
Darrel tampak tertegun di Balkon rumahnya. Ia memandang bintang-bintang yang berkedip di langit yang begitu luas.Ditemani sinar bulan yang menemani sang bintang menyinari bumi.
"Bagas... aku tahu kamu disana. Aku yakin kamu akan bahagia mendengarnya. Sebentar lagi kamu akan mempunyai seorang anak laki-laki. Penerus nama besar kamu.Maafkan aku, sampai saat ini aku belum bisa memenuhi keinginanmu." Darrel tertunduk lesu.
Darrel menarik napas." Bukannya aku tidak mencintainya. Aku justru ingin sekali melihatnya selalu tersenyum. Tapi bila bahagianya bukan dengan ku, mana mungkin aku memaksanya untuk hidup bersamaku.Walau aku ingin sekali bisa selalu dekat dan membahagiakan dirinya serta anaknya." tak terasa airmata Darrel menetes.
Pedih dan begitu menyesakkan yang ia rasakan ketika menyadari dirinya bagaikan pungguk merindukan bulan.
Sebuah tangan halus menyentuh pundak Darrel. Merasa ada yang menyentuh dirinya.Darrel pun hendak membalikkan badannya.
Mama langsung memeluk Darrel dan menciumnya."Semoga pengorbanan mu selama ini berujung kebahagiaan." bisik mama Darrel.
Darrel menangis di pelukan mamanya.Hanya dengan mamanya lah Darrel bisa terbuka tentang perasaannya.Mama adalah tempat ia mengadu dan meminta nasehat.
Bila akhirnya semua kekaguman dan ucapan selamat dan sukses yang ditujukan padanya, karena telah menjadi seorang pengusaha muda yang disegani. seharusnya mamanya lah yang pantas diberi kehormatan dan ucapan itu.
Karena dibalik kesuksesan Darrel, doa mama dan petuah nya lah yang selama ini membuat dirinya tegar dan setangguh saat ini.Di samping juga ilmu bisnis yang ia dapatkan dari papa tercinta.
__ADS_1
Mereka semua adalah orang-orang tangguh dan penting dibalik kesuksesan seorang Darrel.
"Hapus air matamu nak. Cukup sudah kamu menangisi perasaan mu yang terpendam selama ini.Sekarang saatnya kamu untuk meraih kebahagiaan yang tertunda." mama memberi semangat Darrel.
"Kebahagian yang tertunda? Maksud mama?" Darrel berusaha memahami apa yang diucapkan mamanya.
Mamanya mengangguk yakin."Iya kebahagiaan yang tertunda." senyum manis mama terlukis di bibirnya.Sambil memegang kedua pundak anaknya itu.
Darrel menatap lekat matanya. Mencoba untuk mencari jawaban atas ketidakpahamannya.
"Rel..., kata Tante Eva kamu mendapat sebuah surat dari Bagas. Betulkah?"
"Rell..., benarkah kamu telah menerima surat dari Bagas? Surat yang dibuatnya beberapa hari sebelum tragedi tragis itu."desak mama Darrel.
Darrel berjalan di dekat tembok balkon. Ia kembali menghirup udara segar malam ini.
"Rell jawab mama nak!' rayu mama Darrel .
__ADS_1
"Iya ma Darrel sudah membacanya.Begjtu juga Cheryl." kemudian ia tertunduk sedih.
"Benarkah di surat itu tertulis, Bagas menginginkan Cheryl bersama kamu?.Karena sejak awal ia sebenarnya tahu tentang pengorbanan mu itu." desak mama ingin memastikan.
"Ya, Bagas memang menulis keinginannya itu di dalam secarik kertas."
"Nah ...., apalagi sekarang yang kamu tunggu?? Bagas pun telah memberikan restunya untuk kamu dan Cheryl." Mama berusaha untuk meyakinkan anaknya itu
"Hmm, Darrel hanya berharap yang terbaik untuk Cheryl ma, demi kebahagian yang dia inginkan sekaligus kebahagiaan anaknya kelak." ucap Darrel lirih
" Rel..., kapan kau akan mewujudkan kebahagiaan kamu itu?.Kenapa kamu tidak berjuang untuk mendapatkannya? Bukankah Bagas pun sudah memberikan lampu hijau untuk hubungan kalian?"tanya mama prihatin.
Darrel hanya menunduk lesu. "Aku akan tetap diam dan menikmati kebersamaan ini.Sampai Cheryl sendiri yang mengatakan ingin hidup bersama ku dan merasa nyaman bila bersama diriku. Bila Cheryl masih diam dan masih belum bisa move on lebih baik semua tetap seperti ini dulu.." ungkap hati Darrel
"Kenapa begitu?" tanya mama.
"Karena cinta tidak bisa dipaksa ." ucap Darrel lirih.
__ADS_1
......................