
Pikiran kedua belah pihak seperti garis paralel. Meskipun keduanya berjalan lurus, mereka tidak akan pernah berpotongan. Bahkan jika Amiya mengenali Skullshatterer, tidak ada jalan keluar dari sini.
Skullshatterer terus membombardir pasukan gabungan lungmen dan Rhodes Island, membuat mereka tak dapat melakukan serangan balik. Namun pada setiap tembakannya, selalu diselipkan dengan keraguan yang tak pernah ditunjukan oleh Skullshatterer sebelumnya. Dia bahkan mengajak Amiya berbicara, membuat pasukannya terheran.
"Ugh! Mereka masih melawan! Skullshatterer! Selama kita bisa memukul mundur mereka, kemenangan ada di tangan kita!" ucap prajurit Reunion A.
Duar.. Skullshatterer menembakkan peluru peledaknya, "Ya. Saat ini, kita tidak punya pilihan selain bertarung."
Duar.. Skullshatterer kembali menembaki Hoshiguma, namun dia mampu menangkis dengan perisai Hannya-nya.
"Orang-orang ini.. cukup tangguh!" ucap Hoshiguma.
"Gaah..!! Sial, tameng itu..! D - dia.. dari L.G.D.!" sahut seorang prajurit Reunion.
"Belum terlambat untuk menurunkan senjatamu dan menyerah. Kecuali jika kalian ingin mati sia-sia di sini." sambung Hoshiguma.
"Kau pikir kami akan mempercayaimu? Pembohong! Ursus.. mereka pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya. Tapi mereka justru mengeksekusi para terinfeksi, satu per satu. Aku bersembunyi di bawah mayat yang dibantai, menahan nafasku, agat tetap hidup."
"....." mendengar ini, Hoshiguma pun terdiam.
"Tidak ada kebijakan di mana orang seperti kalian tidak akan tunduk.. untuk menghabisi kami. Bukankah kalian hanya mencoba untuk mengumpulkan kami sehingga kalian dapat membunuh kami lebih cepat? Baiklah, kau sudah memutuskannya."
"....."
"Kau tidak akan bisa melawan mereka, kawan. Mereka tidak akan mendengar alasan apa pun. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bahkan Lungmen dan Ursus. Di tempat itu.. tidak, di banyak tempat.. hanya ada kebencian antara mereka yang terinfeksi dan mereka yang tidak." ujar Franka.
"Sepertinya karena itu.. komunikasi kita terputus. Meskipun ada jalan lain di depan matamu."
"Jalan lain? Apa.. yang bisa kita lakukan? Dan apa yang bisa kalian capai?" tanya Skullshatterer.
"Jangan membuang-buang waktu untuk mendengar kebohongan mereka! Skullshatterer, ayo kita singkirkan mereka bersama-sama!"
Duar.. terdengar suara ledakan dari arah yang berbeda. Itu adalah serangan dari prajurit Reunion yang menggunakan mortal untuk menyerang pasukan gabungan itu. Mereka mengepung Rhodes Island dan L.G.D. agar dapat menghabisi mereka.
"Ledakan?" Hoshiguma terkejut.
"Mereka berencana mengepung kita dari berbagai arah!" ucap Seorang Agen L.G.D.
"Sisi kita akan hancur jika tidak dapat mengatasinya.. bersiaplah untuk melakukan serangan balik!" sahut Chen bersiap untuk menyerang.
...*****...
"Skullshatterer, aku akan melindungimu! Bunuh mereka, dan pertempuran akan berakhir! Skullshatterer..!" ucap prajurit Reunion A.
"Aku harus kembali.. dengan kalian semua. Aku harus..!!"
Duar, duar.. Skullshatterer menembakkan rentetan tembakan dari peluncur granatnya ke arah pasukan gabungan itu.
...*****...
"Kita tidak punya banyak waktu! Hoshiguma!" ucap Chen.
__ADS_1
"Aku siap."
Sring.. Chen menahan serangan prajurit Reunion dan segera menbasnya.
"Berhati-hatilah. Jangan tunjukan kelemahan di depan musuh."
"Aku tidak akan memberi mereka kesempatan!"
Pasukan Reunion melakukan satu dorongan terakhir untuk melawan pasukan gabungan itu. Mereka terus mendesar, dan sebisa mungkin membuka celah agar Skullshatterer dapat meluncurkan serangannya.
"Awas, musuh menyerang dari depan! Amiya! Menjauh dari musuh..!" seru Franka.
Dari sekian banyak prajurit yang bertempur, Amiya justru terdiam dan tak mengangkat tangannya untuk membantu siapa pun. Bersama dokter, dia seperti mengenal siapa sosok yang berada di balik topeng itu, sosok yang terus memberikan perlawanan dengan penuh keraguan. Disisi lain, Skullshatterer merespons ucapan Amiya dengan nada yang berbeda dari sebelumnya. Skullshatterer tak pernah sekalipun menargetkan Amiya. Sengaja atau tidak, setiap peluru yang ditembakannya tidak ada satu pun yang pernah mengenai Amiya.
"I - Itu.. aku.. dokter, apa yang harus kulakukan.."
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Amiya."
"Tapi aku tidak mau. Maafkan aku, dokter. Aku.."
"A - Amiya?" ucap Skullshatterer.
Duar.. Skullshatterer terus menembaki pasukan gabungan itu tanpa tujuan yang jelas. Dari sini Amiya mulai mengerti bahwa sosok Skullshatterer ini berbeda dari sebelumnya. Dan alasan mangapa Misha tak pernah ditemukan adalah bukan karena dia kabur dengan W, tapi karena.. dia telah terlanjur memakai topeng itu.
"Kenapa.. kau.. kenapa kau menjadi seperti ini?" tanya Amiya dengan penuh penyesalan. Amiya menyesal karena dirinya gagal menyelamatkan Misha dari kebencian.
"Amiya.. aku pikir ini adalah takdir kita selama ini." balas Skullshatterer.
"Aku.."
"...Tsk."
"Nyonya Chen? Aku.."
"Cukup. Ini saatnya.. mengakhiri semua ini."
"Nyonya Chen.."
"Ada satu hal yang harus kukatakan padamu. Mulai sekarang, kau sebaiknya memperlakukan semua terinfeksi dengan cara yang sama.. sebagai musuh."
"....."
"Hidup itu tidak adil. Jika kau ingin membenci seseorang, maka bencilah aku. L.G.D., serang!"
Skullshatterer hanya dapat menembak, namun tidak untuk bertahan. Dengan serangan penuh dari pasukan di bawah komandi Chen, mereka berhasil mengalahkan pasukan Reunion.
Skullshatterer runtuh sekali lagi, tetapi tidak ada seorang pun yang tersenyum. Ch'en tidak memiliki kata-kata penghiburan untuk Amiya , tetapi berbagi beberapa sentimen yang jarang diucapkannya. Dengan emosi yang bertentangan, semua orang memulai perjalanan mereka kembali ke rumah.
Saat topeng itu dibuka.. mereka melihat.. sesosok wanita terbujur tak berdaya di sebuah reruntuhan. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara, misi menyelamatkan Misha telah menjadi akhri dari hidupnya.
"Amiya.. semuanya telah berakhir."
__ADS_1
"....."
"Orang selalu punya cara untuk melampaui harapanmu. Terlebih lagi jika itu menimpa para terinfeksi. Kekuatan melahirkan kegilaan, dan hasrat melahirkan kerusakan moral. Mereka seperti kanker, mengikis semua yang baik di dunia ini." ucap Chen.
"....."
"Kupikir topeng ini tidak ada gunanya bagimu."
"Aku pikir.."
"Jika kau ingin menyimpannya, aku tidak akan melarangmu. Tapi ketahuilah bahwa suatu hari nanti, kamarmu akan dipenuhi oleh topeng seperti ini. Semua orang harus menanggung akibat atas pilihan yang mereka buat.. terinfeksi, atau sebaliknya."
"...Maafkan aku, Nyonya Chen. Aku.."
"Dengarkan, Amiya. Orang-orang itu.. Reunion, jika mereka mau mendengarkanmu, maka kau dapat melakukan segala daya untuk membantu mereka. Tetapi mereka telah memutuskan untuk meninggalkan akal sehat dan mendedikasikan hidup mereka untuk mengejar kegilaan.. kau tidak boleh ragu lagi.."
"...Dia tidak jahat. Kita juga tidak mengakhiri kejahatan apa pun di sini hari ini. Ini terjadi karena pilihan yang dia buat. Tidak ada seorang pun yang berhak menghentikannya, dan tidak ada seorang pun yang berhak menyalahkannya." sambung Chen.
"Tapi, aku.. entahlah. Aku selalu merasa bahwa kita memiliki kewajiban untuk membantu mereka yang membutuhkan. Tapi kenapa.. harus berakhir seperti ini? Kenapa dia harus menanggung risikonya sendirian..? Apakah yang dilakukan Rhodes Island benar?"
"...Saat seseorang terinfeksi oripathy, hidup mereka bukan milik mereka lagi. Mungkin di mata Rhodes Island, mereka yang salah jalan masih dapat diselamatkan. Tapi untukku, dan L.G.D., bukan itu masalahnya. Jika perlu, kami mungkin harus.."
"...Aku hanya ingin memutus siklus yang tidak pernah berakhir ini.. meski hanya sedikit demi sedikit. Tapi.. jika semuanya berakhir seperti ini, aku hanya bisa.."
"Amiya.. kau meragukan dirimu sendiri?" tanya Chen.
"Aku.. aku tidak tahu. Para terinfeksi sepertinya ditakdirkan untuk mati, baik oleh tangan musuh, atau melalui keputusan mereka sendiri. Tragedi ini hanya akan terus berulang, lagi dan lagi. Dalam lingkaran kebencian ini, hanya ada satu cara bagi para terinfeksi untuk mendapatkan kembali harapan mereka. Daripada melenyapkan oripathy.. lebih baik menyingkirkan rantai duri ini dan mengakhiri kebencian itu sendiri."
"Amiya.. belah kasih didapat dengan harga yang tidak semua orang mampu. Rhodes Island tidak bisa menjadi L.G.D., ataupun melakukan apa yang L.G.D. lakukan. Memilih sejumlah terinfeksi yang ingin kalian terima, atau memilih berapa banyak orang yang akan diselamatkan melalui metode kebijakanmu.. ini adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh Rhodes Island. Atau sebaliknya.. ini adalah hal-hal yang hanya bersedia dilakukan oleh Rhodes Island. Tapi, aku tidak dapat melakukan ini. Khususnya.. tidak dengan L.G.D."
"....."
"Setidaknya.. kau juga akan menghormati ingatannya, tidak hanya rekan-rekannya saja. Jika kamarmu ingin dipenuhi oleh topeng, silakan. Tapi ingat, ini urusanmu, dan bukan urusan orang lain."
"....."
"Pemimpin kecilku dari Rhodes Island.. jika kau sudah menguatkan dirimu untuk menanggung beban ini.. maka buatlah keputusanmu, dan terimalah konsekuensinya."
"...Nyonya Chen."
"L.G.D. akan membereskan area ini sebelum membersihkannya. Setelah itu, aku akan menghubungi dokter itu (Dr. Kal'tsit)."
"Dokter, ayo." ucap Amiya.
Pertempuran telah berakhir. Kini Misha dan Alex akan selalu bersama selamanya. Di mana mereka berada? Tidak seorang pun yang tahu. Yang jelas.. mereka tewas karena memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap benar.
Disisi lain, W.. berdiri seorang diri sambil menatap ke arah pertempuran.
"Tsk.. takdir orang selalu terjalin dengan cara yang aneh. Mereka bersebrangan satu sama lain, dan mereka berselisih satu sama lain. Bahkan seorang grandmaster dapat di skak oleh perkembangan yang tidak terduga. Tapi pada akhirnya, semuanya baik-baik saja. Setidaknya.. aku bisa melihat apa yang masa depan persiapkan untuk kita. Heh.."
Bersambung.
__ADS_1