
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Gibran Hana dan Bagas langsung melihat ke arah pintu.
"Keluarga korban."
"Saya anak nya Dok, bagaimana kondisi ibu saya." tanya Gibran dan Bagas bersamaan.
"Kondisi ibu Lisna kritis tuan, dan sepertinya__" Dokter tidak melanjutkan ucapan nya.
Melihat ekspresi Dokter Gibran dan Bagas mencoba berbesar hati untuk menerima nya, keduanya langsung masuk karena Dokter juga mengijinkan mereka masuk.
Saat Gibran dan Bagas masuk betapa kagetnya mereka melihat ibu Lisna yang kondisi nya sangat mengenaskan.
"Ba..gas.." suara ibu Lisna pelan, tapi meski begitu masih terdengar di telinga kedua putra nya.
"Ini aku Bu, ibu kenapa jadi seperti ini?." Bagas ingin memegangi tangan sang ibu, tapi saat dia melihat ke bawah di saat itu juga Bagas menutup bibirnya karena melihat tangan ibunya yang berlumuran darah.
"Gib..ran.. " panggil ibu Lisna saat melihat Gibran.
Gibran yang semula merasa kehadiran nya tidak di inginkan sang ibu langsung berjalan mendekati sang ibu, lalu mengusap kepala ibunya yang penuh darah itu.
"Aku ada di sini Bu, ibu akan sehat." kata Gibran.
Ibu Lisna meringis saat merasakan sakit yang sangat teramat dahsyat itu, tangan kaki dan tubuhnya tidak bisa di gerakan, saat dia merasa tidak memiliki anggota tubuh.
"Maafkan ibu.. ibu tau kesalahan ibu tidak bisa di maafkan, ibu adalah ibu yang tidak pernah bisa membagi cinta untuk ketiga anak ibu hanya karena ego ibu, ibu yang mencelakakan mu dan membuat mu kehilangan matamu, terlalu banyak kesalahan ibu."
"Jangan katakan itu Bu, aku sudah memaafkan ibu." kata Gibran.
"Terimakasih, dan Gibran." ibu Lisna menjeda ucapan nya. "Apakah ibu boleh meminta sesuatu pada mu?." lanjut ibu Lisna.
"Katakan apapun itu, aku akan melakukan nya." balas Gibran
Ibu Lisna melirik Bagas lalu kembali melirik Gibran.
"Ibu titip Arselia pada kalian, dia hanya punya kalian." kata Ibu Lisna.
"Aku dan Bagas akan melakukan nya, ibu tenang saja." balas Gibran.
"Iya Bu, aku dan kakak akan menjaga Arselia, dia adik kita tentu saja kita akan menjaga nya." Bagas ikut menimpali.
Ibu Lisna tersenyum setelah mendengarkan jawaban kedua putra nya itu, lalu matanya tak sengaja melihat sosok wanita yang berdiri di ambang pintu.
"Hana, kemarilah.. " ucap Ibu Lisna dengan suara nya yang sangat berat.
Hana yang mendengar panggilan ibu mertuanya langsung berjalan mendekat, dan eskpresi Hana sama kaget nya dengan Bagas saat melihat tangan dan kaki ibu Lisna yang memang sangat hancur.
Ibu Lisna akan mengeluarkan suaranya, tapi Hana yang tau itu langsung menyela nya.
"Aku sudah memaafkan semuanya bu, aku tau ibu hanya ingin yang terbaik untuk putra ibu, aku paham." kata Hana.
__ADS_1
Kata maaf memang berat untuk di ucapkan, tapi Hana tidak bisa menyimpan kebencian pada sosok ibu mertuanya.
biarlah yang lalu berlalu dan Hana ingin hidup yang baru dengan memulai nya lagi.
Bu Lisna tersenyum mendengar ucapan Hana yang bisa dengan mudah memaafkan kesalahannya.
meski sebenarnya kesalahan nya itu sangatlah fatal dan susah untuk di maafkan.
"Kau menang, dan aku kalah." lanjut Ibu Lisna.
"Ibu tidak kalah, ibu menang menjadi seorang ibu yang memiliki dua putra yang menyayangi ibu." balas Hana.
Yang sekali lagi membuat senyuman terlihat di wajah yang penuh dengan luka dan darah itu, mungkin inilah akhir dari keegoisan nya, dia bukan hanya kehilangan moment kebersamaan dengan keluarga nya, tapi penyesalan nya juga berhenti karena akibat ulah nya sendiri.
Perlahan ibu Lisna menarik nafasnya, sampai akhirnya tiba-tiba nafasnya terasa berat dan Bu Lisna kejang-kejang.
Hana yang melihat itu menyuruh Bagas untuk memanggil dokter.
"Ibu dengarkan aku, ikutin kata-kata aku ya.." ucap Hana sambil mendekati telinga mertuanya.
"Ayshadu An-la Ilaha illallah.." Hana membantu sang ibu mertua untuk mengucapakan syahadat.
"Aysha__du An-la il_aha..ila_ha illa_llah.." meski terbata-bata Ibu Lisna mengikuti ucapan Hana.
"Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah." Hana kembali mengucapkan syahadat lagi.
"Wa Aysha_du..An_na Muhammada Rasulullah." dan setelah itu Ibu Lisna langsung menutup matanya.
"Ibu Lisna sudah meninggal dunia tuan, maaf." jelas Dokter yang baru selesai memeriksa Bu Lisna.
Gibran terduduk di lantai saat mendengar ucapan dokter, Hana yang melihat itu langsung mendekati sang suami dan memeluk suaminya agar Gibran memiliki kekuatan dan tidak merasa sedih sendirian.
"Kamu nggak sendirian, ada aku, ada Bagas." kata Hana.
"Ibu, sayang.." Gibran tidak mampu melanjutkan ucapan nya.
Dada nya terasa sesak, dan itu membuat air matanya Gibran terus mengalir tidak tertahan.
"Menangis lah jika menangis bisa membuat mu merasa nyaman." kata Hana sambil mengusap punggung suaminya.
Bagas mengusap air matanya, lalu keluar dari ruangan ibunya dan duduk di kursi tunggu.
"Kenapa ibu harus pergi dengan cara seperti ini, sebenarnya berapa banyak kejahatan ibu yang tidak aku ketahui." gumam Bagas sambil menangis.
Dia merasa gagal karena meninggalkan ibu dan adiknya, andai saja dia tidak pergi dari rumah dan bertahan untuk membuat ibu dan adiknya sadar akan apa yang telah mereka lakukan itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Tiba-tiba pintu UGD yang berisi Arselia terbuka, dokter keluar dari ruangan itu.
membuat Bagas langsung berjalan mendekati dokter.
"Bagaimana kondisi nya Dok?." tanya Bagas sambil mengusap air matanya.
"Kondisi pasien sangat mengkhawatirkan tuan, paisen telah keguguran dan pendarahan nya harus segera di hentikan karena itu bisa membuat pasien kehilangan nyawa nya tuan." jelas dokter.
__ADS_1
Jantung Bagas serasa berhenti saat itu juga, adiknya menjadi korban pergaulan bebas, dia telah gagal menjadi kakak yang baik dan perhatian pada adiknya, andai dia tidak mengabaikan semua itu mungkin adiknya akan menjadi adik yang baik, seperti 7 tahun lalu yang menjadi Arselia adik kesayangan nya.
"Lakukan yang terbaik Dok, saya mohon selamat kan adik saya." kata Bagas dengan wajah khawatir.
"Pasien mungkin harus di operasi untuk pengangkatan janin nya karena setelah di analisis janin yang ada di rahim pasien itu sudah masuk ke bulan ke empat." lanjut Dokter lagi.
"Apapun itu, saya mohon lakukan yang terbaik untuk adik saya Dok, saya mohon." lanjut Bagas.
Bagas masuk ke ruangan sebelum Arselia di bawa ke ruangan operasi, Arselia yang melihat kakak nya langsung menangis.
"Kakak."
Tak mampu menahan tangisnya lagi, Bagas menangis sambil menciumi wajah adiknya itu.
"Jangan takut, kamu akan selamat dek." kata Bagas.
"Sakit kak, hiks.. sakit." lanjut Arselia sambil memegangi perutnya.
"Kakak tau, sabar ya Dek, kamu kuat kakak tau adik kakak kuat." lanjut Bagas sambil memegangi tangan Arselia.
"Maafkan aku kak, aku nakal..aku telah membuat kakak kecewa."
Bagas menggelengkan kepalanya, "Jangan katakan itu dek, kamu adalah adik kakak yang cantik kuat dan tetap menjadi Arselia yang kakak sayang, kamu tetap adik kakak." kata Bagas lagi.
"Tuan Pasien harus segera di bawa ke ruangan operasi." ucap suster.
"Kak.."
"Kamu kuat."
"Kakak aku takut!"
"Jangan takut, kakak tau kamu hebat."
Brankar yang di tempati Arselia di dorong ke ruangan operasi, dan di saat bersamaan Hana dan Gibran keluar dari ruangan ibu Lisna.
"Arselia." ucap Hana menutup bibir nya.
"Kakak, tolong aku takut.." ucap Arselia masih memegangi tangan Bagas.
"Kamu kuat, berjuanglah." Gibran mendekati Arselia, lalu mencium kening adik nya.
Arselia menghentikan tangis nya lalu menatap kedua kakak nya.
"Temani aku kak, aku..hiks..takut!"
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
Part sedih🤧
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1