
"Inilah adalah harga yang harus kalian bayar karena membunuh teman-teman kami. Aku akan memberi kalian akhir cerita yang aku sukai. Lenyaplah..!!"
Talulah berniat menyapu bersih seluruh Rhodes Island dalam sekali sapuan. Dia.. meningkat sihirnya. Suhu panas di Chernobog meningkat drastis dan berkumpul menjadi satu. Gumpalan api itu bagaikan nafas naga yang siap membakar Camelot. Skakmat, Rhodes Island tersudut. Tak ada gunanya melarikan diri karena jika gumpalan api itu meledak, mereka akan tetap terbakar di lautan api Neraka.
...*****...
"Sial! Lari.. cepat! Suhu panas.. dalam skala seperti itu.. tidak, tidak! Lindungi Amiya dan dokter! Cepat!" sahut Doberman.
"Kita tidak akan berhasil..!! Aku akan menahannya!" ucap Nearl.
Duar.. Talulah menembakkan gelombang itu ke Rhodes Island.
"Aaaa..!!" jerit medic itu.
Sebelum gelombang panas itu membakar mereka, mereka merasakan hembusan angin yang terasa sangat sejuk. Mereka pikir mereka sudah mati, hangus terbakar di dalam musim panas. Namun saat mereka membuka mata, kini mereka tahu bahwa keajaiban itu nyata. Mereka melihat lapisan pelindung berdiri kokoh di hadapan mereka. Amiya, mampu menciptakan lapisan pelindung demi melindungi semua prajurit Rhodes Island, atau lebih tepatnya.. teman-temannya.
Cara Amiya menciptakan lapisan pelindung adalah satu dari sekian banyaknya misteri yang tersembunyi di dalam setiap jantung yang berdetak. Sama seperti mereka, Amiya tampak kebingungan. Lapisan pelindung itu muncul dengan sendirinya. Mungkin, tanpa disadari Amiya telah menunjukkan potensi dirinya di depan publik. Dia tidak tahu bagaimana lapisan itu bisa muncul. Tapi satu hal yang pasti.. Amiya akan mengambil keuntungan ini untuk menyelamatkan semua teman-temannya.
"...Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti mereka! Aku tidak akan.. membiarkanmu melakukannya!"
"...Oh?" guman Talulah.
"Aku harus.. melindungi semuanya!"
"Amiya menahan sihir musuh.. sendirian?!" Doberman tampak sangat terkejut.
"Ini tidak bagus. Kekuatannya terlalu besar! Amiya tidak akan bisa.. dia tidak akan bisa bertahan lama!" ujar Nearl.
"Amiya.."
"Jangan khawatir.. jangan khawatirkan aku.. aku bisa mengatasinya..!! Aku ingin.. aku harus.. melindungi kalian semua!"
__ADS_1
"Materi gelap ini.. menyegel sihir musuh dalam plaza.."
Mungkin pelindung itu dapat menyelamatkan seluruh prajurit Rhodes Island, namun tidak untuk Amiya. Semakin lama dia menahan gelombang itu, dia akan merasakan sakit yang begitu menyakitkan. Dalam hal ini, Amiya hanya menyiksa dirinya sendiri dengan berkedok menyelamatkan orang lain. Di mana nyawa menjadi taruhannya, mustahil untuk bisa menyelamatkan semua orang.
Jika memang harus, atau bahkan terpaksa.. untuk bisa selamat dari bencana itu, harus ada seseorang yang harus dikorbankan. Ini adalah pilihan yang diambil oleh Amiya. Apa pun akan dia lakukan demi menyelamatkan mereka yang pantas untuk bertahan hidup.
"Aaaargh!"
"P - Penahannya terbakar!" ucap penjaga itu.
Oripathy dapat meningkatkan kekuatan seni pengidapnya dengan cara yang berbahaya. Tetapi memanfaatkan kekuatannya hanya akan mempercepat proses kemunduran dan akhirnya menyebabkan kematian, di mana tubuh akan menjadi sumber infeksi baru. Untuk mencegah hal ini, beberapa orang menciptakan sejumlah alat yang dapat menahan pemakaian kekuatan yang berlebihan. Salah satunya adalah cincin yang dipakai oleh Amiya. Jika cincin itu sampai hancur, maka..
"Amiya, hentikan!! Cincinmu akan..!!" seru Doberman.
"Aku tidak peduli! Bahkan jika.. dokter, maafkan aku. Bahkan jika ini membawa bencana, bahkan jika aku.. aku tidak mau kehilangan.. seseorang yang paling aku sayangi.. lagi.."
"Bagus sekali.." guman Talulah dengan wajah datar.
"Amiya..!! Sial, kita akan kehilangan dia!" sahut Nearl.
Hanya ada satu cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Amiya. Seseorang.. harus menghentikan sihirnya dengan mengacaukan konsetrasi Amiya. Namun jika dia sudah berbaur dengan alam, maka tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Sebelum itu terjadi, Nearl menggunakan kekuatannya untuk menolong Amiya dari aksi bunuh diri ini.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Doberman.
"Menghancurkan sihirnya!" jawab Nearl.
"Kau.."
"O Cahaya Kazimier, Radiant Knight menawarkan tubuh ini kepadamu.."
Nearl.. memanggil ribuan cahaya untuk melahap sihir Amiya. Tapi.. sihir Amiya terlalu kuat, bahkan untuk gelombang api itu.
__ADS_1
"Dokter, cepat pergi! Kita akan menolong Amiya, tapi kau harus.." ucap Doberman.
"Aaaaaaagghh..!"
Saat Amiya sibuk memaksakan dirinya menahan gelombang api itu, Ace datang dan menepuk pundaknya. Ace tak ingin Amiya celaka. Masih ada masa depan dan tumpukan tugas yang harus diselesaikan oleh Amiya. Untuk bisa melakukan semua itu, maka Amiya harus tetap hidup. Ace tidak melarangnya untuk berkorban, tapi tidak di sini. Suatu saat nanti, saat tugas besar memanggil dirinya dan Amiya mampu memberikan pengaruh yang baik, itu adalah momentum yang didambakan oleh semua prajurit untuk berkorban.
Jika harus ada yang mati, maka Ace siap mengambil peran itu. Ace mengatakannya dengan sangat lembut untuk meyakinkan Amiya bahwa ini adalah takdirnya.
"Apa..?"
"Cukup, Amiya."
"....." Amiya terdiam.
"Kau sudah berusaha keras. Biarkan kami membantumu."
"Aku.."
Saat mereka melakukan kontak, sihir Amiya mulai melemah. Ini artinya Ace berhasil mengacaukan konsentrasinya.
"Amiya!" seru Doberman.
"Doberman, bawa dia bersamamu. Kita akan bertemu lagi."
"Ace.."
"Ace.. tidak.. Ace..!! Berjanjilah.. kau akan.." tak berkata, Ace membalas ucapan Amiya dengan senyum kecil sambil menganggukan kepalanya.
"Maafkan aku, Dokter Leon. Kau mungkin tidak ingat tentang diriku. Tapi aku mengingatmu, dan aku tahu persis seperti apa dirimu ini. Akan datang suatu hari di mana kau dan Amiya akan menghadapi tanah yang kejam ini bersama-sama. Karena itu.. kau harus menghargainya, Dokter. Cepat pergi. Semoga berhasil."
Bersambung.
__ADS_1