Rusak

Rusak
Tyrant


__ADS_3

Bencana itu telah menimbulkan kekacauan yang sangat luar biasa. Seluruh kota hancur, terbakar, dan rata dengan tanah. Para penduduk, Reunion, bahkan seluruh prajurit Rhodes Island terkena imbasnya. Mereka terjebak di dalam kekacauan tanpa akhir, menyaksikan puluhan mayat terbakar seperti besi yang dilebur.


"Bersiap untuk benturan!! Menyebar..!!" sahut Doberman.


Puluhan batu meteor kembali menghantam bumi. Hujan batu itu menyebabkan setiap bangunan di Chernobog hancur berkeping-keping. Jika terus begini, maka masalah ini akan mengancam keselamatan prajurit Rhodes Island. Pasalnya untuk menghindari bencana itu, mereka bersembunyi di dalam reruntuhan gedung. Sekuat apa pun pondasi yang diterapkan oleh para pekerja, tidak akan ada banguan yang mampu bertahan bila terus dihujani batu meteor.


"Meteor itu terus berjatuhan! Kalau begini terus, bangunan ini bisa hancur! Bukan hanya bangunan ini saja, tetapi untuk semua bangunan di Chernobog! Ini kabar buruk!"


"Kita harus pindah!" sahut Ace.


Satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah berpindah tempat. Jika tidak, mereka akan tertimpa oleh reruntuhan bangunan itu. Saat hendak menyelamatkan diri, mereka bertemu dengan sekumpulan prajurit Reunion. Ini bukanlah saat yang tepat untuk bertempur dengan mereka. Sama seperti Rhodes Island, mereka kacau balau, kebingungan di tengah-tengah bencana. Harapan yang mereka nanti-nantikan justru menjadi musuh dibalik selimut.


"Tunggu!" ucap Ace.


...*****...


"Aaaargh..!! Langitnya.. runtuh! Mustahil, ini mustahil!"


"Aaaargh..!! Tanganku.. tanganku! Di mana tanganku?! Tidak, aku tidak mau mati..!!"


Reunion saat itu seperti bulu yang berhamburan di udara. Bergerak tanpa arah, kebingungan, jatuh ke dalam keputusaan adalah kengerian yang telah menanti mereka.


...*****...


"Defender! Lindungi para caster!" sahut Nearl.


Setelah memberi perintah, Nearl mendengar suara ledakan yang sangat keras dari seberang, "Suara apa itu?" ucap Nearl sambil menoleh ke arah sumber suara itu.


"Sebuah meteor besar baru saja merobohkan gedung seberang jalan! Merunduk!" ucap Ace.


Sebelum gedung itu roboh, Ace menyuruh semua prajuritnya untuk menghindar dari sana. Ini dilakukan untuk menghindari korban jiwa. Sayangnya perintah Ace terhalang oleh gelombang bunyi yang disebabkan oleh bencana tersebut. Beberapa prajurit Rhodes Island mendengarkan, namun sebagian lainnya tidak.


"Medic, jangan berdiri di sana! Awas!" seru Amiya.


"Oh tidak! Medic, pergi dari sana!" seru penjaga itu.

__ADS_1


Sebelum kejadian itu terjadi, orang yang paling dekat dengan medic adalah dokter. Entah mengapa, dokter merasa ada suatu perasaan yang mendorongnya untuk menyelamatkan medic itu. Dokter lalu berlari dan mendorongnya ke sisi yang aman.


"Huh.. d - dokter?" ucap medic itu.


"Dokter menyelamatkan medic dari sana? Apakah ini artinya dokter.." belum selesai penjaga itu berkata, tiba-tiba dia terdiam.


Ledakan itu menyebar dengan cepat dan membuat puing bangunan terpental ke sana kemari. Parahnya lagi, salah satu reruntuhan gedung jatuh ke arah dokter dan medic itu.


"Dokter, awas..!!" seru penjaga itu.


"Dokter Leon..!!" seru Nearl.


Tanpa menunggu perintah, Nearl langsung menyelamatkan mereka dari sana. Tidak ada keraguan di wajahnya. Neal.. benar-benar menantang maut. Terlambat sedikit saja maka Rhodes Island akan menyaksikan suatu kengerian yang tak pernah terbayangkan.


"Uhuk..dokter, kau selamat.." ucan Nearl pelan.


"Dia berhasil! Dia menyelamatkan dokter!" melihat Nearl berhasil menyelamat dokter membuat penjaga itu senang bukan main.


"Nearl! Dokter! Cepat ke sini!" panggil Amiya.


...*****...


"Dokter.. Anda, Anda baik-baik saja?" tanya Amiya.


"Aku baik, bukan masalah yang serius." jawab dokter.


"Kenapa.. kenapa Anda melakukan tindakan berbahaya seperti itu?! Setidaknya bawa aku bersamamu! Jadi aku bisa melindungimu! Aku tak bisa membiarkanmu terluka.. terutama jika itu di hadapanku!" tegur Nearl.


"Tidak ada satu pun dari kita yang terluka. Kita beruntung semuanya berhasil selamat." ucap Amiya.


"Tapi.. berapa lama lagi keadaan ini bisa bertahan? Berapa lama lagi kita bisa bertahan hidup?" batin Amiya sambil menatap prajurit Rhodes Island.


Lima menit setelah bencana melanda kota, kondisi menjadi sunyi. Tak ada ledakan maupun suara aneh selain suara api dan robohnya bangunan tinggi. Bencana telah mengubah kota itu menjadi lautan api, dengan penduduknya yang telah hangus terbakar. Tidak banyak, sebagian dari mereka hanya tumbal untuk menunjukkan bahwa bencana itu nyata.


"Hm.. apakah meteornya masih berjatuhan? Semoga kita bisa bertahan dari gelombang pertama.." Amiya, gadis muda itu memberanikan diri melangkah maju dan mengangkat kepalanya untuk melihat kondisi langit.

__ADS_1


Hujan meteor telah berhenti. Tapi, tidak untuk waktu yang lama. Rhodes Island harus bisa menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin, seperti.. kabur dari Chernobog.


"Tapi kita harus tetap berhati-hati. Tidak ada yang tahu sampai kapan bencana ini akan berlangsung. Tapi, setidaknya kita tidak mati di tengah situasi ini. Kita beruntung karena bisa lolos." ujar Doberman.


"...Bagaimana keadaan semuanya?" tanya Amiya.


"Sepertinya semua operator baik-baik saja. Hanya beberapa luka ringan. Mengingat keadaan kita sekarang ini, kita cukup beruntung karena berhasil selaamat.." jawab penjaga itu.


"Uhh.." bukan hanya mereka, namun beberapa prajurit Reunion tampaknya berhasil bertahan hidup. Mereka keluar dari dalam puing-puing bangunan layaknya mayat hidup yang bangkit dari kubur. Walau kondisi mereka tampak mengenaskan, tapi untuk prajurit yang tak terlatih.. ini adalah keajaiban.


"...Sepertinya kita tidak sendirian." ucap Amiya melihat mereka muncul dari dalam puing-puing bangunan.


"Uhuk, uhuk, uhuk.. Rhodes Island!" ucap seorang prajurit Reunion. Tangan kanannya terus menekan dada menandakan bahwa kondisinya tidak sedang baik-baik saja.


"Apa?" tanya Doberman.


"Huh, huh, huh.." entah apa yang mereka lakukan, mereka kompak menodongkan golok ke arah Rhodes Island sambil melangkah maju.


"Mereka masih mencoba menyerang kita?!" Amiya tampak terkejut.


"Huh, huh.. Rhodes Island!"


"Ada apa dengan kalian?!" berulang kali ditanyai, namun mereka tak pernah menjawabnya. Ini membuat Doberman semakin kesal.


"Rhodes Island.. kembali ke sini!" jawab prajurit Reunion itu.


"Kau sudah gila?!" bentak Doberman.


"Apa mereka tidak peduli pada hidup mereka sendiri? " ucap Nearl.


"Doberman.."


"Kita tidak punya pilihan lain. Kita tekan mereka dulu, lalu pergi ke tempat aman."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2