Rusak

Rusak
Remnants - Percuma


__ADS_3

Tak lama setelah itu, Amiya pun jatuh pingsan. Untuk bisa menggunakan sihir itu, dia telah menggunakan seluruh tenaganya. Butuh waktu lama untuk kembali memulihkan energi yang terbuang. Tubuhnya begitu lemah, Amiya tak sanggup berjalan lagi. Doberman lalu meminta dokter untuk menggendongnya, hanya untuk sementara waktu.


Doberman, Nearl, dan seluruh prajurit Rhodes Island menghilang di dalam kabut. Mereka mungkin selamat, tapi bagaimana dengan Ace dan pasukannya? Mereka tengah berjuang, bertarung mati-matian demi bisa mengulur waktu agar mereka (Near, Doberman, dan prajurit Rhodes Island) dapat kabur dari Chernobog.


"Kita telah menembus pengepungan Reunion!" ucap Doberman.


"Tapi.. mereka.. aku.."


"Hust.. jangan sampai Amiya mendengarmu. Amiya menjaga pikirannya tetap jernih! Dia jauh lebih dewasa dari yang kita duga!"


"Mhm.."


"Jika seperti ini keadaannya, kita tidak bisa membiarkannya mendengar semua ini! Kita tidak seharusnya membebaninya lebih dari ini! Dia sudah.. membawa beban dunia di pundaknya."


"Kita tidak bisa.. membiarkan pengorbanan mereka sia-sia! Mereka membuat pilihan agar kita bisa terus bertahan hidup. Jadi kita harus membalasnya dengan memastikan Amiya dan dokter kembali dengan selamat."


"...Betul."

__ADS_1


"Sekarang bukan saatnya untuk bersedih. Sebagai seorang Radiant Knight, bukankah seharusnya kau menjadi harapan bagi kami, apa pun yang terjadi?" ucap Doberman.


"...Aku tidak yakin akan hal itu. Tapi, aku akan melakukan tugasku. Berkumpul! Jangan lengah! Kita hampir sampai!"


Doberman.. tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ingin rasanya dia berbalik namun tidak bisa. Doberman menyesal karena telah meninggalkan Ace bertarung sendirian. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah risiko yang harus mereka terima sebagai seorang prajurit.


Walau sulit, namun Doberman terus memaksakan dirinya untuk menoleh ke belakang. Setelah berbalik, Doberman lalu berkata, "...Mereka menyuruhku untuk tidak khawatir, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang kembali."


...*****...


Dokter lalu menurunkan Amiya dari gendongannya.


"Mhm.. aku baik-baik saja. Aku bisa berjalan sendiri. Aku hanya.. pingsan sebentar.. tapi aku baik-baik saja. Apakah kita berhasil? Apa yang terjadi pada Ace dan yang lainnya?" tanya Amiya.


"....." tak menjawab, dokter hanya diam.


"Baiklah. Tidak apa-apa. Aku yakin saat ini Ace pasti baik-baik saja. Semua orang di Rhodes Island adalah orang yang kuat. Kita hampir sampai di pintu keluar selatan. Begitu kita meninggalkan Chernobog, kita akan.. kita.. akan.." kian lama ucapan Amiya semakin merendah, disusul dengan alisnya yang mengkerut. Amiya.. sudah menebak ini sebelumnya. Tentang bagaimana nasib Ace dan seluruh prajuritnya. Amiya hanya ingin.. terlihat bugar di depan prajurit Rhodes Island, terutama dokter.

__ADS_1


"Dokter, bisakah aku.. bersender di bahumu sebentar..? Hanya sebentar.."


...*****...


Ace dan pasukannya berhasil mengulur waktu. Saat ini Rhodes Island sudah pergi dari tempat pembantaian itu. Namun faktanya.. akan terdengar sangat pahit. Mereka mungkin dapat bertahan, tapi tidak dalam waktu yang lama. Satu per satu prajurit Ace mulai bertumbangan di tangan Talulah. Dari semua prajurit yang gugur, hanya Ace dan seorang penjaga yang mampu bertahan hidup.


Setelah kobaran api itu mereda, dua pemimpin Reunion datang menghampiri Talulah yang terdiam di tengah jalan. Pemimpin Reunion yang dimaksud adalah Mephisto. Dia datang bersama seorang wanita misterius. Hanya mereka berdua, tanpa satu pun prajurit Reunion.


"...Mengesalkan." bisik Talulah.


"Bagaimana orang itu.. bisa melakukannya..?? Setengah kota terbakar menjadi abu, seluruh plaza menjadi lautan api.. besi meleleh dan berubah.. tapi bagaimana dia.. bisa terus berjuang?" ucap Mephisto.


"Dia berjuang sampai akhir. Hm.. mengesankan." puji wanita misterius itu.


"Aku akan mengingat ini.. Rhodes Island."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2