
"Jadi kamu ini saudara kembarnya Bagas?" tanya William.
"Iya. paman" jawab singkat Arka.
"Arka ini pelukis lho paman, kemarin ia juga jadi panitia pameran lukisan terbesar di London." ucap bangga Fany.
"Oh ya? Kamu pelukis? Wah hebat masih punya waktu untuk melukis, disela-sela mimpin perusahaan." decak kagum William
"Oh enggak paman. Pekerjaan saya hanya melukis saja. Bukan memimpin sebuah perusahaan." sanggah Arka.
"Lho bukannya Bagas dulu pegang perusahaan periklanan?" tanya William lebih lanjut sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Iya betul . Tapi itu kan Bagas.Kalau saya sih jujur...., ,gak ada bakat mengurus bisnis beginian paman." sahut Arka.
Dari pengalaman dan cerita Bagas, William mulai paham dan mengerti sekarang. Bahwa Tidak selamanya anak kembar itu memiliki minat dan bakat yang sama.
"Nah kita sudah sampai" info William saat memasuki halaman parkir Rumah Sakit.
Dengan semangat empat lima. Arka langsung turun dari mobil. "Keponakan aku sudah boleh dijenguk kan?"
"Boleh, tapi masih di balik kaca. Kalau mau ketemu langsung tunggu jam ia menyusu ke ibunya. Tapi ya..., kakak gak boleh lihat dia nyusu." celoteh Fany dengan cueknya. Membuat wajah Arka memerah karena malu mendengarnya.
'Yuk...sudah tidak sabar kan mau nengok Satria?" ajak William lalu ia melangkah mendahului Arka dan Fany.
"Satria?" Arka mengerutkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Iya baby nya namanya Satria. Nama lengkapnya Satria Bagas Putra." jelas Fany.
Arka masih terlihat berpikir."Siapa yang memberi nama,?"
"Ya mamanya lah.Siapa lagi?"jawab santai Fany.
"Nahh tuh yang paling kiri baby Satria." Fany mengenalkan Satria pada Arka.
"Fan... Arka..., paman balik dulu ya , karena ada yang mau paman urus" pamit William.
"Baik paman. Hati-hati ya"
"Yuk Ka, balik dulu." pamit William.
"Aku pengen gendong baby nya, boleh gak ya? Harus ijin suster nya dulu ya?" tanya Arka. Sambil melihat keponakannya dari balik kaca.
"Ntar deh ijin papa mamanya dulu.Ups" Fany menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
'Ijin mamanya kalee, kalau ijin papanya ntar aku kirim lewat doa." ucap Arka yang belum mengerti maksud Fany.
"Huff." Fany menarik napas lega. Arka belum paham dengan pernyataan Fany tadi.
"Haii Arka!" sapa mama Cheryl.
Arka menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Sudah datang? Ntar kamu tinggal di rumah keluarga Darrel saja ya. Masih ada kamar kosong lagi kok. Tidak perlu bayar sewa hotel." sahut mama Cheryl tersenyum penuh arti.
"Hmm, tidak apa-apa kah dengan keluarga Tante Melati.?" Arka merasa tidak enak kedatangannya sudah sangat merepotkan keluarga besar Darrel.
"Tidak apa-apa Arka. Kita ini kan keluarga." ucap mama Darrel sambil tersenyum penuh arti.
Arka pun tersenyum bahagia.
Setelah puas melihat baby Satria.Mama Cheryl mengantar Arka bertemu Cheryl.
"Yuk....,Tante antar kamu ketemu mamanya baby Satria." ajak mama Cheryl.
"Siap Tan." jawab Arka semangat.Mereka berempat Arka, Fany ,mama Cheryl dan mama Darrel berjalan menuju ruang rawat Cheryl
"Rencana balik Indo kapan Tan? Biar Arka nanti sampaikan ke mama papa. Agar persiapan penyambutan Satria segera dimatangkan." Arka tidak sabar mengenalkan baby Satria disaat pesta penyambutan si kecil pada keluarga besarnya.
"Secepatnya. Masih menunggu ijin dokter." jawab mama Cheryl tersenyum.
"Berkas-berkas nya masih diurus oleh Darrel. " sahut Fany
"Nah tuh masih belum beres. Ntar kalau semua sudah clear Tante info kamu ya." Mama Cheryl tersenyum penuh arti.
'Hmm, Darrel lagi Darrel lagi." gumam Arka lirih. Ada sedikit rasa cemburu mendengar nama Darrel selalu disebut.Darrel pun terus menjadi tokoh utama dalam setiap perbincangan.
....................🌺🌺🌺................
__ADS_1