
Tok tok tok
Pintu kamar Cheryl diketuk beberapakali.
"Cheryl!!"
Mendengar pintu kamarnya diketuk dan namanya dipanggil. Cheryl yang sedang melamun menatap serunya anak-anak kecil di komplek perumahannya bermain berlari saling kejar-kejaran dan ada pula yang hanya berkumpul untuk mendengarkan salah satu teman mereka bercerita.Akhirnya menoleh dan terdiam sesaat. "Fany?"
"Siapa lagi?" sahut suara di balik pintu.
Cleo pun berjalan ke pintu kamarnya dan membukanya.
"Surprise!!" sahut Fany dan Darrel bersamaan.
Cheryl terkejut dengan kedatangan kedua sahabatnya sekaligus.Terutama Darrel.
"Yukk masuk!"
"Kamu belum balik Rel?" tanya Cheryl lebih lanjut.
"Hmm, balik badan maksud kamu?" goda Darrel yang disambut tawa kecil Fany.
__ADS_1
"Ih kamu!! Selalu saja gak pernah serius kalau ditanya." Cheryl sedikit ngambek dengan sikap Darrel.
Cheryl kembali naik ke atas tempat tidurnya.Diikuti oleh Fany.
Darrel melihat segebok obat-obatan dari dokter waktu itu . Beberapa Vitamin dan penguat kandungan tergeletak begitu saja di meja.
"Ryl, kamu sudah sarapan?" Darrel mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.
Cheryl mengangguk."Kenapa? Mau ditraktir? Telat " goda Cheryl.
"Ntar makan siang aku yang traktir. Bagaimana kalian mau?"
"Serius Rel?" Fany menatap Darrel lekat mencari keseriusan dari wajah Darrel.
"Hah? Gajian sejak kapan Darrel gajian Ryl. Dia mah tinggal comot aja. Uang-uang dia sendiri." goda Fany yang kemudian disambut gelak tawa oleh Cheryl membenarkan pernyataan Fany.
"Dasar kalian ini. Tapi sebelumnya, Kamu harus minum ini dulu.Buat kesehatan calon baby kamu." Darrel menyodorkan berbagai vitamin yang tadi tergeletak di meja begitu saja dan sangat bisa dipastikan belum tersentuh sedikit pun oleh Cheryl.
Cheryl terkejut dan memandang Darrel sesaat."Aku dengar, kamu ingin mempertahankan kandungan kamu kan ? " Darrel kembali mengingatkan Cheryl akan niatnya itu.
Cheryl menunduk dan mengusap perutnya perlahan dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Kamu sudah yakin Ryl dengan keputusan kamu itu?" tanya Fany lebih lanjut.
Cheryl menatap wajah kedua sahabatnya itu bergantian. Lalu ia pun mengangguk yakin.
"Kamu yakin Ryl, dengan segala resiko yang ada? Single parents?'' Fany ingin meyakinkan lebih lanjut niat sahabatnya itu.
"Fan... bayi ini adalah kenangan terakhir yang aku punya dari Bagas. Bukti nyata buah cinta kami berdua. Mana mungkin aku akan menghilangkannya. Aku gak akan sanggup melakukan itu. Apapun resikonya akan aku ambil demi anak ini. Apalagi beberapakali Bagas mendatangiku dalam mimpi selalu mengatakan agar aku merawat dan membesarkan anak ini dengan kasih dan cinta yang sama yang aku berikan padanya. Jadi mana mungkin aku tidak mempertahankannya?" jelas Cheryl dengan tatapan mata gamang.
Darrel terlihat menarik napas dalam. Lalu dengan begitu sabar ia membuka bungkus-bungkus vitamin yang harus Cheryl minum.
"Nih minum dulu vitaminnya" Kembali Darrel menyodorkan beberapa vitamin yang harus Cheryl minum.
Cheryl pun akhirnya menuruti perintah Darrel.Demi tumbuh kembang anaknya nanti.
......................................
"Tidak pa! Tidak mungkin kami melakukan itu. Cheryl sudah sangat yakin dengan keputusannya. Saya dan istri sudah menyetujuinya." Saat semuanya terbuka dan keluarga besar mulai berkomentar tentang kehamilan anaknya.
Kakek Cheryl tidak setuju dengan keputusan yang diambil Cheryl.Kakek menyarankan untuk diaborsi saja. Karena bagaimana mungkin seorang yang belum menikah atau belum bersuami melahirkan dan membesarkan anak seorang diri. Pastilah hal itu akan menjadi pembicaraan negatip di khalayak umum. Terutama di kalangan keluarga besarnya.
"Pa ..., percayalah Cheryl tidak akan pernah merubah keputusannya. Saya dan istri sudah sepakat apapun yang bisa membuat anak kami bahagia.Kami akan selalu mendukungnya. Jadi maaf pa jika saya mengecewakan harapan papa dan mama serta keluarga besar." ucap Pak Leo papa Cheryl.
__ADS_1
Mendengar penjelasan anaknya, Akhirnya Kedua orang tua pak Leo yaitu kakek dan nenek Cheryl mengalah. Dan ikut mendukung apapun keputusan cucunya itu, dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Bagaimana pun juga Cheryl sudah cukup dewasa dan berhak untuk menentukan pilihan hidupnya.
........................................