
Setelah kembali ke Rhodes Island, masih ada tugas yang harus mereka selesaikan. Sesuai dengan jadwal, hari Ini Rhodes Island memiliki pertemuan dengan Lungmen untuk membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan Reunion, jaringan di bawahnya, dan segala aspek keamanan.
...*****...
10:14 PM / Cerah / Jarak Pandang, 19 km / Lugmen, Distrik 5 - Zona Inspeksi dan Karantina.
"Bu.. mereka di sini." ucap seorang pria berseragam hitam.
"....." wanita misterius itu terdiam.
Malam itu.. Lungmen tengah menghadapi gelombang pengungsian berskala besar yang datang dari Chernobog. Untuk mencegah terjadinya kekacauan, pihak Lungmen menjalankan operasi bernama Inspeksi Oripaty untuk menampung dan mengkarantina seluruh terinfeksi yang datang ke Lungmen.
Salah satu tindakan yang dilakukan oleh Lungmen untuk menertibkan keadaan adalah dengan menyebarkan pengumuman.
"Mohon perhatiannya! Karena gangguan dari bencana, semua lalu lintas udara di Lugmen telah berhenti. Semua pintu masuk ke distrik akan ditutup dalam dua jam. Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama Anda selama Inspeksi Oripathy. Jika Anda menemukan terinfeksi yang tidak terdaftar, mohon segera menginformasikannya kepada petugas terdekat. L.G.D. akan menahan mereka sesuai dengan Undang-Undang Penanganan Darurat. Mohon perhatian.."
"Seperti rumor yang beredar. Ayo, Dokter. Kita sudah sampai." ucap Amiya.
Mereka lalu pergi menuju tempat yang sudah disepakai. Sebelum mereka datang, terdapat sekumpulan prajurit berseragam hitam yang telah menunggu mereka. Salah satu dari mereka adalah seorang wanita. Dari wajah dan aura yang dipancarkannya.. tidak salah lagi bahwa dia adalah pemimpin pasukan itu.
"Rhodes Island dijadwalkan bertemu dengan L.G.D pada pukul 10:00. Sekarang pukul 10:14. Kalian terlambat 14 menit! Kalian hanya membuang-buang waktu berhargaku!" tegur wanita itu.
"Maaf, Bu Chen. Kami baru tahu kalau Reunion juga ada di sini." balas Amiya.
Nama wanita itu adalah Chen, wakil dari Lungmen. Dan prajurit yang bersamanya adalah Agen L.G.D.
"Tidak apa-apa, aku sudah tahu. Tapi sekarang itu tidak penting. Siapa dia?" tanya Chen.
__ADS_1
"Dia Dokter Leon. Dokter Leon adalah konsultan Rhodes Island. Dokter Kal'tsit seharusnya sudah memberitahukan hal ini kepada Anda." Jawab Amiya.
"Hm.. karena semuanya sudah berkumpul di sini, mari ikut aku ke.." belum selesai Chen berkata, tiba-tiba seorang Agen L.G.D. menyela ucapannya.
Agen itu membawakan sebuah kabar buruk. Para terinfeksi yang ditahan oleh Lungmen.. mereka memberontak dan menolak untuk melakukan Inspeksi Oripathy.
"Bu Chen, ini darurat! Para terinfeksi.. mereka tidak.."
"Jangan panik! Pasukan utama, siaga! Sniper, ambil posisi!"
...*****...
"A - Apa yang terjadi?! Lepaskan aku..!!" seru seorang terinfeksi yang menolak untuk diamankan.
"Tsk.. apa yang terjadi? Laporkan situasinya." ucap Chen.
"Lepaskan aku! Kenapa kalian menangkapku?! Kami tidak melakukan kesalahan apa pun!" para terinfeksi terus memberontak. Mereka takut jika ini adalah bualan yang dibuat oleh Lungmen untuk menjebak mereka. Kodratnya terinfeksi adalah manusia yang paling dibenci di bumi. Mereka dimusuhi, bahkan wajib untuk dihabis. Tak heran jika mereka memberontak.
"Ya, aku bisa melihatnya. Lupakan saja. Tahan mereka semua. Segera bubarkan kerumunan itu. Buka gerbang dalam 30 menit setelah kau menyelesaikan proses peninjauan. Juga, desak inspeksi karantina ke 40 meter ke depan." jelas Chen kepada pasukannya.
"Selain kau dan Dokter Leon, Rhodes Island harus tetap di sini untuk membantu petugas perbatasan menangani para terinfeksi. Kalian berdua, ikut denganku. Jika pasukanmu tidak dapat menangani tugas sepele seperti ini, aku tidak akan menugaskanmu ke dalam misi apa pun." sambung Chen.
"PC94172, atur pekerjaan untuk orang-orang ini. Sudah cukup masalah yang dibuat oleh para terinfeksi, aku tidak ingin melihat masalah lagi malam ini."
"Mengerti, Bu! Semuanya, aku ingin kalian.."
Selagi Chen sibuk memberi perintah kepada pasukannya, Amiya melangkah mundur dan berbisik kepada dokter. Amiya hanya mengatakan sudut pandangnya saat bertemu dengan Chen.
__ADS_1
"Nyonya Chen benar-benar tangguh. Dia lebih keras dari apa yang aku bayangkan." bisik Amiya. Dokter lalu membalas dengan anggukan kepalanya.
"Kalian berdua, ikuti aku." Chen kemudian mengajak Amiya dan dokter pergi menuju kantor L.G.D. Harus diakui bahwa kantor itu sangat besar dan modern, berbeda dengan bangunan pada umumnya, "Kita sampai."
"G - Gedungnya tinggi.." Amiya tampak terpukau.
"Hm..??"
"M - Maaf."
Untuk sampai ke puncak, di mana pertemuan antara dua organisasi dilakukan, menggunakan lift adalah plihan yang terbaik. Lift itu terbuat dari kaca tembus pandang hingga siapa pun yang berada di dalamnya dapat melihat seluruh Lungmen.
"...Kemampuan Rhodes Island sudah tidak dapat diragukan lagi." ucap Chen sambil menatap pemandangan Lungmen di malam hari.
"Oh.. terima kasih atas pujiannya, Bu."
"Namun, setelah insiden Chernobog.. terjadi sebuah gelombang pengungsian besar di Lungmen. Para terinfeksi seharusnya sudah tahu apa akibatnya jika mereka masuk ke Lungmen."
Mereka akhirnya sampai di ruang pertemuan. Ruang pertemuan itu dibagi menjadi dua ruangan. Satu ruangan lobby, dan satu lagi adalah ruangan di mana setiap keputusan dibuat.
Saat masuk ke dalam lobby, Amiya mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya. Ya, orang itu adalah Dokter Kal'tsit.
"Aku ingatkan sekali lagi, Lungmen adalah Chernobog berikutnya." suara itu (Dokter Kal'tsit) berasal dari dalam ruang utama.
"Dokter Kal'tsit..??"
"Wakil Rhodes Island sedang bertemu dengan Ketua Wei. Mohon tunggu di sini. Aku akan memberitahumu segera." setelah berkata, Chen lalu masuk ke dalam ruang utama untuk memberitahukan bahwa wakil Rhodes Island lainnya sudah datang.
__ADS_1
"Fyuh.. dia sangat sulit untuk diajak bicara. Dokter Leon, saat ini.. Dokter Kal'tsit sedang bernegosiasi dengan Lungmen. Tolong percayakan semua ini kepadanya."
Bersambung.