
Beberapa bulan kemudian.
"Hallo Fan ntar sore bisa gak temani aku ke cek up kandungan aku."
"Boleh ntar aku jemput kamu ya." sahut Fany senang akhirnya Cheryl sudah bisa menerima kenyataan dan mulai bisa menjalani hidup secara normal.
"Okay siap!" jawab Cheryl sambil tersenyum. Kemudian hubungan telepon pun terputus.
Hari ini Cheryl terlihat begitu berseri-seri karena hari ini ia akan melihat kembali pertumbuhan bayi yang dikandungnya.
Beberapa kali cek kandungan, selalu saja ada perkembangan baru dari bayi mungilnya yang membuat ia merasa bahagia.
Semua ini tidak lepas dari motivasi dan semangat yang terus-menerus diberikan oleh orang-orang tercinta disekelilingnya. Terutama Darrel. Ia selalu konstan mengingatkan kapan waktu untuk minum vitamin dan jadwal cek kandungan ke dokter.
Sambil mengusap perutnya, Cheryl memegang foto Bagas."Pagi sayang, hari ini jadwal aku untuk cek kandungan. Nanti aku akan kabari kamu ya keadaan baby kita yang terbaru.Aku yakin kalau dia laki-laki pasti gantengnya kayak kamu." Cheryl terdiam memandang foto Bagas yang sedang tersenyum. Tidak terasa mata Cheryl terasa basah.
Tok tok tok
Mendengar pintu kamar diketuk, Cheryl buru-buru meletakan foto Bagas di atas kasur dan menghapus airmatanya lalu membuka pintu kamarnya."Iya bentar. Siapa ya?" sahut Cheryl dari dalam kamar.
Klik.
Suara pintu kamar Cheryl terbuka. Cheryl tersenyum saat mengetahui bahwa Darrel ternyata yang ada di balik pintu.
Darrel mengamati raut muka Cheryl. "Wow kelihatannya lagi bahagia nih. Ada cerita apa nih?" tanya kepo Darrel.
Cheryl tersipu malu. "Gak ada apa-apa, tadi lagi ngeliatin hasil-hasil USG dari bulan ke bulan si baby. Dan selalu ada perubahan baru. Terus berkembang dan tumbuh dengan sehat ya nak." Senyum bahagia Cheryl tampak jelas di wajahnya. Sambil mengusap perutnya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Darrel menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya tertuju pada sebuah pigora foto yang tersematkan foto Bagas. Yang tergeletak di kasur bersama beberapa hasil USG kandungan Cheryl.
Entah kenapa ada perasaan nyeri di dada Darrel. Tanpa disadari tangan Darrel memegang dadanya yang terasa teriris halus. Ia menarik napas dan menghembuskannya untuk mengurangi rasa sakit itu.
Tanpa sengaja Cheryl melihat apa yang dilakukan Darrel. Ia memicingkan matanya untuk meyakinkan apa yang ia lihat.
"Rel, kamu kenapa? Sakit?" tanya Cheryl mendekat dan menyentuh dada Darrel.
"Aku gak apa-apa kok" Darrel berusaha tersenyum.
"Yakin, aku lihat kamu seperti menahan rasa sakit?" selidik Cheryl menatap intens ke arah Darrel.
"Enggak kok. Aku gak apa-apa. Don't worry." Darrel menepuk pundak Cheryl.
Cheryl menatap tajam Darrel ia merasa Darrel menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu tuh gak pernah berubah dari dulu kalau lagi fokus ngerjain sesuatu selalu deh lupa istirahat. Gak baik tau."
Darrel hanya tersenyum datar."Makasih ya ternyata kamu perhatian sama aku."
"Ish ish ish jangan ke GE ER an kamu." ucap Cheryl sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Darrel.
"Ga akan. Aku tahu diri kok di hati kamu hanya ada Bagas seorang."
Suasana jadi hening.
"Aku pamit balik dulu ya Ryl. Ngantuk banget nih. Aku kesini cuman mengingatkan kamu saja kalau hari ini jadwal kamu cek kandungan. Dan maaf aku hari ini gak bisa antar kamu. Bareng Fany saja ya.Nanti aku telpon dia deh minta tolong temani kamu." Darrel menepuk pundak Cheryl sekali lagi.
__ADS_1
"Aku sudah telpon Fany kok tadi." Cheryl mencoba memberitahu Darrel.
"Oh. Okay bye Cheryl take care " Darrel menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Cheryl yang masih termenung heran dengan sikap Darrel. Tanpa menoleh sedikitpun.
......................
Dalam perjalanan menuju ke Klinik.
"Heii Ryl, tumben diam.Ada yang lagi kamu pikirkan?" senggol Fany
"Ada yang aneh dengan sikap Darrel tadi. Baru aja datang gak lama pamitan katanya dia datang hanya untuk ngingetin aku kalau hari ini jadwal aku cek kandungan. Aneh kan?" Cheryl menoleh ke arah Fany meminta dukungan.
"Aneh bagaimana? Dia kan memang biasa ngingetin kamu. Kapan waktu minum vitamin aja dia selalu telepon kamu kan.?" sahut Fany.
"Iya sih tapi kalau hanya untuk ngingetin aja dia biasa hanya melalui telepon bukannya datang ke rumah." Cheryl tetap merasa ada yang aneh dengan kedatangan Darrel tadi siang.
"Ryl, kamu dah baca kan surat dari Bagas untuk kalian. Menurut kamu bagaimana?" pancing Fany.
"Menurut aku kata Bagas itu ada benarnya, Darrel kandidat terbaik untuk menjadi pengganti Bagas dan jadi ayah anak yang kamu kandung. Kamu gak kepikiran apa ntar anak kamu lahir tidak melihat wajah papanya.Aku tahu Bagas memang ayah kandung tuh bayi.Tapi dia kan juga butuh sosok ayah yang nyata di dunia ini.Paham kan yang aku maksud." Fany mencoba membuka hati Cheryl.
Cheryl menarik napas dalam.
"Apa tidak ada sedikttt saja perasaan kamu ke Darrell. Padahal dia itu sangat peduli dengan kamu.' lanjut Fany.
"Fany awas!!" teriak Cheryl sambil menunjuk ke arah seekor kucing yang menyebrang mendadak.
Citttt!!!!
__ADS_1
...................................