
Semua orang merasakan kengerian begitu mereka menatap matanya. Mata yang penuh dengan kebencian, masa lalu kelam telah membuatnya jauh dari fakta. Ini sulit untuk dipercaya, tapi.. Rhodes Island takkan bisa menghadapi orang seperti itu. Jika mereka bukan sekumpulan orang yang naif, mereka akan kabur daripada harus melawan orang itu, yang menyebut dirinya Talulah.
Apa..?? Berjuang sampai titik darah penghabisan? Lalu semuanya mati, itu yang kalian mau? Tidak, ini bukan cerita seperti itu. Hanya orang-orang bodoh yang terus melawan orang yang jauh lebih kuat darinya. Mereka tidak sadar bahwa tindakannya sia-sia. Itu bukan keberanian, tapi kenekatan tanpa pikir panjang yang sering dilakukan oleh para pengguna plot twis.
"Amiya, bawa dokter bersamamu! Pergi, sekarang!" sahut Nearl.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu.. "
"Tentu kau bisa merasakannya juga! Dia.. jika kau tidak pergi, maka semua tim penyelamat akan mati di sini! Talulah itu.. dia monster, Amiya!"
"Kita akan baik-baik saja, selama kita bersama!"
"Lalu bagaimana dengan dokter? Apakah kau bisa menjamin keselamatan dokter?"
"....." Amiya terdiam.
"Tim E4! Kita akan tinggal dan menahan barisan! Kita harus memastikan Amiya, Dokter Leon, dan tim medic pergi dengan selamat!" sahut Nearl kepada seluruh prajurit Rhodes Island.
"Tidak, pasukanku yang akan mengatasi ini." ucap Ace.
"Ace, berpikir rasional! Ini bukan saatnya untuk berdebat!" balas Nearl tanpa menoleh. Nearl sibuk menatap Talulah dengan sorot mata tajam.
"Aku rasional." balas Ace.
"Tentu kau bisa melihatnya juga! Semua yang ada di sekitartnya meleleh!"
"Aku tidak akan meninggalkan kalian bertarung sendirian. Rhodes Island.. tidak akan meninggalkan kalian!" ucap Amiya.
"Amiya, waktu kita tidak banyak! Kau harus pergi!" walau berat, namun Nearl berkata sesuai dengan kenyataan. Jika mereka tidak pergi, mereka akan mati. Doberman.. segera mengajak Amiya dan dokter untuk pergi dari sana.
"...Kamu harus mempercayaiku." ucap Ace.
"Aku tidak bisa melihat Rhodes Island mengorbankan siapa pun!"
"Pikirkan tujuan kita! Pikirkan tentang tujuan kita datang ke sini!" sambung Doberman.
"Ini bukan saatnya membicarakan hal itu!" balas Amiya.
__ADS_1
Talulah.. orang itu mengangkat tangannya ke langit kemudian merapal sihir. Tak lama kemudian, muncul kobaran api di dalam genggamannya. Gumpalan api itu meledak, menyebabkan suhu di sekitar menjadi sangat panas dari sebelumnya.
"Panas.. mengumpul di tangannya?!" Nearl tampak terkejut.
"Apakah dia.. mengubah suhu di sekitarnya?" ucap penjaga itu.
"Tidak! Itu.. yang jelas udara di sekelilingnya menjadi sangat panas!"
Talulah kembali merapal sihir. Ini adalah tanda bahwa dia akan menyerang mereka lagi. Namun kali ini berbeda dari sebelumnya. Gumpalan api itu sangat panas hingga mampu melelehkan bangkai mobil di sekitar tempat kejadian.
"Awas, dia menggunakan sihirnya!" ucap Amiya.
Dengan api sebesar itu, jika sampai ditembakkan ke prajurit Rhodes Island, maka semua orang akan mati. Sebagai seorang kesatria, Nearl tak bisa tinggal diam. Dia berlari menuju Talulah demi menghentikan sihirnya. Saat itu, tekatnya menguasai seluruh tubuhnya. Dengan kondisi seperti itu, Nearl tak bisa berpikir dengan jernih.
Melihat Nearl pergi menuju Talulah, Amiya lalu berkata, "Tidak, kamu tidak bisa! Nearl, kembali ke sini! Itu bukan.. kau akan mati jika kau.."
...*****...
Ting.. kedua pedang itu saling beradu kekuatan. Talulah, dengan apinya. Nearl, dengan cahayanya.
"...Diam." tebasan Talulah begitu kuat, hingga mampu memukul mundur seorang Radiant Knight.
"Near!" seru Doberman.
"Uhuk, uhuk, uhuk..!! Mundur! Jangan khawatirkan aku! Ini hanya.. sedikit hangat."
"Jangan khawatirkan dirimu, katamu?! Zirahmu bahkan sudah hancur! Dan kau memintaku untuk tidak khawatir?! Kau seharusnya tidak bertarung dengannya lagi!"
"Aku sudah bilang.. mundur!" tatapannya begitu meyakinkan. Kini tak ada siapa pun yang dapat menghentikannya. Nearl bagaikan kereta api yang tak terkendali, yang siap menerobos apa pun walau itu harus jembatan buntu.
"Nearl..!! Dasar keras kepala!"
"...Hm?" guman Talulah.
"Merunduk!" ucap Ace.
Wus.. Talulah menebaskan pedangnya. Setiap kali pedang itu ditebaskan, akan selalu muncul gelombang api dari dalam besi itu. Tak kenal ampun, api itu akan melahap apa pun yang menghalangi jalurnya.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk.. apa-apaan itu?!" ucap Nearl.
"...Sebuah gelombang api baru saja melewati kepala kita. Mundur! Seluruh blok ini akan meleleh! Jangan melakukan pengorbanan yang sia-sia!" ucap Ace.
"....." Nearl terdiam, "Monster apa yang sedang aku lawan ini?"
"Kita harus mengganggu sihirnya! Sniper, bidik musuh itu!"
"...Perlawanan akan mengantar harapan ke tanah ini. Tapi perlawanan.. tidak akan mengubah nasibmu." ucap Talulah.
"Tembak!" seru Ace.
"Chernobog telah mencapai kemerdekaan. Tugas kami di sini telah selesai, dan kelompokmu.. cukup menarik."
"Apa.." guman Doberman.
"Tapi, hanya itu yang berharga dari kalian. Kalian telah memilih dengan buruk. Rhodes Island, kalian seharusnya berdiri dengan para terinfeksi."
Duar.. Talulah menyiptakan gelombang api yang sangat besar. Setelah gelombang itu meledak, seluruh tempat menjadi hangus.
"Apa yang terjadi?! Kenapa seluruh plaza.. hangus?! Kenapa ini.. aku tidak bisa bernafas. Rasanya paru-paruku seperti terbakar." medic itu merintih kesakitan sambil menekan dadanya.
"Batu, petir, panah.. semuanya menghilang. Dalam sekejap.. semua benda di sekelilingnya menghilang. Bahkan tidak ada satu pun abu yang tersisa." ucap penjaga itu.
"Amiya, kau tahu apa yang harus kau lakukan." ucap Nearl.
"....." Amiya terdiam.
"Seseorang.. harus menghentikannya."
...*****...
"...Aku lelah dengan semua ini."
Talulah kembali mengumpulkan energi panas di dalam pedangnya. Api mulai berkobar.. seperti iblis yang mengamuk. Energi telah mencapai puncaknya. Kini.. nasib Rhodes Island berada dalam genggamannya. Pedang itu akan menentukan.. apakah mereka pantas untuk hidup, atau lenyap dari muka bumi ini.
"Inilah adalah harga yang harus kalian bayar karena membunuh teman-teman kami. Aku akan memberi kalian akhir cerita yang aku sukai. Lenyaplah..!!"
__ADS_1
Bersambung.