
Fany tersenyum penuh harapan mengetahui tamu istimewa yang mereka tunggu akhirnya datang.
"Siapa Fan?" tanya mama Cheryl penasaran.
"Selamat pagi. Bagaimana Cheryl? Sudah mau makan?" Darrel tiba-tiba bertanya dengan sorot mata khawatir.
"Darrel!"
Darrel pun mencium tangan Tante Leo. "Pagi Tan. Om Leo mana?" Darrel menyebar pandangannya ke seluruh ruangan.
"Om Leo semalam di telepon anak buahnya ada kerjaan yang harus segera ditangani." jelas mama Cheryl.
"Rel, tolong Cheryl nak. Sejak kemarin ia belum makan." keluh mama Cheryl.
Terlihat sorot mata iba dan marah di mata Darrel.Bagaimana tidak emosi , Cheryl kembali lupa akan kondisi dirinya, yang saat ini sedang mengandung.
"Darrel coba bujuk Cheryl dulu ya Tan." sambil melihat ke arah kamar Cheryl.
Tante Leo hanya mengangguk berharap cemas.
__ADS_1
Setelah menepuk kedua pundak Tante Leo. Darrel langsung menuju kamar Cheryl.
Fany merangkul Tante Leo. Mencoba memberi semangat dan harapan."Tenang Tante, Fany yakin Darrel mampu menaklukkan kekeras kepalaannya Cheryl."
.....................
Tanpa permisi Darrel langsung membuka kamar Cheryl.
"Sudah kuduga." saat melihat Cheryl kembali berantakan dan menangis di sudut kamar dengan tatapan mata kosong.
"Mau sampai kapan kamu menyiksa tubuhmu dan calon bayi kamu, hah!" tegur Darrel emosi.
Cheryl terkejut saat mengetahui Darrel sudah berada di kamarnya.Ia pun bergegas menghapus airmatanya.
"Kamu sendiri yang bilang Bagas ingin kamu menjaga dan mencintai titipannya seperti kamu menyanyangi dirinya. Dan itu juga kan yang kamu sampaikan pada kita semua, alasan kamu ingin mempertahankan calon bayi yang ada di rahim kamu saat ini. Buah cinta kalian berdua. Satu-satunya peninggalan dari Bagas sebagai pengganti dirinya. Dan kami semua menghargai keputusan kamu itu. Tapi lihat! Betapa tidak bertanggung jawabnya kamu sebagai calon ibu, membiarkan calon bayi kamu kelaparan. Hanya karena ego kamu.Kesedihan kamu yang membabi buta." oceh Darrel kecewa dengan sikap Cheryl.
"Sekarang aku mau tanya. Kamu masih berniat mempertahankan calon bayi kamu atau tidak? Kamu berniat untuk menerima amanat dari Bagas untuk membesarkan, menjaga dan mendidik anak kamu itu dengan kasih sayang yang sama dengan kasih sayang yang kamu berikan untuk Bagas tidak?" cerca Darrel dengan berbagai pertanyaan pada Cheryl.
"Ryl. Sedih boleh, merasa kehilangan pasti. Tapi jangan jadikan kesedihan kamu itu menghancurkan diri kamu dan calon anak kamu." kembali Darrel berusaha membuka pikiran Cheryl
__ADS_1
"Bagas pasti kecewa melihat kamu seperti ini. Kamu tidak ingin mengecewakannya bukan? So bangkit, buktikan pada Bagas bahwa kamu wanita hebat, kuat dan tegar. Buat Bagas bangga pernah menjadi bagian dari hidup wanita kuat seperti kamu." Darrel memegang kedua pundak Cheryl.
'Semua ini gara-gara aku. Andai mimpi itu ---" belum selesai Cheryl melanjutkan kalimatnya. Darrel menaruh jari telunjuknya pada bibir Cheryl
"Jangan pernah menyalahkan dirimu Ryl, semua ini sudah digariskan.Perihal mimpi itu hanyalah kebetulan semata. Atau hanya sebuah tanda agar kita waspada dan bersiap akan suatu kehilangan. Tetapi jangan jadikan mimpi itu sebagai kutukan. Tanpa kamu bermimpi pun bila garis hidup Bagas hanya sampai disini tidak ada yang bisa merubahnya." Cheryl pun menangis dalam pelukan Darrel
"Singkirkan segala pemikiran yang membuatmu lemah. Jadilah wanita kuat demi anak kamu. Kelak anak kamu pasti bangga mengetahui ibunya seorang wanita tangguh dan kuat " Darrel membelai rambut Cheryl dengan penuh kelembutan.Ia ingin Cheryl merasa nyaman dan kembali kuat menjalani hidup selanjutnya.
"Aku yakin kamu bisa.Aku kenal kamu sejak kita masih bocil. Dan bagiku kamu adalah salah satu wanita hebat yang aku kenal. Jangan hancurkan pribadi kuat kamu, hanya karena rasa kehilangan. Justru jadikan rasa kehilangan mu itu sebagai cambuk untukmu menjadi wanita tangguh dan hebat." Darrel mengecup kening Cheryl.
Perlahan Isak tangis Cheryl mulai mereda. Ia menghapus airmatanya.Darrel pun tersenyum bahagia.Cheryl masih seperti dulu. Sahabat kecilnya yang masih menghargai dan mau mendengarkan pendapatnya.
"Sudah lebih baik? Tuh lihat di kaca betapa jeleknya dirimu, bila terus menerus mengabaikan dirimu sendiri.Kamu gak kasihan dengan diri kamu sendiri? Ingat Cheryl cintailah diri kamu dahulu, baru orang lain."
Darrel meraih tangan Cheryl, lalu meletakkan tangan Cheryl ke perutnya. "Bagaimana? Kamu bisa merasakan kehadirannya? Dengarkan menggunakan batin kamu. Ia ingin ibunya kuat. Dan saat ini ia sedang menangis sedih karena lapar." ucap Darrel.
Cheryl kembali menitikkan air mata nya. Lalu cepat-cepat ia hapus.
"Aku mau makan Rel." ucap lirih Cheryl sambil menghapus airmatanya.Dan mengusap perutnya.
__ADS_1
Darrel tersenyum lebar. Ia menarik napas lega.
......................