Sahabatku Suami Pengganti

Sahabatku Suami Pengganti
Curahan Hati Sang Ibu


__ADS_3

Cittttt


Fany menginjak rem mobilnya mendadak. Karena terkejut tiba-tiba saja ada seekor kunci berlari di tengah jalan.


Mobil pum berhenti. Dengan perasaan yang masih tidak karuan karena kaget tadi.


"Nih minum! " Cheryl menyodorkan botol minum yang berisikan air mineral pada Fany. Agar kembali tenang perasaannya.


Setelah selesai minum beberapa teguk air. Fany menarik napas lega.


Alunan lagu yang sedang viral terdengar lirih dan perlahan semakin terdengar jelas.


"Hape kamu bunyi tuh!"


Cheryl merogoh tas nya lalu mengambil ponselnya. "Haii. Kami masih dalam perjalanan.Hampir saja tadi kami mengalami kecelakaan." sapa Cheryl dengan seseorang yang sedang meneleponnya.


"Apaa? Kecelakaan? Dimana?" Darrel panik saat Cheryl memberitahu nya kalau dirinya hampir saja mengalami kecelakaan.


"Cuman hampir kok! Kami baik-baik saja. Ini sebentar lagi juga sudah sampai."


"Aku susul kesana. Awas ya jangan kemana mana. Kalaupun sudah selesai diperiksa dokter tunggu aku.Kamu pulang bersamaku.Aku meluncur kesana sekarang.," lalu hubungan telepon pun terputus.


"Rel!Rel!" cegah Cheryl.


Fany menatap Cheryl penasaran.


"Kenapa? Ada apa sih? Kok sepertinya heboh banget." tanya Fany.


"Darrel mau menyusul kita ke klinik." jawab datar Cheryl.


"Kamu sih bilang kita hampir kecelakaan. Jadi kemana-mana tuh pikirannya. Pasti khawatir banget dia.Dari dulu kan Darrel gitu paling anti mendengar kamu sedih, sakit, atau menderita. Kalau bisa ia yang menggantikan dan merasakan semua itu. Demi kebahagiaan kamu." ucap Fany . Lalu ia pun terdiam. Teringat beberapa Kalimat yang ditulis Bagas dalam suratnya. "Darrel sangat mencintai mu Ryl." gumam Fany.


"Ih apaan sih kamu.Kami kan memang sudah bersahabat sejak kecil. Bahkan mama Darrel dan mama aku dah bersahabat terlebih dahulu sebelum aku dan Darrel lahir. Ya wajarlah kalau kami dekat." bantah Cheryl


Fany menatap Cheryl. Lalu bersiap menjalankan mobilnya kembali.


"Lihat dan rasakan pake hati. Dengarkan hati kecil kamu.Bagas saja bisa merasakan dan mengetahuinya. Masak iya kamu tidak." Fany mulai menjalankan mobilnya kembali menuju ke klinik.


"Jangan biarkan hati kamu terus menyangkalnya."


Cheryl hanya diam. Ia tahu Darrel memang selalu baik dan selalu ada untuknya. Tapi Cheryl tidak yakin dengan perasaan Darrel sesungguhnya. Karena sejak dahulu pun, bila ia sedang jatuh cinta dengan siapa ya Darrel lah tempat ia bercerita dengan nyaman tentang perasaannya itu.


"Kita dah sampai. Yuk turun!" ajak Fany setelah memarkirkan mobilnya.


......................


Beberapa saat setelah bertemu dokter kandungan.


"Kamu dengar tadi Fan. Anak aku laki-laki. Dia pasti keren." Cheryl mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.


Fany ikut senang melihat Sahabatnya berbahagia. "Sehat terus ya dek. Ntar kalau dah lahir maen ma Tante ya! Eh kakak! " ucap Fany sambil mengusap perut Cheryl yang disambut gelak tawa mereka berdua.


"Iya donk panggilnya kakak bukan Tante. Kalau Tante itu pasangannya om. Nah kan si om nya belum ketemu. Jadi kakak panggilnya." Canda Fany. Membuat mereka berdua terkekeh.


"Heii bagaimana keadaan kalian! Ryl, kamu baik-baik saja kan?'" Darrel meneliti sahabatnya itu dari atas sampai bawah.


"Bayi kamu? Bagaimana dengannya baik-baik saja kan? Sehat kan?" ucap panik Darrel


"Tenang Rel, kami semua baik-baik saja." sahut Fany berusaha menenangkan Darrel.

__ADS_1


"Kata Cheryl tadi kalian hampir mengalami kecelakaan?" tatap Darrel tajam ke arahnya.


"Wow ... wow... sabar bos.Pikirannya jangan yang terlalu kemana-mana." Fany berusaha menenangkan Darrel.


"Rel, maaf ...,"


Darrel pun menoleh ke Cheryl. Ia megeryitkan keningnya.


"Aku gak bermaksud membuatmu panik. Kami gak apa-apa kok."


"Iya aku tahu Tapi kamu bilang hampir kan? Nah kalau beneran terjadi terus bagaimana?" sahut Darrel.


"Kandungan kamu? "


"Yaaa paling kalau beneran terjadi yang jadi korban si pus nya. Kasihan kan? " jawab Cheryl polos.


Derrel makin bingung dengan penjelasan Cheryl. Lalu menatap Fanny meminta penjelasan yang sebenarnya.


"Ehemm, gini lho Rel---" Fany mejelaskan pada Darrel apa yang dimaksud hampir mengalami kecelakaan oleh Cheryl.


Setelah Fany mejelaskan apa sebenarnya yang terjadi tadi.Darrel menutup kedua mukanya dengan kedua tangannya.


Lalu ia menatap gemas pada Cheryl."Cheryllll!!" Cheryl pun berlari menuju taman dan Darrel pun mengejarnya.


"Kamu ya selalu saja senang membuat orang khawatir! Sini kamu!" kejar Darrel.


"Ampun Rell.Ampun aku gak bermaksud begitu.Kamu tuh yang suka mendramatisir keadaan." seru Cheryl dari kejauhan.


"Aku?Aku kamu bilang? Sini kamu!" teriak Darrel mengejar Cheryl.


Fany hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabat itu yang dari dahulu bagaikan Tom and Jerry. Tapi mereka sesungguhnya saling membutuhkan.


.........................


Setelah meneguk teh buatan mama. Raut wajah papa pun terlihat serius.


"Ma, bagaimana perkembangan kandungan anak kita?"


"Alhamdulillah semua normal dan sehat pa. Baru saja Cheryl telepon katanya bayi Cheryl berjenis kelamin laki-laki." Dengan perasaan senang mama menceritakan keadaan calon cucu mereka.


"Terus apakah Cheryl tidak ingin anaknya nanti memiliki ayah nyata.Di dunia nyata ini untuk menemani tumbuh kembang dan Psikologi anak itu nantinya." ungkapan hati papa Cheryl.


"Mama pengennya sih memenuhi keinginan Bagas. Untuk menjadikan Darrel sebagai suami dan ayah pengganti cucu kita nantinya." ucap lirih Mama Cheryl


"Maksud papa juga begitu. Karena mereka juga sudah dewasa, mau papa sih mereka sendiri yang memutuskan bukan kita. Jadi kita tinggal merestuinya saja. Tapi sampai saat ini papa tunggu tidak ada pergerakan sedikitpun dari Darrel maupun Cheryl." ungkap kecewa papa Cheryl .


"Selamat malam."


Papa dan mama Cheryl pun menoleh ke arah suara di belakang mereka.


"Haii Mel! Dengan siapa,? Darrel?"


"Darrel kan di kantor. Ini baru jemput mas Andri di Bandara."


"Waahh kita kedatangan tamu agung nih! Ayoo masuk-masuk!" ajak Papa Cheryl.


"Kata Darrel, sekarang yang pegang kantor pusat Darrel ya. Kamu pegang cabang di Singapura. Hebat lho anak kamu.Selamat.!" ucap bangga papa Cheryl, sambil menepuk bahu Pak Andri papa Darrel.


Pak Andri hanya tertawa."Kita ini kan sudah usia pensiun Leo. Aku kira sudah waktunya Darrel yang menggantikan posisi kita. Giliran kita sekarang yang mulai menikmati hasil kerja kita dulu. Biar anak-anak yang meneruskan." jawab papa Darrel santai.

__ADS_1


Disaat para ayah sibuk berbincang-bincang tentang bisnis mereka. Para ibu mulai curhat tentang apa yang membuat mereka sedih.


Tanpa ia sadari Mama Cheryl menangis mencurahkan perasaan sedihnya melihat anak perempuan satu-satunya harus menghadapi kerasnya kehidupan ini seorang diri.Ditanbah lagi sebentar lagi cucunya akan lahir. "Aku tidak bisa membayangkan Mel, Cheryl melahirkan tanpa ada suami yang mendampinginya." Mama Cheryl berusaha menghapus airmatanya yang kembali turun di pipinya.


Melati menggenggam tangan Eva . Ia mencoba untuk menguatkan sahabatnya itu.


"Ev..., sebenarnya ada rahasia terpendam yang sudah lama kami sembunyikan. Demi kebahagiaan Cheryl." Tiba-tiba wajah Melati berubah sedih.


"Rahasia apa?"Mama Cheryl kembali menghapus airmatanya.


"Ceritakan padaku.Apa yang membuatmu sedih."


"Sebenarnya alasan sesungguhnya Darrel meniti karir di Luar itu, karena ia patah hati Dan demi orang yang disayanginya itu. Ia rela mundur dan mengikhlaskan perasaannya agar gadis yang dicintainya itu bahagia bersama pilihannya."


Mana Cheryl serius mendengarkan rahasia yang sahabatnya pendam selama ini.


"Darrel jatuh cinta? Aku kira Darrel selama ini hanya fokus dengan pendidikan dan karirnya saja." celetuk Eva mama Cheryl.


Melati tersenyum getir.


"Siapa wanita yang beruntung itu. Kenapa ia tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusan Darrel?"


Melati menarik napas dan menatap lekat sahabatnya itu.


"Mungkin karena persahabatan diantara mereka. Jadi kedekatan mereka sudah terasa biasa oleh sang gadis. Sehingga ia lebih menjatuhkan hatinya untuk orang lain."


"Persahabatan? Mereka bersahabat?" selidik Eva lebih lanjut.


Kembali tulisan tangan Bagas yang sempat ia baca terlintas dalam pikirannya. "Jadi... itu benar?" mata Eva kembali berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Jadi selama ini Darrel memendam rasa pada Cheryl." celetuk Eva.


Melati pun mengangguk sedih.


"Apakah Darrel pernah mengutarakan perasaannya itu pada anakku?" tanya Eva ingin tahu kejelasannya.


Melati menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kenapa,?"


"Karena cinta Cheryl pada Bagas terlampau besar. Hingga Darrel merasa Bagas lah hidup dan kebahagiaan Cheryl."


"Hmm, jadi anakku sama sekali tidak mengetahui perasaan Darrel sesungguhnya." gumam Eva lirih.


Melati mengangguk.


"Menurut kamu kalau kita buat mereka bersatu bagaimana? Kamu setuju gak?" tanya Melati serius.


"Bukankah itu juga yang diinginkan oleh Bagas." gumam Eva lirih.


Melati terlihat bingung."Maksud kamu? Bagas menginginkan Darrel dan Cheryl bersatu? Kenapa?"


Eva pun akhirnya menceritakan tentang surat wasiat Bagas untuk Darrel dan Cheryl. Disana Bagas pun menuliskan bahwa ia juga sudah mengetahui tetang perasaan Darrel sejak awal. Karena itu ia sangat menghargai pengorbanan Darrel untuk dirinya. Dan sekarang karena takdir tidak berpihak padanya.Bagas ingin Darrel lah sebagai pengganti dirinya. Karena Bagas yakin Darrel mampu membahagiakan Cheryl.


"Oh ya? Darrel tahu tentang surat itu?" tanya Melati dengan penuh harapan.


Eva pun mengangguk yakin.


"Baiklah aku akan tanyakan pada Darrel. Apa yang akan ia lakukan perihal surat dari Bagas itu." sahut Melati merasa mendapat angin segar.

__ADS_1


..........................


__ADS_2