
Sebulan telah berlalu.Setelah melalui banyak pertimbangan Cheryl memutuskan untuk tetap meneruskan kehamilannya.
Kini setelah Cheryl yakin dengan keputusannya. Timbul masalah berikutnya. Bagaimana mungkin Cheryl meneruskan kehamilannya yang nantinya akan melahirkan seorang anak yang tak berdosa. Tetapi statusnya masih single.
Saat sarapan pagi ketika semua berkumpul bersama di meja makan . Papa memberanikan diri untuk kembali meyakinkan Cheryl akan keputusannya terhadap bayi yang sedang dikandungnya saat ini.
"Ryl ..., kamu benar sudah yakin dengan keputusanmu itu?" papa menatap serius ke arah anaknya.
"Iya nak mempunyai bayi tanpa sosok suami dan ayah anak itu, nantinya akan merepotkan dan jadi pergunjingan banyak orang." Mama mencoba memberikan pencerahan pada anak semata wayangnya itu.
Cheryl menarik napas dalam.Sejujurnya ia pun sebenarnya takut dan sadar akan resiko yang akan ia hadapi kelak. Tetapi Cheryl teringat pesan Bagas beberapakali dalam mimpinya. Untuk menyanyangi dan menjaga buah cinta mereka itu dengan penuh kasih sayang.Sebagai wujud pengganti dirinya untuk menemani Cheryl di dunia ini.
"Keputusan aku sudah bulat ma, pa aku akan mempertahankan calon anak aku ini." Cheryl berdiri lalu meninggalkan meja makan.
"Ryl!!Jangan salah paham." Papa merasa tidak enak hati dengan sikap anak gadisnya itu.
"Sudahlah pa, Cheryl sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan penting dalam hidupnya." Mama meraih tangan suaminya itu untuk meyakinkannya.
Papa menatap Cheryl hingga menghilang masuk ke dalam kamarnya.
.................................
Beberapa hari kemudian.
"Pagii Tante, Cherylnya sudah bangun Tan?' Fany memberi salam pada mama Cheryl saat ingin menemui Cheryl.
"Haii Fan! Pagi sayang, kemana saja dua hari ini Tante lihat, kamu gak kesini? Lagi sibuk ya." tanya mama sambil merangkul Fany.
"Iya tan, lagi banyak kerjaan di kantor. Cheryl baik-baik saja kan?" Fany mendongak ke arah kamar sahabatnya itu.
__ADS_1
Terlihat mama Cheryl menarik napas panjang.Fany paham ada sesuatu yang mengganjal perasaan orang tua Cheryl.
'"Ada apa tan?" Fany berusaha mencari tahu kegundahan hati yang dirasakan mama Cheryl.
Fany menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Mama untuk duduk. Lalu ia pun menarik kursi di depannya kemudian duduk di depan mama.
Fany meraih tangan mama Cheryl."Katakan pada Fany Tante, apa yang membuat Tante gelisah.Ada apa dengan Cheryl? Ia masih mengunci pintu kamar dan gak mau keluar?" tanya Fany penasaran.
Mama menggelengkan kepala pelan. "Bukan itu "
Kemudian mengalir lah semua kekhawatiran dan ketakutan yang dirasakan oleh kedua orang tua Cheryl akan keputusan yang diambil oleh anaknya tersebut. Untuk tetap mempertahankan satu-satunya kenangan yang ditinggal kan Bagas sekaligus bukti nyata buah cinta mereka.
Fany sangat memahami segala kerisauan yang saat ini dirasakan kedua orang tua Cheryl. Mengingat status Cheryl yang masih single bukanlah suatu hal mudah untuk membesarkan dan mendidik seorang anak seorang diri. Belum lagi pandangan warga sekitar dan keluarga besar lainnya.
Walau Fany yakin sebenarnya kedua orang tuanya tidak mempermasalahkan hal itu asalkan Cheryl serius bertanggung jawab penuh atas keputusan yang telah diambilnya. Tetapi mereka hidup di tempat yang masih berpandangan segala sesuatu itu masih harus berjalan sesuai norma pada umumnya. Bukan sesuatu di luar kebiasaan dan tatanan aturan yang berlaku.
Fany menggenggam tangan mama erat berusaha menyalurkan energi kekuatan pada orang tua Cheryl.
Musibah yang dialami anaknya juga berdampak langsung pada mereka.Bukan hanya Cheryl yang terpukul tetapi kedua orang tua Cheryl pun juga terpukul karenanya.
"Nyonya ..., ada tamu menunggu di depan." lapor bi Yanti.
"Siapa bi?"
"Itu nyonya temannya non Cheryl dan mamanya." jelas bi Yanti.
"Selamat malam Tante!"
"Heii Darrel! Mana mama kamu? Ayo masuk saja.Bi tolong mamanya Darrel suruh langsung ke dalam. Mereka ini bukan tamu. tapi sudah bagian dari keluarga. Begitu juga Fany." Mama metangkul kedua sahabat dekat anaknya itu.
__ADS_1
Bi Yanti pun tersenyum dan mengangguk paham.Lalu berjalan ke ruang tamu.
"Tante pikir kamu sudah balik ke Singapura."
"Ehmm tidak Tante, Darrel sudah sampaikan ke papa kalau Darrel gak balik lagi kesana." jelas Darrel.
"Terus bagaimana dengan perusahaan yang kamu pegang disana?"
"Kata papa, Darrel boleh tetap disini. Tapi perusahaan disini Darrel yang pimpin.Jadi papa sekarang yang pegang kantor cabang disana."
"Oh begitu. Ya ... ya Tante paham. Sukses buat kamu selalu ya."mama Cheryl tersenyum senang dan menepuk-nepuk pundak Darrel bangga.
"Terima kasih Tante" Darrel tersenyum hormat pada orang tua Cheryl.
"Hai Fan! Pa kabar, sudah ketemu Cheryl? " sapa Darrel.
"Belum. Nih mau ke atas." sahut Fany sambil menunjukan tas bawaannya untuk sahabatnya itu.
"Wah kebetulan nih! Yuk kita temui Cheryl." ajak Darrel.
Lalu merekapun ijin untuk menemui Cheryl.Mama pun senang melihat persahabatan mereka.
"Tidak terasa mereka sudah besar-besar ya? Padahal dulu mereka masih teman berantem waktu di TK gak nyangka sekarang justru jadi sahabat sejati." tiba-tiba mama Darrel sudah berada di belakang mama Cheryl.
"Iyaa ..., seperti kita. Gak nyangka persahabatan kita bisa seawet ini ya." sambil tersenyum ke arah mama Darrel .
"Best Friend forever" sahut mereka kompak.sambil saling berpelukan.Tak terasa air mata yang mengandung banyak makna antara bahagia dan gejolak emosi yang ada.Menetes membasahi pipi
..............🌹🌹🌹🌹🌹..........
__ADS_1