SALAH RANJANG (Pria Buta)

SALAH RANJANG (Pria Buta)
Senyuman terkahir.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Kondisi Arselia samakin drop, tadi saat Hana dan Gibran yang baru selesai makan gorengan mereka melihat Arselia yang muntah darah, dan itu bukan hanya di dalam mulutnya tapi di bagian paha nya pun terlihat banyak darah.


Bagas yang baru sampai di rumah sakit itu melihat Gibran dan Hana yang duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana kondisi Arselia?." tanya Bagas mendekati kakak nya.


Gibran bangkit dari duduk nya, lalu memeluk Bagas untuk yang pertama kalinya.


lama keduanya berpelukan dengan perasaan yang sama-sama sedang bersedih.


"Arselia sedang di periksa dokter, dia muntah darah dan seperti nya pendarahan nya kembali lagi." jawab Gibran lalu melepaskan pelukan nya.


Bagas terduduk di lantai setelah pelukan itu terlepas, dada nya terasa sesak saat mendengar adik yang di dalam ruangan itu sedang merasakan sakit.


"Seharusnya aku tidak meninggalkan nya." ucap Bagas tanpa sadar meneteskan air mata nya.


Hana dan Gibran melihat kesedihan Bagas, tapi bukan hanya Bagas yang sedih dengan apa yang terjadi pada Arselia, Hana dan Gibran pun juga merasakan kesedihan yang sama dengan Bagas.


"Gas, kamu ya ninggalin aku untung aku nggak nyasar." ucap Freya yang tiba-tiba datang dengan wajah seperti kesal.


Freya melirik Hana dan Gibran, dia memang tidak mengenali keluarga Bagas, yang ia tau hanya ibu Lisna yang sering berkunjung membawakan makanan dan Arselia yang tak jarang datang untuk menumpang tidur di kamar Bagas.


"Gas.." panggil Freya.


Hana bangkit dari tempat duduk nya, lalu menarik tangan Freya yang membuat Freya melirik Hana.


"Kakak siapanya Bagas?." tanya Freya.


"Aku kakak iparnya, kamu siapa?" tanya balik Hana.


"Aku Freya, teman sekeligus tetangga kontrakan nya Bagas." sahut Freya.


Hana mengangguk, lalu mengajak Freya untuk duduk di kursi tunggu.


"Biarkan dia sendiri dulu, Bagas perlu waktu sendiri." jelas Hana lagi.


"Kakak benar, kalau begitu aku akan pulang." ucap Freya bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu pulang sama siapa?" tanya Hana.


Freya terdiam lalu melirik Bagas yang terduduk di lantai itu.


"Sendiri, tenang saja kak aku sudah terbiasa kalau pulang sendiri." sahut Freya.


Sebelum pergi Freya melihat Bagas yang terduduk di lantai dengan wajah sedih nya itu.

__ADS_1


"Ini pe**rtama kalinya aku lihat kamu sedih Gas, dan anehnya aku merasa sedih juga." batin Freya, lalu pergi dari rumah sakit.


Hana menatap kepergian Freya dengan senyuman kecilnya, Hana yakin jika Freya adalah gadis yang akan menjadi pelengkap hidup Bagas, apalagi yang dia lihat Freya memiliki daya tarik yang kuat untuk memikat pria seperti Bagas.


Ceklek..


Tiba-tiba pintu ruangan Arselia terbuka, Hana Gibran dan Bagas kompak berdiri dan mendekati Dokter.


"Bagaimana kondisi adik saya Dok?" tanya Hana Gibran dan Bagas bersamaan.


Dokter menarik nafasnya panjang lalu menundukkan kepalanya.


beginilah sulit nya menjadi seorang dokter mereka harus melihat wajah sedih dari keluarga pasien yang menggantungkan harapan besar untuk nya.


"Maaf, tapi saya sudah melakukan yang terbaik tuan, Nona Arselia menunggu kakak-kakak nya di dalam." ucap Dokter, lalu pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di wajah keluarga pasien nya.


Bagas Gibran dan Hana langsung masuk ke dalam ruangan itu, dan ketiga nya syok saat melihat Arselia yang sedang di lap darahnya oleh suster.


"Kak.." panggil Arselia.


"Sakit.." ringisan kecil terdengar di telinga para kakak nya.


Bagas mendekati Arselia dengan wajah yang pura-pura baik saja, dia tidak mau adik nya melihat air mata di wajahnya, dia harus kuat untuk adiknya.


"Kamu kuat dek, bertahan lah." kata Bagas.


Arselia menggelengkan kepalanya pelan.


Gibran yang diam saja langsung memegang tangan adiknya, Gibran mencium tangan Arselia dengan penuh sayang.


"Percaya sama kakak, kamu akan sembuh dek, kalau perlu kakak akan mendatangkan dokter hebat untuk mu, kamu akan sembuh." kata Gibran sambil menciumi tangan Arselia.


Melihat kakak yang pernah dia jahati perhatian dan sayang pada nya Arselia tak sanggup membendung kesedihan nya.


dia menangis dengan apa yang dia rasakan, bukan hanya sakit yang dia rasakan tapi juga apa yang dia dapatkan setelah semua kejahatan nya.


"Aku nggak pantas di sayangi kalian." ucap Arselia.


"Jangan katakan itu lagi, kamu adik kita dan tentu saja kita sayang padamu." Hana yang sedari tadi diam ikut mengeluarkan suara nya.


Arselia menatap ketiga kakaknya, lalu air matanya mengalir tanpa di minta.


"Kak, tolong makamkan aku di dekat ibu, aku nggak mau sendiri." pinta Arselia.


Hana dan yang lain nya kompak menggelengkan kepalanya.


"Jangan katakan itu, kamu akan sembuh." ucap ketiganya kompak.


Uhuk..uhukk..

__ADS_1


Arselia batuk dan langsung keluar darah dari mulutnya, melihat itu Bagas dan lain nya melotot, ketiganya langsung panik dan ingin memanggil Dokter.


"Jangan kak, jangan panggil Dokter, aku tidak kuat lagi, rasanya sakit kak, sakit." kata Arselia sambil memegangi perutnya.


"Dek.." Bagas menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku kak, maafkan aku yang nakal dan tidak menjadi adik yang baik." ucap Arselia lagi.


"Kita sudah memaafkan mu, kamu harus sembuh." Hana Gibran dan Bagas kompak menjawab nya.


Arselia tersenyum, dan sampai akhirnya dia merasakan rasa sakit yang sangat teramat sakit, melihat itu Hana dan yang lain nya saling bertukar pandangan.


Gibran menggelengkan kepalanya.


"Jangan sayang, adik ku akan baik-baik saja." kata Gibran menolak apa yang di pikirkan Hana.


Sedangkan Bagas yang melihat Arselia terus mengatakan rasa sakit nya membuat hatinya hancur, dia juga merasakan rasa yang sama meski tidak sesakit yang di rasakan adik nya.


"Hana, tolong bantu Arselia." ucap Bagas yang kembali mengeluarkan air mata nya.


Hana memegang tangan Gibran, tapi Gibran langsung menepis tangan Hana dan memeluk Arselia.


"Kakak akan menyelematkan mu, kakak mohon bertahanlah." kata Gibran lagi.


"Kak, aku__ su.." Arselia tidak mampu melanjutkan ucapan nya, tangan nya langsung memegangi perutnya matanya melihat ke atas, dan melihat itu Bagas langsung memalingkan wajahnya.


Dia tak kuasa melihat adiknya yang kesakitan seperti itu.


"Kak, aku mohon Arselia sedang kesakitan." meski berat Bagas memilih melepaskan.


Gibran menggelengkan kepalanya.


"Tidak Bagas, dia adik kita kamu ingin dia pergi seperti ibu?." Gibran masih kekeh ingin menyelamatkan Arselia.


"Kak.." panggil Arselia sambil menatap Gibran.


"Kamu akan baik-baik saja." kata Gibran dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.


"Tolong lepaskan aku kak, aku benar-benar tidak sanggup menahan sakit ini, tolong.." ucap Arselia lagi.


Hana memegang tangan suaminya, yang membuat Gibran langsung menjauhi Arselia dan menangis di sopa.


Dan dengan di bantu oleh Hana Arselia mengucapkan syahadat nya sampai akhirnya dia menutup matanya untuk selama-lamanya.


Bagas memeluk tubuh kecil adik kesayangan nya itu, lalu menciumi wajah Arselia yang nampak tersenyum di hari terakhir dia di dunia.


"Kamu cantik dek, kakak menyayangi mu, maafkan kakak yang sudah membiarkan mu memilih jalan yang sama dengan ibu, kakak janji akan melakukan apa yang kamu minta, kakak akan melakukan nya." ucap Bagas sambil memeluk tubuh adiknya yang sudah meninggal itu.


_______

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️


__ADS_2