
Sejak siang Derrel terlihat sibuk membereskan beberapa pekerjaannya.Dari satu kantor ke kantor cabang berikutnya ia memberikan beberapa arahan kepada anak buahnya agar nanti selama ia pulang ke Indo anak buahnya bisa mengatasi permasalahan kantor tanpa kehadiran dirinya secara langsung.
Setelah menyelesaikan semua urusan pekerjaan Derrel pun kembali ke apartemen nya untuk mempersiapkan segala keperluannya untuk kembali ke Indo dengan penerbangan pertama bersamanya mamanya.
...................................
Di pagi hari yang sendu, sinar matahari yang masih redup. sepoi angin yang membekukan dinding jiwa. Kini telah mengikat begitu erat. Daun yang terjatuh mengingatkannya pada suatu kisah dahulu yang penuh kasih tanpa pilu. Dahulu yang penuh canda tanpa seka air mata.
Cherryl terdiam dalam keheningan. Pandangannya kosong menatap dinding kebahagiaan yang tertutup dengan duka kelam. Hitam dan pekat sehingga kebahagiaannya kini telah hilang tenggelam bersama mimpi.
Pelukan itu...., senyuman itu...., masih ia rasakan begitu nyata.Kehadiran Bagas di Rumah Sakit waktu itu ternyata sebuah pamit akan kepergian dirinya untuk selamanya dari dunia fana ini.
Kembali Cheryl menangis tanpa suara.Terlalu pedih dan menyesakkan. Sungguh terlalu cepat kepergian Bagas ia rasakan. Dikala mereka telah berada di ujung kebahagiaan yang sudah berada di depan mata.
__ADS_1
Tinggal beberapa minggu lagi. Bahkan persiapan pun sudah berjalan sembilan puluh lima persen tinggal menunggu hari yang telah mereka sepakati untuk mengikrarkan janji suci mereka di hadapan Tuhan untuk sehidup semati mengarungi kehidupan berdua selamanya dalam suka dan duka hingga maut memisahkan.
Tetapi naas sebelum impian indah mereka terwujud. Sebelum janji suci itu terucapkan maut terlebih dahulu merenggut Bagas dan memisahkannya dengan Kekasihnya.
Cheryl benar-benar terpuruk. Tidak pernah terbesit sedikitpun ia akan berpisah dengan Bagas dengan cara memilukan seperti ini.
Bahkan sahabatnya Fany pun tidak menyangka semua kebahagiaan yang tergambar saat mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka.Kini berganti begitu cepat dengan kesedihan yang sangat.
Fany sangat memahami kondisi psikis sahabatnya itu. Yang terkadang Cheryl masih sering terlihat bingung akan batas kenyataan dan halusinasi.
Hari ini hari pemakaman Bagas. Fany bertekad harus bisa membujuk Cheryl untuk ikut menghadiri dan melepas kepergian Bagas terakhir kalinya.
Jangan sampai kelak akan menjadi penyesalan karena tidak ikut hadir mengantar kepergian kekasihnya ke kehidupan berikutnya.
__ADS_1
Fany menatap sendu sahabatnya itu.Ia menghampirinya dan membelai rambut Cheryl yang terlihat lusuh.Tisu bekas menyeka air mata pun berserakan dimana-mana.Keadaan sahabatnya itu kini sangat memprihatinkan.
"Cheryl...kamu nanti ikut kan pemakaman Bagas? Kamu harus hadir Cheryl untuk mengantarkannya terakhir kalinya." nasehat Fany.
Cheryl masih saja menangis tanpa bersuara sedikitpun.Fany memeluk erat sahabatnya itu.Berusaha menstransfer kekuatan padanya.
Tok Tok Tok
Sebuah wajah yang tak asing lagi bagi Fany muncul dari balik pintu. Fany sempat terkejut saat mengetahui siapa yang berada di hadapannya saat ini."Cheryl ...Ryl... lihat siapa yang datang!" Fany menepuk punggung Cheryl dan sedikit memaksanya untuk menengok siapa yang datang.
Sambil menyeka air matanya Cheryl perlahan menengok ke arah yang ditunjuk sahabatnya itu.
Betapa terkejutnya Cheryl saat mengetahui siapa yang datang dan menjenguknya.
__ADS_1
........................................