
Melihat Fany pulang mengunakan sepeda motor suaminya. Tante Leo langsung menghampiri Fany. "Fan mana om Leo? Cheryl --- kalian sudah bertemu Cheryl? " desak Tante Leo sambil menengok kanan dan kiri.
Fany turun dari motor lalu merangkul Tante Leo.
"Tante gak perlu khawatir kita tunggu Cheryl disini saja .Om Leo dan Darrel masih mengantar Cheryl ke klinik." Fany berusaha menenangkan perasaan Tante Leo.
"Ke klinik? Cheryl kenapa Fan?" kembali mama Cheryl khawatir dengan keadaan anaknya.
Ponsel Fany berdering.
"Sebentar Tante Fany terima telepon dulu." Fany melirik siapa yang menghubungi dirinya. Yang terlihat di layar ponsel tertulis nama Derrel.
"Hallo... Syukurlah kalau begtu. Akan aku sampaikan. Terimakasih infonya Rel." lalu Fany menutup hubungan telepon nya dengan Derrel.
Fany membalikkan badan lalu tersenyum pada mama Cheryl."Tante gak perlu khawatir lagi. Barusan Derrel bilang kondisi Cheryl dan kandungan nya baik-baik saja kok.Hanya kecapean saja."Fany menggenggam tangan mama Cheryl.
Terlihat mama Cheryl menarik napas panjang dan menghembuskannya lega.Kondisi anak semata wayangnya ternyata dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Silakan sarapan Fan. kalau menunggu kedatangan mereka ntar kamu keburu kelaparan." Mama Cheryl mengambilkan semangkok bubur ayam.
"Nanti saja Tan, bareng-bareng saja gak apa-apa." Fany lebih senang makan bersama daripada mendahului kedua sahabatnya.
"Permisi----"
Tante Leo menoleh ke arah suara. Dan betapa terkejutnya ia mengetahui siapa yang datang." Pak Handojo?"
Mendengar nama Bapak Handojo disebut Fany langsung menoleh dan ketika matanya berpapasan ia pun mengangguk sambil tersenyum sopan."Pagi om" kembali pikiran Fany bertanya tanya ada apa ini sampai pak Handojo ayah Bagas datang ke rumah Cheryl.
"Pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan." pikir Fany penasaran.
"Terima kasih Bu, saya baru saja sarapan di rumah."
"Kalau begitu buat makan siang saja ya, biar bi Yanti bungkus kan buat oleh-oleh keluarga di rumah." kemudian mama Cheryl memanggil asisten rumah tangganya untuk membungkus bubur ayam buat Pak Handojo.
Pak Handojo terlihat menarik napas. Ia teringat sekali anaknya paling suka dengan bubur ayam buatan calon mertuanya itu.Ya ..., bubur ayam buatan mama Cheryl sudah banyak yang mengakui kelezatannya.
__ADS_1
Terlihat sedikit senyum tersungging di bibir pak Handojo. Pedih bila ia mengingat tentang Bagas anak sulungnya. Kebahagian yang sudah di depan mata harus direnggut paksa oleh maut.
Fany yang melihat mata pak Handojo berkaca-kaca, menyodorkan sekotak tisu padanya.
"Terima kasih Fan" pak Handojo mengambil beberapa tisu yang disodorkan padanya. Untuk menghapus jejak kesedihan nya.
"Saya datang bermaksud memberikan ini." Pak Handojo memberikan sepucuk surat pada mama Cheryl.
Kini sepucuk surat itu telah berada di tangan Tante Leo mama Cheryl. Ia membolak-balikkan surat yang ada di tangannya saat ini.
"Maaf pak. ini apa ya? Untuk siapa?" tanya mama Cheryl bingung.
Pak Handojo membetulkan letak kacamatanya " Saya sendiri tidak tahu Bu, itu surat apa. Saya menemukan tergeletak di laci meja Bagas saat saya beres-beres ruangan kerjanya. Dalam surat itu tertulis ditujukan pada Derrel dan Cheryl. Mungkin itu surat yang belum sempat tersampaikan dari Bagas untuk Darrel dan Cheryl." jelas pak Handojo. Yang kemudian ia pun berpamitan pulang. Pak Handojo juga sempat menanyakan tentang kandungan Cheryl. Dia pun tersenyum dalam getir." Tidak sangka ya akhirnya kita akan menjadi kakek nenek."
Mama Cheryl pun mengangguk.Semua kejadian ini bagaikan mimpi. Bisa berubah sesukanya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Setelah misinya selesai. Menyerahkan sepucuk surat untuk Darrel dan Cheryl. Pak Handojo pun berpamitan dan melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.
__ADS_1
.....................................