
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah pulang dari hotel Hana dan Gibran memilih pindah, seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya.
dan sekarang keduanya sedang dalam perjalanan ke rumah baru nya.
"Ini masih jauh nggak?." tanya Gibran.
"Nggak kok, tinggal beberapa menit lagi nyampe." sahut Hana sambil tersenyum.
Untuk masalah rumah baru memang sengaja di pilih oleh Hana, dan untuk Gibran sendiri dia akan setuju dengan keinginan sang istri karena di mana pun dia tinggal asalkan bersama Hana di situlah dia akan merasa bahagia.
Mobil kembali berjalan membelah jalanan kota, sesekali Hana tersenyum karena mulai saat ini dia mungkin akan hidup nyaman, memiliki keluarga yang bahagia bersama orang yang di cintai nya.
"Semoga saja setelah ini Ibu dan semua musuh Mas Gibran berhenti menganggu kehidupan suamiku." batin Hana berharap.
Setelah melewati perjalanan yang cukup menyita waktu yaitu 45 menit akhirnya mobil yang di kendarai Gibran berhenti tepat di halaman rumah sederhana.
"Kita akan tinggal di sini?." tanya Gibran.
Hana mengangguk.
"Iya, bagus kan." sahut Hana sambil tersenyum.
Keduanya keluar dari mobil, lalu berjalan bersamaan ke teras rumah baru nya.
"Ini aku beli dengan harga murah loh, tapi meski begitu rumah nya masih bagus dan juga nyaman." jelas Hana sambil mengambil kunci di tas nya.
Hana memang sudah menyiapkan rumah baru nya beberapa hari yang lalu, dan rencana pindah itu sudah Hana pikirkan cukup lama, karena Hana yakin jika ibu mertuanya itu pasti akan selalu memiliki rencana untuk membuat nya berpisah dengan Gibran.
Sebelum rencana mertuanya berhasil maka dari itu Hana memilih meninggalkan kemewahan, menurutnya lebih baik hidup sederhana di bandingkan hidup penuh dengan harta tapi tidak bisa tidur nyenyak.
"Aku semakin mencintai mu sayang." kata Gibran.
Hana terkekeh pelan.
"Aku tau itu, suamiku yang tampan ini pasti sangat mencintai ku." sahut Hana penuh percaya diri.
"Dan aku menjadi menginginkan mu." lanjut Gibran.
__ADS_1
"Aku juga menginginkan mu, ayo masuk kita akan bercinta di rumah baru." kata Hana sambil membuka pintu rumah nya.
Keduanya masuk ke dalam rumah, Gibran mengerutkan keningnya melihat perabotan yang sudah lengkap dan itupun tidak terlihat bekas.
"Kamu menyiapkan nya sendiri sayang?." tanya Gibran.
"Iya dong, kalau bukan aku siapa lagi." sahut Hana menyebalkan.
"Kapan?."
"Beberapa hari yang lalu, aku kan mau bikin surprise buat kamu."
"Sayang.."
Hana tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya, dan tanpa di suruh Gibran langsung masuk ke pelukan sang istri tercinta nya.
Tidak ada kata lagi untuk mengungkapkan bagaimana perasaan nya sekarang, Gibran benar-benar semakin kagum dengan ketulusan cinta istrinya yang sangat besar itu.
"Aku malu, seharusnya aku bisa lebih peka dan lebih perduli pada mu, pada pernikahan kita, tapi aku? aku malah masih bersembunyi di balik rasa takut, aku benar-benar suami yang tidak bisa di andalkan." ucap Gibran di pelukan Hana.
Tanpa terasa air matanya jatuh karena Gibran sadar jika sikap nya itu kurang tegas.
bahkan untuk ibunya yang jahat saja Gibran masih tidak bisa membuat ibunya jera untuk berbuat jahat pada nya.
"Aku mohon jangan katakan itu lagi, aku menikahi seorang pria baik yang pemberani, bertanggung jawab dan juga tampan, kamu sempurna di mata ku jadi tetap seperti apa yang aku kenal, jangan pernah menganggap kamu lemah karena aku tau kalau suami ku yang tampan ini adalah suami terbaik." jelas Hana sambil tersenyum.
Tangan nya terulur untuk mengusap air mata di wajah suaminya, lalu Hana mengusap bibir suaminya dengan satu jarinya.
"Kamu adalah pria terbaik pertama yang aku kenal, dan aku mencintai mu." lanjut Hana lagi.
Tanpa banyak bicara Gibran langsung menarik tubuh Hana ke pangkuan nya, lalu mengecup singkat bibir Hana.
"Terimakasih." hanya kata itu yang bisa mewakili rasa bahagia nya.
"Jangan katakan terimakasih terus, kamu tau aku sudah terlalu sering mendengar kata itu dari bibir mu." sahut Hana sambil tersenyum. "Bagaimana kalau sekarang kita menghabiskan siang ini di kamar? aku rasa kita masih saling merindukan." lanjut Hana dengan alis terangkat sebelah ke atas.
Mendengar itu Gibran langsung tersenyum, tentu saja dia akan melakukan nya, kucing mana yang bisa tahan jika di beri pancingan dengan ikan segar?.
Meninggalkan Hana dan Gibran yang sedang memberikan kenangan pertama di rumah baru dengan percintaan di ranjang.
di tempat lain tepatnya di rumah Gibran nampak Ibu Lisna yang kaget karena kedatangan beberapa orang suruhan Gibran.
__ADS_1
"Jangan bawa barang-barang putra ku, dia tidak boleh meninggalkan aku begitu saja." kata ibu Lisna dengan wajah kesal nya.
"Maaf Nyonya, ini sudah perintah tuan Gibran untuk membawa semua barang-barang nya ke rumah baru nya."
"Kalau begitu berikan aku alamat baru nya."
"Sekali lagi maaf nyonya, kami hanya menerima perintah tuan dan nyonya, kami tidak bisa memberitahu hal itu pada siapapun termasuk Nyonya."
"Berani nya kalian! aku ibu nya majikan kalian!"
Tapi ucapan ibu Lisna tidak ada yang mendengarkan, Mereka bukan orang suruhan Gibran melainkan orang-orang yang di sewa Hana, dan tentu saja mereka akan bersikap seperti itu karena mereka mendapatkan perintah langsung dari Hana untuk tidak terlalu menanggapi mertuanya.
Melihat beberapa koper yang di bawa orang suruhan putra nya Bu Lisna semakin meradang, dia kesal bahkan sampai menjatuhkan beberapa barang terdekat nya, seperti sekarang dia sudah memecahkan guci kesayangan nya yang mahal kerena emosi nya.
"Sialan!!! wanita jala*g itu sudah mencuri putraku!" suara ibu Lisna terdengar menggelegar di rumah nya.
Seperti dia salah telah menyepelekan seorang Hana, ternyata Hana tidak selemah wanita-wanita yang pernah mengisi hidup Gibran, Hana lebih kuat dari siapapun.
"Dia pikir dia sudah menang, dia salah aku akan kembali mengambil Gibran dari wanita itu karena Gibran adalah milik ku, uang nya." lanjut Ibu Lisna.
Suara bising di rumah nya membuat Arselia yang tidak enak badan itu menjadi keluar dari kamarnya.
dan saat melihat banyak barang yang pecah Arselia langsung mendekati ibunya.
"Ada apa?." tanya Arselia.
"Kakak mu pindah, wanita itu sudah membawa kakak mu pergi." sahut ibu Lisna.
Arselia menghela nafas nya panjang, entahlah dia malas untuk ikut campur kedalam masalah ibunya itu, tanpa alasan yang jelas dia pun juga ikutan harus membenci kakaknya, bukan kah itu gila.
"Ibu selesaikan saja masalah ibu, aku akan kembali ke kamar." kata Arselia sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Tugas sekolah nya banyak di tambah tubuh nya yang sedang terserang demam membuat Arselia memilih tidur saja.
biarlah Ibunya itu menyelesaikan masalah nya sendiri.
Bu Lisna mengepalkan tangannya melihat Arselia yang pergi, setelah Bagas yang pergi dan memilih kehidupan baru nya kini dia tinggal sendiri.
"Apa aku salah? aku melakukan semua ini demi anak-anak ku, Bagas, Arselia mereka kehidupan ku."
_________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️