Rusak

Rusak
Presumption of Innocence - Praduga Tak Bersalah ll


__ADS_3

"Fyuh.. aku mungkin tidak akan ketahuan jika bersembunyi di sini. Tapi, aku tidak akan bisa bertemu dengan anak-anak itu lagi. Aku harap mereka baik-baik saja." ucap Misha sambil sesekali mengintip ke luar jendela.


Mungkin Misha berpikir bahwa dirinya telah aman. Tanpa sepengetahuannya, seseorang telah mengikutinya sejak tadi. Orang itu bukan dari Rhodes Island, namun bekerja kepada Rhodes Island.


Tempat itu sangat sunyi, tanpa seorang pun tinggal di dalamnya. Tak lama kemudian, Misha mendengar suara langkah kaki.. yang menuju ke arahnya. Jika orang itu adalah penghuni bangunan ini, rasanya tidak mungkin. Misha hanya mempunyai satu pilihan, melawan atau tidak sama sekali.


"Siapa itu?!" ucap Misha.


Orang itu muncul dari dalam kegelapan, berjalan menuju Misha dengan penuh keyakinan. Berjalan bersama dokter dengan label "Rhodes Island" di jaketnya, siapa lagi jika bukan Amiya? Tidak hanya dokter, namun dia mengajak Franka dan Liskarm untuk menemaninya.


"...Apakah kau Nona Misha?" tanya Amiya.


"...Apa?"


"Maaf, Nona Misha. Aku harap aku tidak menakutimu. Ini temanku, Franka dan Liskarm."


"Hai." sapa Franka.


"Selamat siang." ucap Liskarm.


"Kami dari Rhodes Island Pharmaceuticals. Sebagai organisasi yang melayani para terinfeksi, setidaknya.. kami berharap kami dapat menolongmu. Itulah kenapa kami ingin berbicara sebentar." jelas Amiya.

__ADS_1


"...Bicara?" tanya Misha.


"Hm.. ini bukan tempat yang tepat untuk menjelaskannya." ucap Amiya sambil menoleh sekitar, "Untuk sekarang, prioritas utama kami adalah memastikanmu tetap aman. Untuk saat ini, kami akan melindungimu, jadi yakinlah."


"Apa.. yang kau bicarakan? Kau hanya ingin menangkapku dan mengurungku, 'kan? Pergi dariku! Cakarku tajam..!! Jika kau tidak mau terluka.." gertak Misha.


Bagi Misha, Amiya dan seluruh prajurit Rhodes Island tidak lebih dari sekumpulan orang asing. Ini adalah kali pertamanya mereka bertemu. Akan terdengar bodoh jika Misha langsung mempercayai ucapan mereka begitu saja. Walau terdengar meyakinkan, setidaknya Misha butuh bukti kuat untuk merubah pandangnya terhadap Rhodes Island.


"Prfft.." Franka tampak menahan tawa.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Misha keheranan.


"....."


"Nona Misha, kami benar-benar ingin menolongmu, jadi.." belum selesai Amiya berkata, tiba-tiba Misha menyela ucapannya. Alasannya masih sama, Misha tidak mempercayai ucapan mereka.


"Aku tidak percaya kepadamu. Lungmen memperlakukan para terinfeksi jauh lebih buruk dari kriminal! Kenapa.. kenapa kau keluar dari tujuanmu untuk membantu orang yang terinfeksi?"


"Nona Misha, lihat.."


Setelah mendengar keluhannya, alasan mengapa Misha tak ingin mempercayai mereka, itu karena Misha menganggap Rhodes Island adalah pasukan dari Lungmen. Amiya.. kemudian menunjukkan sesuatu kepada Misha. Melihat ini, Misha pun terdiam. Misha tak menyangka bahwa Amiya sama sepertinya, seorang terinfeksi.

__ADS_1


"Apa.. yang kau lakukan? Kau.. tanganmu.. kau juga.. terinfeksi?"


"Benar, kami sama sepertimu. Banyak terinfeksi di daerah kumuh ini. Anak-anak yang kau tinggalkan.. mereka mempercayaimu. Misha, kau telah menempatkan mereka dalam bahaya." jelas Amiya.


"...Kau menggunakan anak-anak itu untuk mengancamku?"


"Tidak. Tapi seseorang telah melakukannya. Kami baru saja mengejar sekelompok penjahat yang mengancam anak-anak itu."


".....!"


"Lungmen juga sedang mencari seorang terinfeksi. Jika Lungmen menemukanmu lebih dulu, mungkin hasilnya akan berbeda. Kami ingin mengalihkan perusuhan anak-anak itu dengan mengalihkan perhatian kepadamu. Dilihat dari sudut pandang lain, kami juga dapat menjagamu."


"...Kau tahu kenapa mereka mengejarku? Apa alasanmu.. sampai berani berbuat sejauh ini untuk orang sepertiku?"


"Sejujurnya kami tidak tahu kenapa para terinfeksi (penjahat) itu mengejarmu. Kami hanya peduli kepada keselamatan orang tak bersalah.. termasuk kau. Setidaknya untuk sekarang, ini adalah pilihan yang terbaik. Aku harap kau dapat mempercayai kami. Apakah kau mengizinkan kami untuk membawamu pergi dari sini?" ucap Amiya.


"...Baiklah. Lagi pula, aku tidak punya pilihan, 'kan?"


"Aku tidak bilang begitu. Tapi paling tidak, terima kasih.. Nona Misha."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2