SALAH RANJANG (Pria Buta)

SALAH RANJANG (Pria Buta)
Menantu dan mertua.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Tak terasa seminggu sudah berlalu, Hana dan Gibran mau tak mau harus kembali ke rutinitas nya lagi, keduanya kembali pulang karena Gibran harus bekerja.


Hana sebenarnya masih ingin merasakan hidup tanpa beban yang hanya di penuhi cinta nya saja, membuat anak dan begitulah keinginan nya saat ini, bukan ingin bermanja-manja tapi Hana ingin segera mendapatkan momongan, dan honeymoon adalah cara utama nya.


"Kita akan pulang ke rumah mu?." tanya Hana.


Gibran melirik istrinya yang sedang memeluk nya itu.


"Memang nya kemana lagi?, apa kamu merasa tidak nyaman jika kita tinggal bersama ibu?." tanya Gibran.


Dan Hana menggelengkan kepalanya.


"Aku nyaman, dimana ada di dirimu dan di situ aku tinggal, dimana pun tempatnya asal bersamamu aku akan selalu senang." balas Hana sambil tersenyum membuat Gibran langsung mencubit hidung mungil istrinya.


"Sayang!" Hana pura-pura merajuk.


Membuat Gibran kembali tertawa dan langsung mencubit pipi sang istri.


"Kenapa kau selalu menggemaskan di mata ku, cara mu menggoda dengan bibir seksi mu membuat aku gila untuk segera menerkam mu." kata Gibran sedikit berbisik di telinga Hana.


Blus.. layaknya remaja yang baru memulai cinta pipi Hana memerah bak kepiting rebus, mendengar kata-kata suaminya benar-benar membuat nya merinding.


Gibran benar-benar layak di berikan peringkat pertama untuk seorang pria hot di ranjang, ataupun si bibir panas yang selalu mengeluarkan kata-kata godaan untuk nya.


"Terkam saja, aku suka." balas Hana malah sengaja mengeraskan suara nya, membuat Gibran menutup bibir Hana dengan satu jari nya.


"Jangan keras-keras, nanti di dengan orang." kata Gibran.


Membuat Hana tersenyum dan menaikan sebelah alisnya.


"Mana ada yang mendengar, aku tidak melihat siapapun di sini." kata Hana.


"Pak supir?." panggil Hana.


"Saya tidak mendengar nona." sahut supir.


Supir layaknya menjadi seorang pria tuli, dia mungkin akan mulai terbiasa untuk pura-pura tidak mendengar obrolan dua majikan nya yang masih sehangat pengantin baru itu.


"Tuh, dengarkan pak supir tidak mendengar obrolan kita." ucap Hana dengan nada suara yang menggemaskan membuat Gibran tidak tahan langsung melirik supir nya.

__ADS_1


"Berhenti di pinggir dan tutup mata mu sebentar." kata Gibran melihat ke arah spion.


"Baik tuan." sahut supir langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan menutup mata.


Setelah memastikan supir nya sudah menutup mata Gibran langsung menatap Hana, dan di balas dengan tatapan yang sama oleh Hana.


"Apa, na*su ya." kata Hana santai.


Membuat Gibran gemas dan langsung menarik dagu Hana lalu memberikan sebuah ciuman ke bibir Hana.


Hemphh..


Suara itu membuat supir merinding, dia pernah mendengar jika tuan nya itu memang panas di ranjang, itu dia dengar dari nyonya nya yang dulu, yaitu Sandra mantan istri Gibran.


"Astaga seharusnya aku parkir di hotel saja kalau tau begini." batin si supir.


Sedangkan Hana dan Gibran yang baru selesai berciuman itu saling mengusap bibir nya masing-masing, lalu tersenyum.


"Jalan." kata Gibran.


Supir mengangguk lalu mulai mengendarai mobilnya lagi, mobil Gibran kembali membelah jalanan kota yang di penuhi dengan kendaraan yang lalu lalang itu.


Setelah 45 menit akhirnya mobil nya sampai di halaman rumah Gibran.


Dan ya saat melihat Hana yang masuk dengan menggandeng tangan Gibran mata ibu Lisna tidak pernah lepas melihat ke arah tangan Hana yang menurut nya sangat sombong itu.


"Awas saja mungkin waktu itu aku gagal, tapi tidak untuk lain kali." batin ibu Lisna.


"Kenapa baru pulang?." tanya Ibu Lisna.


"Tanpa aku menjawab ibu juga akan tau jawabannya." sahut Gibran dingin.


Membuat ibu Lisna menatap tajam ke arah Hana, tapi dia mencoba untuk mengubah ekspresi nya menjadi biasa saja karena Gibran terus melihat ke arah nya.


"Baiklah, istirahat lah ibu akan memasak kan makanan kesukaan mu." kata ibu Lisna, dia akan melangkah pergi tapi langkahnya tiba-tiba di hentikan oleh Hana.


"Aku bantu ya Bu." ucap Hana sambil berjalan mendekati ibu mertuanya.


"Sayang kamu istirahat aja ya, aku juga mau siapin makanan buat kamu." lanjut Hana sambil tersenyum.


Gibran hanya mengangguk lalu pergi ke arah kamarnya, meninggalkan ibu dan istrinya yang sedang saling melemparkan tatapan tak suka nya.


"Ayolah Bu, apakah ibu tidak mau berdamai dengan menantu kesayangan ibu itu?." ucap Hana sambil tersenyum.

__ADS_1


Ibu Lisna sontak saja memberikan tatapan ketidaksukaan nya pada Hana.


"Diam kamu wanita tidak tau diri, kamu pikir kamu sudah menang?." ibu Lisna tersenyum kecut.


"Kita tidak sedang melakukan tangtangan atau taruhan kan?." Hana menaikkan sebelah alisnya ke atas lalu membalas senyuman kecut ibu mertuanya.


"Ya, kamu bisa menganggap itu adalah tangtangan atau apalah itu, tapi satu hal yang harus kamu tau kalau saya tidak pernah bermain-main dalam hidup ini, dan saya juga akan sungkan untuk menyingkirkan kamu dari kehidupan putra ku." lanjut ibu Lisna menatap Hana tajam.


Hana menggelengkan kepalanya mendengar ucapan mertuanya yang makin kesini makin horor itu.


harta benar-benar telah membuat orang jadi lupa diri, bahkan lupa jika yang di rusak itu adalah kehidupan anak nya sendiri.


"Terserah ibu, tapi kalau ibu mau bermain api maka ibu juga harus siap menanggung konsekuensinya. Kehidupan itu berputar Bu kadang di atas kadang di bawah, ada suka ada duka, dan di saat ibu ingin menghacurkan aku maka di saat itu juga aku akan mendoakan ibu agar bisa hidup lebih baik." balas Hana lalu pergi begitu saja tanpa melihat ekspresi ibu Lisna yang sudah berapi-api.


"Dia pikir dia siapa, aku akan pastikan dia akan membayar semua penghinaan nya pada ku berkali-kali lipat." batin ibu Lisna semakin membenci Hana.


Malam hari nya di meja makan semua orang sudah berkumpul.


Hana mengambilkan makanan untuk suaminya, dan di saat bersamaan juga Ibu Lisna mengambil makanan untuk Gibran.


"Steak spesial untuk suami tercinta." ucap Hana memberikan steak yang dia masak dengan penuh cinta tadi pada suaminya.


Gibran ingin menerima nya, tapi tiba-tiba ibu Lisna datang dengan piring berisikan makanan kesukaan Gibran.


"Ibu tau kamu sejak kecil suka Ayam kecap, kamu pasti suka." ibu Lisna sambil tersenyum di paksakan.


Gibran menatap dua piring dari dua wanita berbeda itu, yang satu dari wanita yang mencintai nya, yaitu istrinya.


dan yang satu nya lagi dari wanita yang melahirkan nya, yaitu ibu nya.


Melihat suaminya yang seperti bingung membuat Hana menarik kembali piring nya, dan tentu hal itu membuat ibu Lisna tersenyum mengejek ke arah Hana.


Tapi tiba-tiba Gibran mengambil piring yang Hana pegang, begitupun dengan piring ibu nya.


"Aku akan makan keduanya karena makanan nya di buat dengan cinta oleh dua wanita yang aku sayangi." jelas Gibran, lalu mulai makan.


"Tapi aku membenci mu." batin ibu Lisna.


"Bisakah seorang ibu tidak merasakan rasa sayang seorang anak?, aku rasa itu mustahil. tapi di hadapan ku sekarang aku melihat tatapan kebencian seorang ibu untuk anak nya." batin Hana.


________


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️


__ADS_2