
Cheryl menggosok gosok matanya. Seakan apa yang dilihatnya hanya halusinasi belaka.
Cheryl meraih tisu untuk menghapus airmatanya.Sekali lagi ia berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi."Fan... please tell me benarkah yang aku lihat ini? Derrel ada di depan aku saat ini?" Cheryl sedikit trauma dengan pengelihatannya.
Derrel pun tersenyum saat kehadiran dirinya diragukan oleh sahabat kecilnya itu
Ia pun menghampiri Cheryl dan tanpa permisi langsung mencubit kedua pipi sahabatnya itu."Nih bukti beneran aku disini." Derrel pun kemudian terkekeh.
"Auch! Sakit!" seru Cheryl cemberut sambil memukul Derrel.
Derrel dan Fany pun tertawa melihat mimik wajah Cheryl yang lucu.
Cheryl pun berniat membalas kelakuan Derrel. Ia hendak menjewer telinga Derrel seperti dahulu sering mereka lakukan sewaktu masih kecil.
Mereka pun kini saling kejar dan tertawa dalam canda .Untuk sesaat kesedihan yang Cheryl rasakan terlupakan.Reuni dadakan kali ini benar-benar tidak diduga Cheryl. Sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak pernah bertemu.
__ADS_1
Fany tersenyum lega akhirnya sahabatnya masih bisa tersenyum dalam kedukaan yang ia rasakan.
..................................................
Tok tok tok
"Iyaa..." sahut Fany ketika pintu kamar Cheryl di ketok oleh seseorang.
"Mobil sudah siap nak. Kita tunggu dibawah ya..." Fany kemudian membuka pintu dan memberi kode pada mama untuk ikut membujuk Cheryl agar ikut ke pemakaman.
"Bagas tidak pergi kemanapun ia tetap ada bersama kita." Cheryl menatap kosong ke depan.
"Ryl...!!" Fany merasa greget dengan sikap Cheryl.Tetapi Derrel memberi isyarat untuk memberikan waktu untuk dia berbicara dengan Cheryl.
Fany dan Mama pun akhirnya mengalah dan memberikan kesempatan untuk Derrel membujuk Cheryl.
__ADS_1
Derrel menyodorkan tisu kepada Cheryl. "Ryl..aku tahu ini berat buat kamu.Berat untuk menerima kenyataan bahwa semua impian kebahagian kalian harus terkubur secepat ini. Tapi semua ini tidak bisa terus kamu sangkal. Kamu harus bisa menerima kenyataan yang ada bahwa Bagas kini telah berpulang." Derrel berusaha memberi pencerahan pada Cheryl.
Airmata Cheryl masih berkumpul di sudut matanya."Aku melihatnya Rel ...Bagas belum mati.Aku bahkan sempat memeluknya erat sesaat sebelum Fany menarik ku untuk ke ruang operasi." jelas Cheryl kekeh dengan pemikirannya.
Derrel kembali menarik napas dalam-dalam."Cheryl ...., aku tanya ya? Kamu sudah lihat sendiri kan tubuh Bagas saat di Rumah Sakit'? Itu benar Bagas kan?" Derrel mencoba untuk menyadarkan Cheryl akan kenyataan yang ada.
Derrel juga bercerita, bahwa Fany sudah memberitahunya tentang kejadian di Rumah Sakit saat Bagas berpamitan dengan Cheryl. Derrel meyakinkan Cheryl bahwa Bagas sengaja menemuinya agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Ia ingin berpamitan untuk menutup cerita mereka dengan sebuah kenangan.
Bagas ingin kehadirannya akan terus dikenang.Walaupun kehilangan dirinya adalah sesuatu yang menghancurkan hati, tapi kepergiannya bukan untuk dilupakan. Melainkan untuk diingat tetapi bukan juga menghambat langkah ke depan, tetapi untuk sebuah kenangan yang akan tersimpan dalam memori.
"Cheryl... ingatlah selalu hari kemarin ada cerita yang telah usai.Hari esok tidak ada yang tahu akan apa yang akan terjadi.Tetapi hari ini adalah sebuah anugrah yang diberikan pada kita untuk melakukan sesuatu yang terbaik yang bisa kita lakukan dalan hidup yang masih dipercayakan pada kita." Derrel berusaha membuka dan menyadarkan pikiran Cheryl.
Cheryl menghapus airmatanya."Yuk Rel... temani aku ke pemakaman." sahut lirih Cheryl.
Derrel tersebut lega."Nah... itu baru Cheryl yang aku kenal tegar dan kuat" Derrel mengoyak rambut Cheryl sambil tersenyum.
__ADS_1
.....................................