Rusak

Rusak
Penguin Logistics


__ADS_3

Penjelasan yang Amiya berikan kepada Chen begitu mudah dimengerti. Tidak berbelit dan langsung "To The Point." Ini sungguh menghemat waktu.


"Itu laporannya, Nyonya Chen." Amiya menjelaskan seluruh detailnya melalui walkie talkie.


"Baik! L.G.D. akan menetukan titik pertemuan dan menunggumu membawa target."


"Dimengerti.."


"...Franka, bawakan aku peta yang dibuat oleh tim pengintai." ucap Amiya.


"Oke, ini akan bekerja."


"Kita akan meninggalkan daerah kumuh menggunakan rute terpendek." jelas Amiya, "Ada perintah lain, Nyonya Chen?" tanya Amiya kepada Chen.


"Cepat. Kita tidak punya banyak waktu, ganti. Pasukan! Jangan terlambat!"


Tut.. Chen langsung menutup teleponnya. Itu adalah tanda bahwa tugas baru sudah dimulai. Setelah menemukan Misha dan berhasil membujuknya untuk ikut bersama mereka, Rhodes Island masih harus mengantarkan Misha ke titik pertemuan. Tentang apa, kapan, di mana, dan alasan mengapa L.G.D. mencari Misha.. masih sangat dirahasiakan, bahkan dari sepengetahuan Rhodes Island.


"Fyuh.. dia menutupnya."


"...Apa kita harus menjalan perintahnya?" tanya Franka.


"Bagaimanapun juga, kita yang telah menemukan targetnya." jawab Amiya.


Semua orang tampak penat, kebingungan, dan merasa bahwa mereka hanya diperalat oleh Lungmen. Kerahasiaan informasi mengenai Misha yang hingga kini belum ada kabar adalah penyebab utama mereka (Rhodes Island) saling menaruh curiga kepada L.G.D., bertanya satu sama lain tentang bodohnya diri mereka hingga mau diperalat oleh organisasi itu.


"L.G.D. tidak pernah memberi kita informasi detail mengenai target mereka." bisik Liskarm pada Amiya, "Kita seharusnya bekerja sama, tapi mereka justru merahasiakan informasi ini dan mendadak memberitahu kita bahwa orang yang kita temukan sangat penting bagi mereka. Banyak informasi penting yang tidak diberikan."


"Aku tidak heran L.G.D. merahasiakannya dari kita." balas Amiya dengan bisikan pelan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Liskarm.


"Apakah kau tidak pernah mengerti? Kupikir kau orang yang pintar. Apa untungnya Rhodes Island mengetahui rencana mereka?" ucap Franka.


"Yang dapat kutekankan adalah.. minimnya informasi hanya akan membahayakan misi ini. Kesampingkan hal itu. Bagaimanapun juga, kita harus mengawal Misha ke titik pertemuan dulu." ujar Liskarm.


Selagi mereka berdebat, Amiya sibuk menentukan rute mana yang akan mereka gunakan sebagai akses jalan keluar. Rute yang dibuat oleh tim pengintai benar-benar membingungkan. Memahami setiap persimpangan dan jalan yang memutar bukanlah keahliannya.


"Hm.. rute mana yang harus diambil?" ucap Amiya sambil menatap peta daerah kumuh itu, "....Sepertinya kita harus meminta bantuan dari mereka."


"Meminta bantuan, katamu? Tapi dari siapa?" tanya Liskarm.


"Penguin Logistics."


...*****...


Lama menunggu, akhirnya seorang perwakilan dari P.L. datang ke tempat persembunyian mereka. Sebenarnya terdapat dua orang yang dikirim oleh P.L. untuk membantu Rhodes Island, namun salah satu dari mereka memutuskan untuk berjaga di luar.


"Aku tahu itu.." entah mengapa, mendengarnya bicara begitu justru membuat Franka merasa kesal. Ucapan anggota P.L. itu seperti sindiran baginya, yang di mana mereka belum menyelesaikan misi ini.


"Heh.. apakah telah terjadi sesuatu yang buruk? Atau.. kau bertemu dengan orang yang tidak kau sukai?" tanya anggota P.L. itu.


"Iya, kau." jawab Franka.


"Jangan seperti itu. Tanpa bantuan dari intel Penguin Logistics, kita tidak akan bisa memperkecil zona pencarian kita, ataupun mendapatkan informasi mengenai para terinfeksi Lungmen dengan mudah." jelas Liskarm.


"Terima kasih pujiannya, Nona! Kau mempunyai penilaian yang bagus." ucap anggota P.L. itu.


"Exusiai, Rhodes Island membutuhkan bantuanmu untuk menemukan rute teraman untuk kami." sahut Amiya.

__ADS_1


Exusiai adalah anggota Penguin Logistics. Dengan bermodalkan senjata "Kriss", apa pun keluhan yang diminta oleh kliennya.. akan dapat diatasinya dengan sangat mudah.


"Kalau begitu, mari kutunjukan. Hm.. tidak ada satu pun dari rute-rute ini yang bagus. Ah, ayo mulai dengan rute ini! Eee.. lihat peta ini. Mulai dari tengah daerah kumuh, menuju tiga blok ke utara, lalu ikuti jalan ini ke selatan sampai menemukan jalan keluar. Ini mungkin.. jalan teraman kalian. Walau begitu, akan ada banyak musuh di jalanan."


"Musuh?" Amiya tampak kebingungan.


"Sepertinya Reunion telah menyusup ke Lungmen. Nona Exusiai, mungkinkah kau sudah mengetahui tentang penyebaran musuh?" ucap Liskarm.


"Hm..."


"Jadi, bagaimana pergerakannya?" tanya Liskarm.


"Mereka datang menuju kalian!"


"....." mendengar ini, Franka pun terdiam.


"Kita terkepung." sahut Liskarm sambil sesekali menatap ke luar jendela.


"Prioritas utama kita adalah membawa Misha pergi dengan selamat. Franka, aku mengandalkanmu untuk menghentikan sergapan musuh." ujar Amiya.


"Gampang."


"Liskarm, bagi pasukan defender dan lindungi kedua sisi. Kau bertanggung jawab melindungi Misha."


"Tidak masalah."


"Oh iya, satu hal lagi.. mereka membawa caster di dalam pasukannya." sambung Exusiai.


Mendengar ini, Amiya menoleh ke arah dokter dan berkata, "...Dokter, tetaplah bersamaku. Tolong pimpin pasukan kita. Aku akan mengandalkan perintahmu. Baiklah, ayo kita pergi ke rute teraman ini!"

__ADS_1


Walau Amiya cemas setelah mengetahui musuh membawa sekumpulan caster, namun dengan perintah dari dokter, Amiya yakin mereka akan mampu melawan para penjahat jalanan itu. Dengan bermodalkan tekat dan semangat juang, apa pun bisa dilakukan oleh Rhodes Island. Masalah menang atau kalah.. merekalah yang menentunkannya.


Bersambung.


__ADS_2