Cepat! Ayo pergi ke titik kumpul!" sahut Doberman.


...*****...


"....." sesosok wanita misterius itu terdiam.


"Kemarilah, para penginfeksi sampah! Apa hanya ini yang kalian bisa? Kalian hanya bisa berdiri sambil melihat kami?" ucap kapten pasukan itu.


"....." sesosok wanita misterius itu masih terdiam, "Semua orang Chernobog.. harus mati."


Sungguh bodoh kapten militer itu. Dia mengira bahwa dia dapat mengalahkan pasukan Reunion. Namun, sadar atau tidak, secara tidak langsung dia telah masuk ke dalam kandang harimau. Tanpa adanya bala bantuan, militer itu tidak lebih dari segerombolan mayat hidup. Pertarungan pun terjadi begitu sengit. Tidak mudah mengalahkan prajurit terlatih yang dipimpin oleh wanita misterius itu. Mereka para militer Ursus mungkin mampu bertahan untuk beberapa waktu, namun hasilnya tetap saja. Pada akhirnya akan sama saja, mereka mati, tidak ada jawaban lain.


...*****...


Saat pergi ke titik kumpul, Amiya, dokter, dan Doberman bertemu dengan Ace. Sebelumnya Ace telah ditugaskan untuk memimpin para tim ekspedisi dalam mencari informasi Reunion sebanyak mungkin. Melihat Ace muncul dihadapan mereka tanpa membawa satu pun prajurit sungguh mengejutkan prajurit Rhodes Island. Ini sangat jauh dari apa yang sudah direncanakan. Mungkinkah ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Ace? Untuk seorang prajurit, Ace pasti memiliki alasan hingga berani melakukan hal berisiko seperti ini.


"Ace?!" Doberman tampak terkejut.


"Sepertinya kalian selamat." ucap Ace.


"Itu mereka! Mereka yang kabur dari titik pusat! Jangan sampai lolos!" seru seorang prajurit Reunion.


"Cih.. mereka terus saja berdatangan! Tim E2, bersiap menghadang.." namun ucapan Doberman dihentikan oleh Ace. Ace mengatakan bahwa dalam situasi seperti ini kabur adalah pilihan terbaik.


"Doberman, jangan terlalu egois. Saat ini, mundur adalah prioritas utama. Amiya, dokter, cepat!" ucap Ace.


Ke mana pun mereka pergi, mereka pasti selalu bertemu dengan Reunion. Prajurit Rhodes Island tampak seperti ikan yang terjerat di dalam jala. Sekeras apa pun usaha mereka untuk bisa keluar dari situasi itu, mereka hanya akan menemukan jalan buntu. Reunion memang tak terorganisir dengan baik. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk mengikuti hawa nabsu dibandingkan dengan mengikuti rencana yang telah direncanakan. Namun, jumlah mereka yang sangat banyak itu, kini sudah tersebar di seluruh Chernobog. Mereka mengamuk di jalanan, murka, dan akan sangat berbahaya bila bertemu dengan Rhodes Island. Perumpamaan yang tepat untuk situasi semacam ini adalah.. seperti singa yang hendak menjaga teritorinya.


"Di sini juga tidak aman." ucap Doberman.


"Benar. Kita masih harus pergi sampai ke titik pertemuan berikutnya." balas Ace.


"Di mana pasukanmu?" tanya Doberman.


...*****...

__ADS_1


"Di mana mereka?! Cepat, temukan mereka!" sahut salah seorang prajurit Reunion.


...*****...


"...Mereka datang lagi!" ucap Doberman pelan sambil sedikit mengintip Reunion dari balik puing bangunan.


"Dokter, tolong beri kami perintah, sama seperti dulu." ucap Ace.


"....." tak menjawab, namun dokter hanya terdiam.


"Ace.. sebenarnya.. telah terjadi sesuatu yang tak terduga. Dokter.. terkena amnesia." ucap Amiya dengan wajah lesuh.


"....." mendengar ini, Ace pun terdiam.


"Maaf, Ace. Tapi dibandingkan dengan sebelumnya, banyak hal yang telah berubah." sambung Amiya.


"Oh..?? Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku. Apakah amnesia itu juga berpengaruh pada kemampuan komando dokter?" tanya Ace.


"Masih tajam seperti sebelumnya. Kemampuan mengambil keputusan yang dimiliki oleh dokter masih dapat diandalkan. Aku jamin." jawab Amiya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengikuti komando dokter. Apa yang telah hilang dapat ditemukan kembali. Sekarang, ada masalah yang lebih penting."


"Mereka di sini! Tangkap mereka!" seru seorang prajurit Reunion.


Reunion akhirnya menemukan prajurit Rhodes Island bersembunyi di balik puing-puing bangunan. Sadar bahwa mereka telah ketahuan, akhirnya Prajurit Rhodes Island memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian. Tidak ada gunanya lagi bersembunyi jika telah ketahuan. Sekarang, mereka harus melawan. Hanya ini satu-satunya cara yang dapat dilakukan.


"Sudah basa-basinya? Aku tidak melarang kalian untuk saling bertukar informasi, tapi ingatlah bahwa kita masih memiliki musuh yang siap untuk dihabisi. Setelah ini selesai, kalian bisa melanjutkan obrolan kalian." sahut Doberman tanpa menoleh. Doberman sibuk menatap prajurit Reunion dengan sorot mata tajam.


"Dokter, tolong beri kami perintah." ucap Ace.


"Pergilah! Keluarkan kemampuan kalian dan biarkan mereka merasakan taring kalian!" seru pajurit Reunion itu.


"Tetap fokus! Musuh ada di depan kita!"


"Baik!" jawab Amiya dan Ace secara bersamaan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2